by

Pendidikan Sosial Budaya “Jalan Alternatif” dalam Mengurai Konflik Papua

-Opini-4 views

Oleh: Dorince Mehue

Papua memiliki sumber Daya Alam yang sangat kaya dan terbaik (tambang emas,   tembaga, gas berskala dunia , termasuk potensi hutan, panorama alam dan kekayaan  flora dan fauna yang hebat. Manusia Papua memiliki kebudayaan mencapai 276 kelompok suku bangsa dan bahasa  serta hidup dipesisir pantai, gunung, lembah, daerah rawa-rawa, wilayah aliran sungai  dan laut.

Hubungan-hubungan sosial terasa akrab antar satu kelompok dengan kelompok lain.  Hubungan sosial ini didasari pada kesamaan sejarah, asal usul, dan satuan kampung. Pada beberapa kelompok suku bangsa, jabatan adat terhubung langsung dengan  sumber daya alam hutan, tanah, air, dan seterusnya. Posisi struktur seperti inilah  yang biasanya memudahkan munculnya perawatan Sumber Daya Alam secara  konsisten.

Orang asli papua masih menempati kampung halamannya sebagai rumah utama yang  sangat membanggakan, penuh keakraban dan sering kali spirit kampung mendominir  untuk bergerak maju untuk kompetensi yang lebih luas.

Sumber Daya Alam yang besar dan raksasa ini tidak mempunyai korelasi langsung  dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Istilah yang sering digunakan  adalah : Orang Papua mati kelaparan diatas kekayaannya sendiri.

Para Pemimpin yang hebat baik di instansi vertikal dan otonom belum kuat  memproyeksi pentingnya Sumber Daya Manusia yang dibutuhkan sesuai “Kekuatan  Potensi Sumber Daya Alam dan Tantangan Lokal Papua“.

Baca Juga: Dorin Mehue: Perempuan Papua Simbol Perdamaian Tanpa Pengaruh Kepentingan Pribadi

Dikotomi wilayah (pantai, gunung, lembah, pesisir pantai dan seterusnya) menjadi  modal sosial yang bergerak ke arah yang tidak sehat, terutama berujung pada  munculnya Korupsi, kolusi dan nepotisme dan pergerakan birokrasi yang tidak sehat.

Sikap tidak percaya terus muncul sangat kuat baik diantara orang papua dan orang  papua, orang papua dengan non papua. Keadaan ini ikut melemahkan daya dorong  yang kuat pada orang papua, untuk berkonsentrasi pada pemanfaatan maksimal  ruang-ruang pembangunan yang telah disediakan.

Ada upaya-upaya yang disengaja oleh kelompok-kelompok tertentu untuk  mengarahkan mobilisasi, membentuk cara berpikir kelompok strategis (pemuda,  mahasiswa) untuk berkiblat ke kesalahan masa lalu (sejarah masa lalu Papua dalam  Negara Kesatuan Republik Indonesia). Keadaan ini ikut melahirkan “benturan  ideologi” yang akut. Bahkan sedang menuju pada titik yang mengkhawatirkan.

Kesempatan Papua

Posisi tawar kita dalam payung hukum undang-undang otonomi khusus harus menjadi  “Kekuatan tersendiri untuk kesejahteraan orang Papua”. Kewenangan yang selama  ini, tidak diurai kedalam perdasi dan perdasus. Termasuk juga pentingnya evaluasi  otsus 20 tahun pertama untuk mngetahui tingkat keberhasilan, tingkat kelemahan  dan langkah-langkah strategis ke depan seperti apa.

Papua harus memanfaatkan putra-putri papua yang baru pulang menyelesaikan studi  baik dalam & luar negeri untuk mengisi pelbagai kekosongan pembangunan di Papua.  Bahkan kelompok cendekiawan ini menjadi kelompok “pengecualian” di perhatikan,  untuk pembangunan Papua 20 tahun otsus berikutnya.

Pemerintahan Presiden Jokowi dan Kabinet masih konsisten memberi perhatian bagi  pembangunan Papua, maka momentum ini juga harus dimanfaatkan maksimal. Perjuangan Papua menjadi tuan dan nyonya di negara sendiri harus dikawal Bupati dan Wakil Bupati, Walikota dan Wakil Walikota 100% Papua. DPRP harus 90% orang Papua dan  10% orang non Papua.

 Ancaman dari luar :

Pelanggaran HAM BERAT PAPUA dari tahun 1963-2000, menjadi Isu Seksi yan kemudian dipolitisir dan isu ini mulai bergerak didalam maupun luar negeri. Belum maksimalnya & efektifnya format dialog antara Papua Diaspora dan pemerintah terutama dalam mengajak mereka ikut berkontribusi terhadap pembangunan Papua.

Budaya sebagai identitas orang papua sedang menuju “Peti Mati”, Budaya kerja keras telah bergeser akibat berbagai bantuan pemerintah dan swasta yang tidak direncanakan secara baik, contoh: beras raskin dan bantuan sejenisnya. Budaya orang papua sedang menuju kehancuran dan budaya baru bergerak sangat kuat terencana dan masif, Suatu hari kita semua menjadi orang yang ikut menguburkan identitas orang papua. Kualitas pendidikan kita dalam hal mendidik dan membentuk “karakter” itu sudah semakin kacau-balau. Anak-anak sekolah sudah tidak sopan pada gurunya, orangtuanya, mereka tidak jujur dan tidak kerja keras Ini merupakan ancaman berat,

 

Dorince Mehue, Majelis Rakyat Papua

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed