Pentingnya Menanggulangi Remaja yang Patah dan Bermasalah

Opini164 Views

Oleh: Dr. Anil Dawan M.Th

(Artikel ini didedikasikan untuk Membangun Kesadaran Baru Para Pemerhati Generasi Untuk Memperhatikan Remaja dan Persiapan Launching Global Teens Study yang akan membahas Hubungan Remaja dengan Imannya, Kitab Sucinya dan Lingkungannya)

Hari Remaja Internasional (International Youth Dayyang jatuh setiap tanggal 12 Agustus merupakan pengingat untuk memperhatikan para remaja. Hari Remaja Internasional dicetuskan pertama kali oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1998 tepatnya pada tanggal 12 Agustus. Banyak negara besar di dunia yang tergabung dalam PBB merasa perlu hari khusus yang dijadikan momen merayakan hal-hal terkait remaja.

Salah satu isu remaja belakangan ini adalah rasio remaja yang bunuh diri yang cukup signifikan. Data tahun 2018 menunjukan rasio bunuh diri penduduk Indonesia adalah 2,9 per 100.000 orang. Indonesia menduduki peringkat 65. Beberapa kasus bunuh diri yang masuk catatan sejarah adalah fenomena dua remaja yang bunuh diri di Blitar, Jawa Timur dalam waktu berdekatan menggambarkan rapuhnya ketahanan remaja masa kini serta lemahnya dukungan sosial dari lingkungan yaitu keluarga inti.

Peristiwa mengejutkan berulang menimpa dua anak remaja yang mengakhiri hidupnya karena persoalan keluarga. Kedua anak remaja yang sejatinya masih memiliki masa depan panjang, namun harus berakhir hidupnya karena tindakanya sendiri. EPA usia 16 Tahun, yang baru saja lulus SMP ditemukan meninggal dunia di kamar kostnya (29/5/2018).

Semula ada dugaan kuat bahwa korban mengakhiri hidupnya karena merasa kwatir tidak diterima di sekolah favorit lantaran sekolah itu berada di luar wilayah domisili (zonasi), akan tetapi hal tersebut dibantah bahwa penyebab utamanya adalah masalah keluarga. Bantahan itu dikuatkan oleh 10 (sepuluh) surat yang dibuat korban sebelum mengakhiri hidupnya. Sementara satu remaja lagi, BI usia 15 tahun warga desa Kanigoro Kabupaten Blitar ditemukan tewas oleh ayahnya, diduga karena keputusasaan korban yang melabel dirinya sebagai anak nakal dan depresi karena sering menyakiti hati orang tuanya (31/52018). Berikutnya peristiswa mengenaskan terjadi pada FV (15), siswi SMA di Blitar yang nekat bunuh diri di kelas awal pekan lalu, sempat merekam dua video menggunakan ponselnya sesaat sebelum mengakhiri hidupnya.

Dari beberapa bukti sementara pendukung, remaja ini mengakhiri hidupnya karena putus cinta. Selain itu kita masih menemukan bukan hanya fenomena remaja yang mudah patah dan kalah dalam menghadapi hidup. Namun juga kejahatan jalanan Remaja yang makin meresahkan warga. Di Jakarta adanya tawuran antar pelajar, Ragam kejahatan atau kriminalitas jalanan oleh sekelompok anak muda yang membuat warga resah berupa tawuran antarsekolah atau antargeng, pencurian, pembegalan, hingga pembacokan yang bahkan menimbulkan korban jiwa. Awal tahun ini, pembacokan akibat tawuran antarkelompok remaja terjadi di Cengkareng, Jakarta Barat.

Polisi menangkap sembilan pelaku yang mayoritas merupakan pelajar SMP. Mereka membacok korban salah sasaran yang juga berusia belasan tahun hingga tewas pada 5 Januari 2022. Korban salah sasaran atau korban yang diserang secara acak dan tanpa sebab juga masih berulang terjadi. Di Yogyakarta, fenomena kejahatan jalanan dengan sasaran acak yang dikenal dengan istilah klitih kembali menghebohkan pada akhir 2021. Kepolisian Resor Sleman, Yogyakarta, menangkap enam pelaku klitih berusia belasan tahun yang menganiaya dan melukai korban tanpa sebab (Kompas,23/01/2022).

Generasi yang Mudah “Patah” Dan Bermasalah

Mencari penyebab peristiwa bunuh diri dan kejahatan yang dilakukan oleh anak remaja sejatinya dapat ditemukan dari aspek psikososial tahap perkembangan remaja. Pada usia remaja (12-18 th) anak remaja diperhadapkan pada pencarian identitas diri. Pada usia ini anak remaja mengalami banyak perubahan secara fisik dan berusaha mengembangkan diri baik secara intelektual, emosi, konsep serta perilaku menurut perangkat nilai dan sistem yang ada serta dapat dipertanggungjawabkan secara sosial.

Pada periode sosial tersebut, remaja cepat berinteraksi dengan lingkungan sosial sekitarnya. Mereka sangat cepat berinteraksi dengan perkembangan lingkungan sekitarnya, maka tidak heran jika merekapun mudah dipengaruhi. Celakanya dalam era perkembangan teknologi informasi sekarang ini, referensi anak remaja sangat bergantung pada informasi yang dipeoleh melalui berita, media social via internet. Dunia maya telah menjadi referensi hidup, referensi moral dan nilai-nilai. Referensi tersebut harus difilter dengan daya kritis dahulu sebelum diterapkan begitu saja, karena tidak semua mengandung hal-hal yang positif. Jika salah mengambil referensi, maka salah juga pengambilan keputusan untuk menyelesaikan masalah hidup.

Baca Juga: Kiat Menghindari Bullying Bagi Remaja

Anak remaja juga semakin menyukai teman-teman atau kelompok seusianya. Mereka senang membentuk group-group yang cocok dengan kebiasaan, kemampuan, dan kesukaan mereka. Hal inilah yang menyebabkan mengapa relasi mereka dengan orang tua dan keluarga makin berkurang. Akibatnya begitu remaja memiliki masalah, mereka tidak lagi berbagi kepada orang tua dan keluarga mereka. Mereka tidak lagi menjadikan keluarga sebagai tempat rujukan utama untuk mencari solusi dan pemecahan persoalan kehidupan.

Apalagi ketika persoalan remaja terjadi karena keluarga, maka akhirnya menambah beban stres dan terakumulasi menjadi depresi karena mereka tidak mampu memecahkan masalah, tidak sanggup menanggung beban mental yang berat. Akibatnya mereka menjadi generasi yang mudah patah dan bermasalah, karena 3 (tiga ) sebab yaitu pada masa pencarian identitas diri, tidak memiliki rujukan hidup dan nilai pada hal-hal positif, dan relasi renggang dengan orang tua dan keluarga sehingga tidak memiliki tempat mencari solusi terhadap masalah.

 

Menumbuhkan Harapan, Membangkitkan Asa

Pengasuhan orang tua kepada anak remaja yang didasari dengan cinta yang tulus adalah kunci memahami remaja. Orang tua dan lingkaran keluarga perlu intensif memberikan perhatian untuk mendampingi anak-anaknya agar mereka tidak merasa sendirian dan mampu menghadapi persoalan hidup dengan lebih tegar. Memfasiltasi aktifitas remaja yang kreatif dan produktif dalam rangka menjadikan masa-masa produktif remaja untuk dapat menggali dan mengembangkan kemampuan mereka.

Ekspresi dan kreasi adalah bagian dari hal berarti yang mereka miliki yang patut dikembangkan dan difasilitasi pelaksanaanya melalui  jalur ekstrakurikuler di sekolah. Kegiatan melalui sanggar-sanggar remaja di tingkat desa, kecamatan ataupun kabupaten dan kota bisa berupa kegiatan kebudayaan melalui seni dan olahraga karena kegiatan yang sangat digemari remaja untuk unjuk potensi dan talenta mereka.

Pengembangan potensi dan kompetensi melalui pengembangan kepemimpinan kapasitas remaja akan mendorong pengembangan diri yang positif  dan mampu melatih citra diri yang positif sekaligus keterampilan untuk mempengaruhi teman-temanya dengan aktivitas yang produktif. Membangun kerjasama tim bersama rekan-rekan sebaya dan latihan pengambilan keputusan menjadi sarana yang mendorong daya tahan dan daya juang untuk memecahkan masalah-masalah yang remaja hadapi sehari-hari.

Akhirnya penguatan spiritual melalui ibadah sesuai dengan iman keyakinan remaja menjadi fondasi yang kokoh bagi remaja untuk merajut masa depan tanpa mengalami “patah” oleh kekecawaan dan kesulitan yang dihadapi. Peran tokoh agama seperti pendeta, dan guru-guru, konselor, serta pemerhati remaja di sekolah mampu melakukan pastoral konseling diantaranya membangun hubungan timbal balik (interpersonal relationaship) sebagai konselor dengan konselenya untuk membantu remaja mengidentifikasi masalah dan membangun kekuatan iman dan spiritualitas mencari solusi untuk masalahnya. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan tidak lagi ada remaja yang putus harapan dan mengakhiri hidupnya, karena sejatinya masa remaja adalah masa yang paling indah dan menyenangkan.

Aktifitas pengembangan kepemimpinan kepada anak remaja juga menjadi penting, karena lazimnya remaja sudah mulai ingin mengembangkan kapasitas kepemimpinan mereka. Selain mampu memahami dan mengenali potensi diri yang mereka miliki, mereka juga dapat memahami keanekaragaman teman-temannya, dan selanjutnya mampu membuat kegiatan yang kreatif dengan mengaplikasikan potensi kepemimpinan itu dalam kegiatan-kegiatan kontribusi social yang bisa dimulai dari gereja dan aktivitas kegiatan remaja.

Besar harapan, potensi remaja ini tidak dimatikan atau dikecilkan, sebaliknya diberi ruang oleh para orang tua dan para pemerhati remaja dan Lembaga agama sehingga mereka bisa kelak menjadi pelanjut kepemimpinan di sekolah dan di masyarakat di masa yang akan datang.

Dr. Anil Dawan M.Th

Manajer Faith and Development Wahana Visi Indonesia dan Anggota Tim Panitia Launching Global Teens Study Barna, Alpha, Christian Vision dan Wahana Visi Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *