by

Peningkatan Literasi, Vaksin Hadapi Diskriminasi dan Intoleransi

Kabar Damai I Jumat, 15 Oktober 2021

Jakarta I kabardamai.id I Diskriminasi dan intoleransi, khususnya terkait kehidupan keagamaan, masih terjadi di Indonesia. Menag Yaqut Cholil Qoumas mengaku memberikan perhatian besar dalam persoalan ini.

Dilansir dari laman Kemenag, Gus Yaqut menilai salah satu solusi mengatasi persoalan ini adalah peningkatan literasi.

“Ini (peningkatan literasi) menjadi vaksin bagi kita untuk menghadapi faham-faham yang keras, khususnya diskriminasi dan intoleransi keagamaan,” tegas Menag Yaqut saat menerima Audiensi Komisioner Komnas Perempuan, di kantor Kemenag, Jakarta, Selasa, 12 Oktober 2021.

Audiensi ini membahas tentang “Hak Perempuan pada Keyakinan Minoritas”. Hadir, para Staf Khusus dan Staf Ahli Menag, serta Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama, Nifasri.

Dari Komnas Perempuan, hadir Ketua Komnas, Andy Yentriyani, bersama Olivia Salampessy, Dewi Kanti, Alimatul Qibtiyah, Veryanto Sitohang, Nahe’i Rahi, Dahlia dan Triana Komalasari.

Menag mengajak Komnas Perempuan bersinergi dalam peningkatan literasi publik. Menurutnya, yang dibutuhkan saat ini adalah aksi bersama dalam mencerahkan masyarakat.

Baca Juga: TIK Sebagai Sarana Pemersatu, Mencegah Intoleransi dan Menerima Keragaman

“Kita sama-sama tahu persoalan yang ada. Mari sama-sama kita cari solusinya dengan baik dan bijaksana,” ajak Menag Yaqut, dikutip dari kemenag.go.id (14/10).

“Mari kita perbanyak forum, untuk meningkatkan literasi atas persoalan yang kita rasakan. Literasi pengetahuan adalah kunci toleransi,” imbuhnya.

Sebelumnya, Ketua Komnas Perempuan Andy Yentriyani  menyampaikan keinginan sejumlah pemeluk agama di luar enam agama yang banyak dianut di Indonesia, terkait pemenuhan hak-hak adminsitrasi kependudukan mereka. Andy juga menyampaikan persoalan Ahmadiyah di Sintang.

Persolannya lainnya, adalah terkait kebijakan seragam di lembaga pendidikan. Bagi Andy, ini menyentuh sisi perempuan. Dari sisi gerakan budaya, penutup kepala di Indonesia itu memiliki makna beragam.

“Dari pada terjebak pada penyeragaman, kita mencoba melihat dari Budaya, bahwa Bangsa Indonesia beragam, busana itu bukan identitas politik beragama,” kata Andy.

Andy mengaku pihaknya terus berupaya menggelorakan semangat pengelolaan keragaman Indonesia dengan baik, utamanya keragaman pandangan dalam dunia pendidikan.

 

Latih Pendidik Inklusi

Sementara itu, untuk terus meningkatkan kualitas Madrasah Inklusif, khususnya terkait layanan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), memberikan penguatan pelatihan bagi para pendidik inklusi.

Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah, Muhammad Zain, menilai pelatihan ini sangat strategis untuk melahirkan calon-calon pendidik inklusi yang dapat meningkatkan kualitas pendampingan pembelajaran di madrasah bagi anak berkebutuhan khusus.

“Direktorat GTK akan terus dan selalu mendampingi program Madrasah Inklusif,” ujarnya di Jakarta, Rabu, 13 Oktober 2021.

Zain menandaskan, Direktorat GTK terus berjuang untuk memberikan akses pendidikan untuk ABK agar bisa mengurus diri sendiri dan tidak menjadi beban keluarganya.

“Kita harus terus mendampingi ABK dengan membuka akses pendidikan yang seluas-luasnya. Sehingga, ABK bisa mandiri,” tegas Zain, dikutip dari kemenag.go.id (14/10).

Zain berpesan kepada para penggiat dan pendidik inklusi untuk terus melakukan terobosan besar guna merawat pendidikan inklusif. “Semoga tahun depan, kita bisa melakukan intervensi program pendidikan inklusif, sebagai penunjang untuk memperkuat madrasah inklusif,” ungkapnya.

Kasubdit Bina GTK Raudlatul Athfal Siti Sakdiyah, menambahkan, kegiatan ini menjadi bagian dari wujud kehadiran pemerintah dalam memberi kesempatan kepada ABK untuk mendapatkan layanan pendidikan dari para GPK (Guru Pendamping Khusus).

“Didampingi Forum Pendidik Madrasah Inklusif (FPMI) dan INOVASI, GTK telah memiliki 50 Fasilitator Nasional yang siap menebarkan virus kebaikan dalam melayani dan mendampingi ABK pada madrasah inklusif. Hal ini membuktikan kesiapan membangun kualitas madrasah inklusif, di Kementerian Agama sebagai rumah para disabilitas,” terang Sakdiyah. [kemenag.go.id]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed