by

Pendidikan Kita dan Lahirnya Pelajar Pancasila

Kabar Damai | Minggu, 18 Juli 2021

Bandung – Semarang | kabardamai.id | Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil menuturkan, Pancasila merupakan satu janji untuk menyatukan banyaknya perbedaan suku dan bangsa yang ada di Indonesia.

“Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, perjanjian atau akad nikah itu namanya Pancasila karena memiliki agama, bahasa, selera, dan adat yang tidak sama. Maka dari itu, agar rumah ini tidak bubar, kita harus menghargai Pancasila,” pesannya melalui keterangan tertulisnya, Kamis, 15 Juli 2021.

Hal tersebut, melansir laman BPIP,  disampaikan Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil,  saat menghadiri pembukaan tahun ajaran 2021-2022 dan pengenalan lingkungan sekolah (PLS) bagi siswa baru sekaligus pembinaan peningkatan pemahaman ideologi Pancasila, wawasan kebangsaan, serta pembinaan kepramukaan secara virtual dari Gedung Pakuan, Kota Bandung, Kamis, 15 Juli 2021.

Mantan Walikota Bandung ini  menuturkan, sila pertama dalam Pancasila mengajarkan masyarakat Indonesia untuk menjadi orang baik di dunia dan akhirat.

“Sila pertama tentang ketuhanan. Kita harus baik selama di dunia agar selamat di dunia dan menjadi ahli ibadah agar bisa selamat di akhirat,” ujarnya, dikutip dari bpip.go.id.

Ia melanjutkan, selain menjadi orang baik di dunia dan akhirat, masyarakat Indonesia perlu tolong-menolong. Hal ini sesuai dengan sila kedua Pancasila.

“Ada perjanjian kedua bahwa kita ini harus tolong-menolong. Sila kedua adalah kemanusiaan yang adil dan beradab. Kalau kita ada orang susah, kita bantu. Ada provinsi yang susah, kita bantu. Kalau ada negara yang lagi susah, seperti Palestina, kita bantu, karena kita ini bersaudara dalam kemanusiaan,” terangnya.

Baca Juga: Memahami Hubungan Pancasila dan UUD 1945

Selanjutnya, masyarakat Indonesia juga diajarkan untuk menjadi satu, yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ajaran ini tertuang secara gamblang dalam sila ketiga Pancasila.

“Kalau jadi negara yang seperti provinsi pakai suku bangsa berarti semua bubar. Seperti dulu ada negara namanya Yugoslavia sekarang bubar karena menjadi negara provinsi. Begitu pula Bosnia Herzegovina, Kroasia, dan Serbia,” jelas Kang Emil.

Menyelesaikan Perbedaan Melalui Musyawarah

Ditambahkannya, masyarakat Indonesia juga diajarkan mengenai penyelesaian masalah atau perbedaan pendapat lewat musyawarah. Hal ini tertuang dalam sila keempat Pancasila.

“Kalau ada masalah beda pendapat selesaikan dengan musyawarah. Itulah sila keempat. Tong parasea (Jangan pada ribut). Yang satu Army yang satu Blackpink atau antara pendukung sepak bola tim Inggris dan Italia, jangan ribut. Selesaikan dengan musyawarah,” tandasnya.

Kang Emil menambahkan, sila keempat itu sangat penting karena banyaknya pertengkaran yang terjadi antar masyarakat saat ini. Untuk menghindari pertengkaran, ia pun memberikan sedikit tips kepada para siswa-siswi Jabar.

“Siswa-siswi harus berpikir untuk mencari persamaan antara satu dengan lainnya. Jika terus mencari-cari perbedaan, pasti akan selalu ada perdebatan tanpa henti,” ucapnya.

Menurut dia, dewasa kini banyak sekali pertengkaran yang terjadi di internet. Hal ini terjadi lantaran banyaknya orang yang suka mencari perbedaan satu sama lain.

“Antara laki-laki dan perempuan itu saja sudah beda. Saya Sunda, itu Jawa, sudah beda. Kemudian ada saya Islam, itu Kristen, juga sudah beda. Kalau terus dicari akan ketemu. Makanya cari saja persamaan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Kang Emil berpesan kepada siswa-siswi untuk berlaku adil. Sebab, ajaran ini tertuang dalam sila kelima Pancasila.

“Supaya Indonesia tidak runtuh, kita tidak boleh menjadi kaya sendiri dan mengacuhkan orang miskin. Mereka perlu ditolong karena itulah keadilan sosial dan ekonomi Pancasila,” terangnya.

Tercipta Pelajar Pancasila

Terpisah, Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) gelar Webinar ke-2 rangkaian Dies Natalis ke-40. Hadir narasumber Prof Dr Unifah Rosyidi MPd Ketua Umum PB PGRI dan Dr H Yaswardi MSi Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Rabu (14/07).

Dilansir dari laman BPIP, kegiatan dilaksanakan melalui zoom dan disiarkan secara langsung di youtube UPGRIS TV. Rektor UPGRIS Dr Muhdi SH MHum dalam sambutanya menuturkan tahun 2021 menjadi momen yang penting dalam menapaki usia yang ke-40.

“UPGRIS terus mencipta dalam penelitian, pendidikan, pelatihan, pengabdian kepada masyarakat dengan memberikan makna bagi kehidupan. UPGRIS memiliki keunggulan dalam semua aspek. Banyak prestasi yang terus ditorehkan dari civitas akademikanya. Pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Tantangan pendidikan dalam kondisi pandemi agar semua isa bergotong royong. Guru mampu menghadapi perubahan abad 21 dengan baik,” kata Muhdi.

Unifah Rosyidi menyampaikan tantangan pendidikan di tengah COVID-19. Dampak COVID pada pendidikan sangat luar biasa. data dari UNICEF, 26 Agustus 2020 menjelaskan 463 juta anak tidak bisa mengikuti pendidikan jarak jauh. 70 persen atau 120 juta anak usia PAUD tidak dapat terjangkau. 29 persen atau 217 juta anak SD tidak dapat dijangkau. 24 persen atau 78 juta anak SMP tidak dapat diakses. Serta 18 persen atau 78 juta anak SMA tidak memiliki aset teknologi untuk mengakses pembelajaran jarak jauh.

“Sebagian besar karena tantangan dan keterbatasan pembelajaran online untuk anak-anak, kurangnya program, pembelajaran jarak jauh untuk kategori pendidikan. Kurangnya sarana dan prasarana untuk pembelajaran jarak jauh,” tutur Unifah.

Peran Guru dalam Pembelajaran Abad 21

Lain halnya, Yaswardi menjelaskan visi pendidikan Indonesia mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar Pancasila.

“Pelajar Pancasila, pelajar Indonesia, merupakan pelajar sepanjang hayat yang kompeten, berkarakter, dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha Esa, mandiri, bernalar kritis, berkebhinekaan global, bergotong royong, dan kreatif,” tutur Yaswardi.

Yaswardi menambahkan, pendidik tidak boleh terjebak dalam zona nyaman, harus terus belajar, berbagi, dan menginspirasi. Karakter guru yang harus ada dalam pembelajaran abad-21. Guru sebagai pembelajaran tekun sepanjang hayat.

Guru mengimplementasikan pendekatan yang sesuai dengan cara belajar siswa. Kreatif dan inovatif, guru bisa memberikan pembelajaran yang bagus dan sumbernya juga tidak boleh monoton. Reflektif, guru efektif dalam mengembangkan pembelajaran. Kolaboratif, keterlibatan guru dan murid untuk bekerjasama.

“Mengoptimalkan teknologi, karakter yang utama dari pembelajaran 21 ini, di mana teknologi berperan sangat signifikan. Pembelajaran akan berpusat pada siswa sehingga guru di sini akan bertugas menjadi fasilitator,” imbuh Yaswardi.

Peran guru dalam pembelajaran abad-21 resources linkers. Pembangunan karakter siswa. Menanamkan entrepreneurial mindset. Mengajarkan pemikiran kritis. Menciptakan tantangan pada siswa. Membangun komunikasi belajar.

Empat keterampilan belajar (4C). Creativity and innovation, elemen ini siswa akan diajak untuk bisa membiasakan diri dalam melakukan dan menjelaskan setiap ide yang ada di kepalanya.

Critical thinking and problem solving, berpikir kritis dan pemecahan masalah akan mengajak siswa untuk bisa berpikir secara deduktif dan induktif secara mandiri yang bertujuan untuk menguasai dan mampu menyelesaikan masalah yang rumit. Communication, menguasai mengatur dan membuat hubungan komunikasi yang baik dan benar secara tulisan, lisan, dan multimedia. Collaboration, Kerjasama ini akan mengajak siswa untuk belajar membuat group menyelesaikan dan kepemimpinan,” pungkasnya. [BM/BPIP]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed