by

Pentingnya Pendidikan Perdamaian Bagi Generasi Z dan Milenial Indonesia

Oleh: Lisa Hanim

Seiring dengan berkembangnya zaman, teknologi baik komunikasi maupun juga informasi juga turut berkembang pesat. Maka tidak dapat dipungkiri bahwa generasi-generasi bangsa kita juga turut serta mengikuti perkembangan zaman tersebut. Disamping itu, Indonesia merupakan negara dengan masyarakatnya yang majemuk yaitu dapat dilihat dari berbagai macam keragaman yang ada mulai dari suku, ras, budaya dan bahkan agama.

Sehingga masing-masing dari mereka juga mempunyai cara hidup dan cara pandang yang beragam. Hingga tidak jarang kita menjumpai maraknya tindakan-tindakan atau perilaku yang berbau kekerasan yang disebabkan oleh adanya perbedaan-perbedaan tersebut diantara lapisan masyarakat. Bahkan tindak kekerasan tersebut serasa sudah menjadi hal yang lumrah atau biasa karena kerap diabaikan begitu saja.

Berangkat dari hal tersebut, maka sudah semestinya kita juga membutuhkan sebuah terobosan atau solusi agar dapat meminimalisir hingga menghapus pandangan bahwa tindakan kekerasan (dalam bentuk apapun) tidak seharusnya dilakukan. Adapun solusi tersebut adalah dengan mengindahkan kepada pendidikan damai (peace education). (Nurcholish, 2018) Karena pendidikan perdamaian tersebut merupakan kebutuhan yang sangat mendasar dan urgen untuk dilaksanakan terutama bagi generasi-generasi penerus bangsa. Yang dimana bahkan penduduk Indonesia sendiri didominasi oleh generasi penerus bangsa.

Menurut hasil Sensus Penduduk tahun 2020 (SP2020) oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dalam Kompas.com menyatakan bahwa penduduk Indonesia di dominasi oleh generasi Z dan generasi milenial. Generasi Z sendiri mencapai 27,94 persen dari penduduk Indonesia, sedangkan generasi milenial mencapai 25,87 persen. (Idris, 2020)

Generasi Z adalah penduduk yang lahir dengan rentang tahun 1997 sampai dengan 2012, sedangkan generasi milenial lahir dengan rentang tahun 1981 sampai dengan 1996. Adapun generasi tersebut merupakan generasi yang akan menjadi penerus bangsa Indonesia kedepannya, terutama pada generasi Z tersebut.

Berbicara mengenai pentingnya pendidikan perdamaian bagi generasi bangsa, maka tidak dapat terlepas dari berbagai bentuk kekerasan yang belakangan ini semakin gencar terjadi dalam berbagai lini kehidupan.

Bahkan dewasa ini, tindak kekerasan tidak hanya terjadi dalam bentuk menyakiti secara fisik saja, melainkan juga sering terjadi dalam bentuk non-fisik yang berupa menyakiti secara psikis/psikologis dan verbal. Dan hal-hal tersebut bahkan tidak terlihat secara langsung, oleh karenanya sering diabaikan dan dianggap hanyalah persoalan sepele.

Padahal hal-hal tersebutlah yang justru sering terjadi dan dialami oleh para generasi bangsa kita. Yang tanpa sadar telah melakukan kekerasan terhadap orang lain seperti kepada teman atau kepada orang-orang disekitarnya.

Adapun bentuk kekerasan yang seringkali dilakukan yakni berupa kekerasan secara verbal dan psikologis seperti memaki, menghina, mempermalukan, memanipulasi, mengejek, merendahkan, merundung (bullying) dan lain-lain.

Yang lebih parahnya lagi adalah mereka justru seringkali acuh tak acuh dan bahkan tidak sadar telah melakukan tindak kekerasan tersebut atau malah berlindung dibalik kalimat “alah, gitu aja baper”.

Baca Juga: Pendidikan Damai Sebagai Pembentukan Karakter Anak di Sekolah

Tanpa disadari, justru dari sinilah yang akan menjadi cikal bakal terciptanya masyarakat yang acuh tak acuh terhadap sesamanya serta kekerasan akan menjadi kebiasaan nantinya.

Dan jika kita terus menerus menutup mata, maka bagaimana nasib generasi bangsa kita kedepannya. Karena jika dibiarkan terus-menerus maka akan sangat mungkin justru dapat memicu tindak kekerasan lainnya, yang menjadikan bangsa kita akan menjadi semakin jauh dari kata damai.

Dari hal-hal yang keliatannya sepele tersebut, maka kita dapat belajar bahwa sekecil apapun dan sesepele apapun suatu hal yang kita lakukan/perbuat kepada orang lain, hendaknya kita perlu memikirkannya terlebih dahulu dan memposisikan diri kita diposisi orang lain tersebut.

Seperti yang dalam perspektif Khonghucu itu ada yang disebut dengan motto hidup para penganut Khonghucu yakni “apa yang diri sendiri tidak inginkan, jangan diberikan kepada orang lain”. Jadi ketika melihat sesuatu, apapun itu kita harus mampu self introspection yakni melihat dari dirinya terlebih dahulu.

Karena ketika ia melihat dari dirinya dahulu, maka ia akan mempunyai atau tumbuh rasa empati yakni bagaimana jika kita berada diposisi mereka. Jadi lebih menggunakan pendekatan melihat dari diri sendirinya terlebih dahulu.

Dengan demikian, edukasi mengenai pentingnya pendidikan damai bagi masyarakat kita harus dan sangat urgen untuk dilakukan. Agar kedepannya terutama para generasi bangsa dapat bertindak, berkata dan berperilaku dengan lebih baik lagi serta mampu mengedepankan kepada nilai, sikap, asas-asas yang dapat mengindahkan kepada perdamaian.

Yakni agar dapat menjadi pribadi yang mampu menghargai, menghormati, mencintai perdamaian, mampu menerima perbedaan dan mampu bersikap toleran serta dapat menjadi agen perdamaian untuk bangsa kita kedepannya. Yakni dapat dimulai dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-harinya.

Seperti mulai belajar menghargai diri sendiri dan orang-orang disekitarnya, hati-hati dalam bertutur kata dan bertindak serta  berkomitmen untuk senantiasa hidup dengan damai.

Maka dengan begitu lama-kelamaan akan dapat menciptakan generasi penerus bangsa yang melek akan pentingnya pendidikan perdamaian (peace education) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Lisa Hanim, Mahasiswa Studi Agama-Agama UIN Sunan Ampel Surabaya

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed