by

Pengaruh Cyberbullying di Kalangan Remaja dan Anak-anak

Oleh: Aydina Minerva H

Pada jaman yang serba modern dan canggih ini, siswa di sekolah dituntut  untuk lebih aktif dalam pelajaran, sehingga mereka dapat mengetahui hal-hal lebih luas sebelum atau sesudah guru terangkan di dalam kelas. Oleh karena itu, dibutuhkan refrensi-refrensi buku, artikel atau jurnal-jurnal yang dapat mendukung kegiatan belajar para siswa. Dalam hal inilah peran internet dibutuhkan untuk mendapatkan materi-materi pelajaran agar dikuti dengan mudah dan efisien.

Semenjak pandemi Covid-19 melanda dunia, yang membuat sulitnya interaksi secara langsung anatara satu orang dengan orang lainnya. Keadaan ini memaksa segala kegiatan dilakukan secara daring, termasuk kegiatan pembelajaran di sekolah baik siswa maupun guru dipaksa untuk ‘melek’ terhadap perkembangan internet yang semakin hari semakin pesat.

Hal inilah yang membuat internet semakin marak digunakan. Meningkatnya penggunaan internet ini beriringan dengan meningkatnya penggunaan media sosial. Media sosial digunakan oleh berbagai kalangan terlebih di kalangan remaja dan anak-anak. Penggunaan media sosial ini membawa dampak positif dan negatif, salah satu dampak negatifnya adalah cyber bullying atau perundungan maya.

Dengan kata lain anak akan lebih sering mengakses gawai dan internet. Untuk menjadikan internet sebagai tempat bermain dan belajar yang aman bagi anak-anak diperlukan komitmen yang serius dan kerjasama berbagai pihak dari pemerintah maupun non pemerintah, termasuk peran dari orangtua dan anak yang harus menjadi garda terdepan dalam melindungi diri dari bahaya cyberbullying yang ada di internet

Perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi juga mempengaruhi perilaku masyarakat. Jika zaman dulu muncul istilah “mulut mu harimau mu” telah berubah menjadi “jarimu harimau mu”. Dari jari-jari mungil inilah orang-orang memposting kata-kata hinaan, ujaran kebencian, vulgar, hoax, dan berita bohong yang merugikan orang lain.

Kasus paling sering ditemukan adalah cyber bullying melalui sosial media hingga sang korban mengalami depresi. Cyber bullying ini menjadi fenomena baru, terutama dikalangan anak-anak berusia remaja. Cyber bullying lebih kejam dibandingkan bullying karena meninggalkan jejak digital seperti foto, video, dan tulisan. Dampak cyber bullying juga tergolong dahsyat karena mampu mengguncang psikologis seseorang.

Cyberbullying adalah tindakan negatif yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok tertentu dengan cara mengirimkan pesan teks, foto, gambar meme, dan video ke akun media sosial seseorang dengan tujuan untuk menyindir, menghina, melecehkan, mendiskriminasi bahkan mempersekusi individu.

Berdasarkan hasil data statistik, sebagian besar pelaku cyberbullying didominasi oleh remaja. Cyberbullying merupakan fenomena yang sering terjadi di Indonesia dan telah menjadi gejala umum. Bentuk dari cyberbullying adalah ejekan, ancaman, hinaan, ataupun hacking, perilaku berulang yang ditujukan untuk menakuti, membuat marah, atau mempermalukan mereka yang menjadi sasaran.

Fenomena cyberbullying banyak bermunculan dan akibat fatal dari tindakan ini adalah bunuh diri. Akan tetapi cyberbullying yang terdapat di Indonesia masih dianggap sebagai hal yang sepele.

Cyberbullying lebih mudah dilakukan daripada kekerasan konvensional karena si pelaku tidak perlu  berhadapan  muka  dengan orang lain yang menjadi targetnya, namun cyberbullying meninggalkan jejak digital – sebuah rekaman atau catatan yang dapat berguna dan memberikan bukti ketika membantu menghentikan perilaku salah ini.

Korban yang terkena cyberbullying juga jarang yang melaporkan kepada pihak  yang  berwajib,  sehingga banyak orang tua yang tidak mengetahui  bahwa  anak-anak mereka terkena bullying di dalam dunia maya. Sebagian  besar  dari  kita hanya menggetahui bullying yang dilakukan secara langung atau bertemu langsung dengan target (sebutan untuk seorang korban) bullying menggunakan kontak fisilk maupun verbal. Namun sekarang ini, bullying tidak hanya terjadi dikehidupan nyata saja, bullying sekarang  juga  terjadi  di  dunia internet atau cyber.

Bullying yang terjadi di internet atau cyber dijuluki dengan cyberbullying. Masalah cyberbullying ini muncul dikarenakan intensitas penggunaan internet yang meningkat dan munculnya media sosial, yang sering  diakses  para  siswa. Cyberbullying sama dengan bullying yang terjadi pada umumnya, yaitu sama-sama mengintimidasi   ataupun mengganggu orang yang lemah, cyberbullying ini pada umumnya banyak terjadi dimedia sosial.

Perbedaan antara Cyberbullying dengan bullying adalah tempat di mana  seorang  pembully  atau mobbing (julukan untuk satu kelompok pem-bully) melakukan intimidasi, ancaman, pelecehan, dll terhadap  target.  Cyberbullying adalah kejadian ketika seorang anak atau remaja diejek, dihina, diintimidasi, atau dipermalukan oleh anak atau remaja lain melalui media internet,  teknologi  digital  atau telepon seluler.

Motif para remaja melakukan tindakan cyberbullying adalah: ketidaksukaan terhadap person atau pribadi seseorang, bermaksud menyindir dengan kalimat-kalimat negatif yang kurang etis dan kasar, bertujuan untuk menghibur agar para user atau pengguna internet dapat tertawa, perasaan dengki dan hasud yang menimpa diri remaja, dan merasa bahwa dirinya lebih baik dan berkualitas dibanding orang lain sehingga beranggapan bahwa tindakan cyberbullying adalah hal yang wajar. Penelitian ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi bagi pengembangan ilmu psikologi dan konseling, khususnya pada pengembangan kognitif remaja serta pencegahan dan treatment yang harus dilakukan.

Cyberbullying dianggap   valid   bila   pelaku   dan korban  berusia  di  bawah  18  tahun dan secara hukum belum dianggap dewasa.  Apabila  salah  satu  pihak yang terlibat (atau keduanya) sudah berusia di atas 18 tahun, maka kasus yang terjadi akan dikategorikan sebagai  cybercrime  atau cyberstalking.

Namun, apabila anak tersebut belum mencapai 18 tahun,   maka hal ini termasuk dalam perkara anak nakal. Menurut Undang-Undang nomor 3 tahun 1997 tentang peradilan anak menyebutkan bahwa, orang yang dalam  perkara  anak  nakal  adalah anak yang telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai  18 (delapan  belas)  tahun dan belum pernah kawin. Cyberbullying  lebih  kepada kekerasan  yang  menuju  kepada psikis seseorang, sehingga orang tersebut menjadi malu dan tersudutkan.  Kekerasan  simbolik jauh lebih kuat dari pada kekerasan fisik, maka dari itu kekerasaan simbolik menjadi hal yang menakutkan bagi setiap kehidupan setiap individu.

Bentuk-bentuk cyberbullying tersebut, yaitu cyberbullying direct attact dan Cyberbullying by proxy. Bentuk cyberbullying  disini  berbentuk tulisan yang langsung ditujukan terhadap korban, bisa melalui pesan langsung atau pun timeline di- facebook atau twitter. Cyberbullying by proxy  bentuk  cyberbullying    ini berbeda dengan yang pertama pada bentuk ini account seseorang diambil alih  dan  semua  informasi  bisa diganti-ganti tanpa sepengetahuan pemilik account.

Itulah berbagai macam bentuk cyberbullying di media sosial Dapat  dilihat  di  sini  bahwa cyberbullying  yang  diperoleh  siswa remaja tidak hanya dalam bentuk direct attact. Mereka juga mendapatkan bullying dalam bentuk proxy. Hal tersebut menandakan bahwa pelaku lebih pintar dalam hal teknologi  informasi,  atau pengetahuan dalam dunia  teknologi informasi mereka sudah di atas rata- rata  daripada  korban,  sehingga mereka dengan mudah membobol akun.

Bullying terjadi secara online, korban bisa merasa seperti diserang dari mana-mana, bahkan di dalam rumahnya sendiri, seperti tidak ada jalan untuk keluar. Cyberbullying juga punya dampak yang tak kalah menyiksa dari bullying fisik, karena menggunakan medium teknologi seperti internet, cyber bullying dapat terjadi bahkan kapan saja tanpa mengenal waktu dan tempat.

Perasaan ditertawakan, dilecehkan atau diejek oleh orang lain dapat membuat seseorang tidak ingin membicarakan atau mengatasi masalah tersebut. Dalam kasus ekstrim, cyberbullying bahkan dapat menyebabkan seseorang mengakhiri nyawanya sendiri. Cyberbullying dapat mempengaruhi korban dengan berbagai cara, tetapi tentunya masalah ini dapat diatasi dan orang-orang yang terdampak juga dapat memperoleh kembali kepercayaan diri dan kesehatan mental mereka.

Adapun dampak yang terjadi dari cyberbullying, ialah depresi hingga keinginan bunuh diri korban cyber bullying akan merasa terluka, marah, takut, tidak berdaya, putus asa, terisolasi, malu, dan bahkan merasa bersalah pada dirinya sendiri. Jika ini terjadi berulang-ulang dan bertambah parah, si korban bisa berpikiran untuk bunuh diri. Kesehatan mental sampai terganggu, korban cyber bullying akan memiliki risiko lebih besar untuk menderita stress, depresi, kehilangan percaya diri, cemas, dan gangguan post traumatic stress disorder (PTSD) pada orang dewasa.

Hal ini tentunya akan berdampak pada stimuli sistem kekebalan tubuhmu yang menjadi terganggu. Menarik diri dari lingkungan sosial, kondisi psikologis korban cenderung mengalami kecemasan dan ketakutan. Mereka tidak ragu menarik diri dari lingkungan sosial. Contohnya, banyak kasus bullying di jejaring sosial yang dialami anak sekolah. Akhirnya membuat sang anak depresi, mengisolasi diri karena malu, dan memilih putus sekolah.

Dikucilkan di lingkungan tempat tinggal, Meskipun cyberbullying dilakukan melalui internet atau media sosial, tetap saja orang-orang yang hidup di kehidupan nyata bisa melihatnya. Mereka bisa melihat secara langsung komentar-komentar jahat yang menyerangmu. Bahkan, orang-orang ini bisa ikut menjauhimu atau bahkan menyerangmu di kehidupan nyata.

Akhirnya, si korban bukan hanya terkena cyberbullying, tapi juga bullying secara fisik dari lingkungan sosial. Secara mental korban akan merasa kesal, malu, bodoh, bahkan marah. Secara emosional korban akan merasa malu yang sangat amat mendalam sehingga menutup diri dan kehilangan minat pada hal-hal yang disukai. Secara fisik korban akan merasa lelah (kurang tidur) atau mengalami gejala sakit perut dan sakit kepala.

Beberapa penjelasan di atas dapat diketahui bahwa cyberbullying sudah banyak terjadi di Indonesia. Namun, anak-anak yang menerima cyberbullying di Indonesia hampir tidak ada yang menceritakan hal tersebut ke orang tua atau melaporkannya kepihak yang berwajib. Jadi, cyberbullying di Indonesia masih tidak muncul dikalangan masyarakat awam yang tidak mengetahui dan mempunyai media sosial. Oleh karena itu, sampai saat ini belum ada data statistik yang konkret tentang anak yang terkena kasus cyberbullying  di Indonesia.

Misalnya  dalam  kasus cyberbullying, seorang individu lebih sering bertemu dengan dunia maya daripada dengan dunia nyata, dan di lingkungangnya seorang individu tersebut mempunyai sifat pemarah karena ia merupakan anak tunggal. Seseorang yang sifatnya pemarah selalu   mengungkapkan   kemarahan secara langsung maupun tidak langsung di dunia maya, dengan menghina atau mengolok-olok orang yang  ia tidak suka. Jadi, habitus atau kebiasaan merupakan tindakan dan prilaku yang diciptakan oleh kehidupan sosial. Salah satu contoh kasus cyberbullying di Indonesia sebagai berikut ;

Salah satu kasus cyber bullying menggemparkan di dunia yang dialami oleh Amanda Todd. Awalnya Amanda mengenal orang asing melalui internet ketika duduk dibangku SMP. Setelah berkomunikasi lama dan intense hingga akhirnya dekat, kenalannya ini membujuknya untuk mengirim video bugil. Akhirnya Amanda rela merekam dirinya melalui videocam dan menunjukkan payudaranya. Malangnya, ternyata orang asing tersebut mengambil foto topless Amanda dan mengajaknya live sex.

Dirinya diancam akan dibunuh jika tidak menuruti permintaan orang tersebut. Anehnya orang kenalan dari dunia maya mengetahui identitas Amanda. Penolakan gadis belia ini membuat foto-foto bugilnya disebarkan melalui internet. Foto Amanda pun menjadi buah bibir di sekolah, lingkungan rumah, dan keluarganya. Ia tak kuasa menahan depresi akut hingga memutuskan bunuh diri.

Kejadian diatas tentunya tidak boleh dibiarkan dan terus berulang, berikut pencegahan tindak kasus cyberbullying agar hal yang serupa tidak terulang kembali mengingat dampak cyberbullying yang bisa berakibat fatal, mulai dari penurunan performa akademis sampai tindakan bunuh diri, agar menghimbau masyarakat bisa lebih bijak lagi dalam menggunakan media sosial dan memperhatikan untuk lebih peduli dengan apa yang mereka ingin tunjukkan di media sosial.

Orangtua harus mampu membangun kemampuan anak menghadapi situasi sulit dan berisiko di media sosial. Selain itu, orangtua juga harus membekali anak dengan kemampuan menilai dirinya sendiri dan kondisi media sosial yang mereka gunakan. Hal ini akan berdampak baik terhadap kemampuan anak untuk memulihkan kondisi psikologi mereka usai mengalami cyberbullying. Untuk itu, orangtua juga harus mengoptimalkan perannya dengan tetap konsisten mendampingi anak, memberikan contoh yang baik bagi anak, dan memberikan penguatan yang positif bagi anak peran orangtua sangat penting untuk mendukung dan memberikan  pendampingan selain psikolog atau lembaga yang bersangkutan.

Baca Juga: Cyberbullying, Bagian dari Cybercrime yang Terjadi Akibat Perkembangan TIK

Mereka yang menjadi pelaku bullying di media sosial tidak memiliki etika sehingga tidak bisa membedakan bagaimana menyampaikan kritik, saran, dan bullying. Salah satu cara agar anak dapat bertahan dan pulih setelah mengalami cyberbullying, yakni dengan membangun mindset understand your value karena ketika kita tahu nilai dan kekuatan yang kita miliki, maka kita tidak akan membiarkan orang lain melabeli diri kita. Dan berikut beberapa cara agar remaja maupun anak-anak tidak menjadi pelaku cyberbullying ;

Jika berbicara mengenai bullying, selama ini kebanyakan orang hanya fokus terhadap korban yang dibully saja. Mulai dari diberikan pendekatan, sampai kenyamanan untuk memulihkan psikologis korban. Sedangkan para pelaku bullying hanya diberikan hukuman yang bisa membuat mereka jera. Padahal, pelaku bullying sejatinya juga harus diberikan metode pendekatan yang sama. agar para pelaku bisa menyadari kesalahan yang sudah mereka perbuat. yberbullying adalah salah satu hal yang harus dikhawatirkan oleh orangtua, karena anak bisa menjadi korban, atau justru menjadi pelaku cyberbullying. Namun, bukan hal yang tidak mungkin untuk mencegah anak menjadi pelaku cyberbullying, jika orangtua terlibat dan menyadari masalahnya.Untuk menghindari tindakan ini, yaitu ;

Tetapkan batas waktu dan internet, Sangat penting bahwa rumah menjadi tempat yang paling aman bagi setiap anggota keluarga. Orangtua perlu mewaspadai setiap pergaulan, aktivitas, hobi, dan mengontrol cara anak mengakses berbagai platform media sosial. Membatasi akses ke Internet untuk apa yang diperlukan, seperti untuk pekerjaan sekolah dan beberapa waktu luang adalah ide yang tepat. Orangtua juga dapat meletakkan komputer dan laptop di area umum rumah, alih-alih di kamar tidur anak.

Dengan cara ini, orangtua dapat dengan mudah memeriksa dan membimbing anak dalam menavigasi ke situs web yang aman dan ramah anak. Mengajarkan anak cara menggunakan media sosial yang sehat, salah satu cara terbaik untuk mencegah cyberbullying adalah membuat remaja benar-benar memahami cara kerja berbagai platform media sosial. Ketika Mama mulai memberikan ponsel kepada anak, ini memberikan anak akses tanpa batas ke Internet.

Maka penting bagi orangtua untuk mempelajari seluk beluk media sosial. Kemudian meluangkan waktu untuk membimbing anak dan remaja muda dengan benar seputar menggunakan Internet dan media sosial dengan cara yang sehat. Jaga komunikasi agar tetap konsisten dan terbuka Latih komunikasi dua arah dalam keluarga, terutama tentang masalah internet dan media sosial. Ini mungkin waktu terbaik untuk mendiskusikan aturan, menetapkan batasan, dan menyepakati batasan tertentu dengan remaja mama terkait penggunaan dan akses ke Internet. Perlu meluangkan waktu untuk menjelaskan dengan jelas pada anak tentang apa yang terjadi ketika ia menyalahgunakan hak istimewa teknologinya.

Buat anak menyadari tentang apa yang harus dilakukan dan siapa yang harus didekati untuk meminta bantuan tentang apa pun yang membuatnya merasa tidak aman, menjengkelkan, atau melihat hal yang tidak pantas ketika menggunakan media sosial. Jelaskan pada anak efek cyberbullying bagi korban, Efek dari cyberbullying atau bullying, secara umum, dapat menghancurkan korban dan dapat berlangsung seumur hidup. Sangat penting bagi orang tua untuk mengajari remaja muda, untuk mengenali seperti apa bentuk dan rasanya cyberbullying.

Sebagai orangtua, orang tua memainkan peran yang jauh lebih besar dalam membentuk remaja dengan nilai-nilai seperti pengaturan diri, empati, dan rasa hormat terhadap orang lain, untuk dapat menghindari dan menghentikan cyberbullying. Alih-alih menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bermain media sosial dan terlibat dalam percakapan yang tidak sehat dengan pengaruh buruk, doronglah anak untuk mengarahkan energi ekstra itu untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan dan bermanfaat. Misalnya anak mengikuti webinar dengan orang-orang baru di komunitas yang bisa menjadi pengaruh baik baginya, atau melakukan berolahraga di luar ruangan. Itulah beberapa cara pencegahan agar anak maupun remaja tidak menjadi pelaku cyberbullying.

Cyberbullying adalah tindakan yang merugikan orang lain baik secara mental maupun fisik. Akan tetapi cyberbullying lebih cepat menyerang pada mental seseorang karena mereka dipermalukan ataupun diolok-olok seenaknya sendiri tanpa pandang bulu. Bentuk dari cyberbullying dikategorikan menjadi dua cyberbullying direct attact dan cyberbullying  by  proxy. Cyberbullying sebenarnya sama dengan bullying pada umumnya. Perbedaan antara cyberbullying  dan bullying  adalah  tempat melakukannya. Cyberbullying mengunakan alat perantara seperti handphone, atau media sosial untuk mengintimidasi   seseorang, sedangkan bullying tidak menggunakan perantara namun langsung bertemu atau berhadapan dengan korban.

Masalah cyberbullying ini muncul dikarenakan intensitas penggunaan internet yang meningkat dan munculnya media sosial, yang sering  diakses  para  siswa. Mengakses dunia maya merupakan sebuah habitus (kebiasaan) yang dilakukan para siswa selain  mereka belajar. Intensitas penggunaan dunia maya para siswa dalam satu hari mereka mengakses minimal 6 jam. Mereka mereka akan menerima dampak negatif akibat terlalu sering mengakses dunia maya, yaitu para remaja menjadi malas belajar, serta dampak paling buruk mereka akan menerima cyberbullying.

 

Oleh: Aydina Minerva Humairah, Siswi SMAN 1 Pontianak

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed