by

Penggunaan TIK dengan Bijak Guna Mencegah Konflik SARA di Indonesia

Oleh: Daendra Tri Warzuqi

 

Dewasa ini, teknologi komunikasi dan informasi telah berkembang secara signifikan di semua aspek kehidupan masyarakat. Hal ini berkakibat pada semakin derasnya arus komunikasi dan informasi di seluruh dunia tanpa memandang batas, jarak, tempat, ruang, dan waktu. Sebelumnya, manusia hanya dapat berkounikasi secara lisan saja, tetapi saat ini sarana berkomunikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti e-mail, media sosial, telepon, dan sebagainya.

Pengaplikasian teknologi komunikasi dan informasi dalam kehidupan bermasyarakat bertujuan untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang ada sehingga tercapai sebuah tujuan yang diinginkan sehingga dapat saling menguntungkan satu sama lainnya.

Teknologi komunikasi dan informasi dapat dijumpai sejak zaman pra-sejarah pada manusia purba. Pada masa pra-sejarah, masyarakat masih belum mengenal bahasa dan tulisan sehingga komunikasi yang terjadi di antara mereka hanya melalui isyarat tubuh atau bahasa isyarat. Kemudian, masyarakat menyampaikan informasi melalui lukisan-lukisan yang mereka buat di gua. Lukisan-lukisan tersebut biasanya berisi aktivitas manusia yang dilakukan oleh mereka, seperti berburu, aktivitas memasak, lukisan yang menggambarkan hewan buruan, aktivitas bermain, dan aktivitas-aktivitas lainnya. Walaupun masih sangat sederhana, lukisan tersebut banyak memberikan informasi sejarah mengenai kehidupan manusia purba.

Perkembangan ini berlanjut ketika manusia memasuki babak baru, yaitu masa sejarah. Pada masa ini, terjadi evolusi di bidang komunikasi dan informasi yang membuat masyarakat mengenal aksara. Diawali dari Bangsa Sumeria yang menggunakan huruf Piktograf atau aksara paku pada millennium 3000 SM. Dilanjutkan oleh Bangsa Mesir Kuno yang memakai Hieroglif dalam sistem penulisan aksaranya pada periode 2900 SM. Awalnya, masyarakat menulis huruf di atas batu atau lempengan tanah liat yang dipahat sedemikian rupa. Kemudian, pemanfaatan serat pohon papyrus oleh Bangsa Mesir Kuno pada abad ke 500 SM membuat masyarakat beralih menggunakannya sebagai kertas untuk menulis media dan informasi yang lebih kuat dan fleksibel. Selain itu, pada 105 M Bangsa China juga berhasil menemukan kertas dari serat bambu yang masih kita gunakan hingga saat ini.

Seiring berkembangnya peradaban manusia, banyak penemuan-penemuan baru yang lahir, termasuk di bidang teknologi komunikasi dan informasi. Penemuan telepon oleh Alexander Graham Bell pada tahun 1877 adalah tonggak sejarah bagi dunia komunikasi. Masyarakat yang sebelumnya hanya dapat bertukar surat dan mengirimkan telegram untuk berkomunikasi yang memakan waktu lama, akhirnya dapat terhubung langsung dengan teknologi telepon. Inovasi dan penelitian yang terus dilakukan menghasilkan teknologi baru dalam perkembangan telepon, yaitu smartphone atau ponsel pintar. Ditambah akses internet yang gampang membuat masyarakat dapat terhubung dengan mudah di seluruh dunia.

Seyogyanya, teknologi komunikasi dan informasi yang semakin modern dengan hadirnya ponsel pintar membuat masyarakat dapat memanfaatkannya untuk hal-hal yang positif, seperti membangun relasi, menambah ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Namun, teknologi tersebut rawan disalahgunakan oleh beberapa kelompok tertentu yang akhirnya dapat menyulut konflik di tengah masyarakat, khususnya konflik SARA yang sering terjadi di Indonesia sebagai akibat dari kehidupan yang plural. Oleh sebab itu, penggunaan teknologi komunikasi dan informasi saat ini harus memperhatikan prinsip kehatia-hatian.

Sejatinya, manusia adalah makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan individu lain untuk mencapai tujuan tertentu. Sifat sosial ini sudah diterapkan sejak zaman manusia purba yang hidup berkelompok di dalam semua aktivitasnya, seperti berburu dan mengumpulkan makanan untuk bertahan hidup. Masyarakat yang hidup berkelompok rentan terjadi gesekan, baik itu di dalam maupun di luar kelompok yang berakhir pada munculnya konflik. Lawrence di dalam bukunya yang berjudul War Before Civilization: the Myth of the Peaceful Savage meyebut bahwa konflik masyarakat telah terjadi sejak zaman pra-aksara. Hal ini dibuktikan dengan penelitian arkeologi yang menghasilkan penemuan fosil manusia yang terbunuh karena perang, senjata-senjata, dan lukisan berbentuk batu di dalam gua yang menceritakan pertempuran.

Baca Juga: ‘Cyberbullying’ Perundungan Modern Di Era Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Memasuki masa modern, konflik yang terjadi di dalam masyarakat semakin kompleks. Apalagi semakin mudahnya masyarakat mengakses informasi yang ada di seluruh dunia membuat pengaruh-pengaruh yang ada ikut masuk dalam kehidupan masyarakat. Banyak dari informasi tersebut mengandung berita-berita bohong (Hoax) yang masuk tanpa disaring terlebih dahulu. Ditambah kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam membuat arus informasi yang masuk tersebut rentan menimbulkan konflik. Apalagi di dalam anggota masyarakat tidak mempunyai rasa solidaritas yang tinggi.

Indonesia adalah negara yang kaya, baik itu dari sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun kebudayaan yang ada. Dengan berbagai macam perbedaan yang dimiliki, Indonesia menjadi rentan disusupi arus informasi bohong yang dapat memecah belah bangsa. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin melesat di era Industri 4.0 ini membuat lalu lintas internet semakin tinggi. Tidak semua masyarakat menggunakan prinsip kehati-hatian dalam memanfaatkan teknologi tersebut. Masih terdapat kelompok tertentu yang memanfaatkan kondisi yang ada untuk menyebarkan berita-berita yang dapat menyulut konflik, khususnya konflik SARA demi kepentingannya sendiri.

Munculnya berita-berita bohong (Hoax) sebagai akibat dari dampak negatif perkembangan teknologi komunikasi dan informasi tidak dapat diberhentikan 100 persen penyebarannya. Hal ini disebabkan berita bohong telah menjadi bagian dari arus kehidupan manusia. Hal yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah mengurangi atau meminimalisir arus informasi yang salah sehingga tidak bergejolak lebih tinggi.

Dari sisi psikologis, informasi yang rentan membuat konflik di masyarakat dapat ditangani dengan teori konstruksi sosial Lev Vygotsky. Pada teori ini, ilmu pengetahuan merupakan bagian dari konstruksi sosial. Hal ini didasari oleh penyelidikan, pengalaman, dan pendidikan yang menjadi metode konstruksivisme. Interaksi yang terjadi pada individu secara langsung masuk pada situasi sosial sehingga Vygotsky percaya bahwa subjek yang dipelajari berpengaruh pada proses belajar. Karena itu, masyarakat sebaiknya memosisikan diri secara netral terhadap arus informasi yang diterimanya dan menahan diri untuk tidak membagi informasi secara sembarangan.

Suatu konflik yang muncul sudah pasti memiliki sebab yang datang dari luar atau dalam anggota masyarakat sehingga langkah di atas dinilai tepat untuk digunakan dalam mencegah konflik menyebar lebih luas dibandingkan menghukum pelaku konflik itu sendiri. Disaat masyarakat dibekali pengetahuan dan dapat menggunakan informasi yang didapat dengan bijak maka permasalahan yang timbul tidak akan menyebar dan berujung pada timbulnya konflik. Dengan kata lain, pemerintah harus menekankan langkah preventif dibandingkan represif dalam penyelesaian konflik yang terjadi di masyarakat. Selain itu, dengan membekali masyarakat pengetahuan mengenai manajemen informasi yang baik juga dapat meminimalisasikan terulangnya konflik yang ada sehingga masyarakat dapat hidup dengan aman.

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang hidup dalam pluralisme. Artinya, di setiap sendi kehidupan masyarakat berdampingan erat dengan perbedaan, baik itu suku, agama, maupun ras sehingga dibutuhkan suatu hal yang dapat mempersatukan setiap perbedaan yang ada. Untuk itu Pancasila hadir di dalam masyarakat Indonesia sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan hidup berlandaskan ideologi Pancasila maka secara otomatis arus informasi yang masuk akan tersaring dan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Dengan demikian, permasalah yang terjadi tidak akan menyebabkan konflik berkepanjangan di masyarakat.

 

Oleh: Daendra Tri Warzuqi, Siswa SMAN 1 Pontianak

Diolah dari berbagai sumber

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed