by

Pendidikan Damai Sebagai Pembentukan Karakter Anak di Sekolah

-Opini-81 views

Oleh: Tasya Martha Dwi Alvionita

Pendidikan yang damai tentunya setiap sekolah terutama di Indonesia, menginginkan bahwa anak-anak didik mereka dapat membawa perdamaian untuk bangsa dan negaranya, meskipun hal terkecil apapun seperti sikap menghargai dan menghormati antar umat manusia.

Perlu adanya penekanan dalam konsep perdamaian ini, karena tidak semua anak paham akan pentingnya sikap bertoleransi antar manusia, apalagi antar umat beragama yang berbeda. Disisi lain Indonesia adalah Negara plural yang memiliki berbagai macam ras, suku, budaya, dan agama, maka hal ini menjadi bagian yang utama dalam dunia pendidikan untuk memupuk generasi-generasi yang dapat memahami akan perbedaan.

Pendidikan damai di sekolah baik dari SD, SMP, SMA atau sekolah formal lainnya, dapat kita ketahui bahwa pendidikan ini yang mengarah pada perdamaian, menghindari perpecahan, dan menjauhi konflik yang ada. Pendidikan  damai dapat kita temui biasanya di mata pelajaran PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan), seni budaya atau bahkan di PAI (Pendidikan Agama Islam), karena didalamnya terdapat materi-materi yang dapat menunjang siswa untuk mengenal Indonesia, seperti arti penting pancasila, mengenai hukum-hukum di Indonesia, dan tentunya dapat membentuk karakter siswa yang toleran.

Pendidikan pada anak merupakan bentuk wujud awal dari pembentukan manusia. Pakar peneliti mengungkapkan, sel otak anak dari umur 0 sampai 1 tahun pertama sel-sel otak anak mengalami perkembangan dengan pesat. Peneliti lain yang bernama Jalongo berpendapat otak anak-anak mengalami perkembangan 80% hingga umur 8 tahun. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa anak lahir dengan membawa 100 milyar sel otak. Ketika ia masih anak-anak, sel-sel akan terus mengalami perkembangan hingga bebrapa kali lipat dari koneksi awal yaitu sekitar 20.000 koneksi.

Baca Juga: Perdamaian dan Inovasi Pendidikan Berkemajuan

Berdasarkan pemaparan diatas, bahwasanya anak ketika berada di lingkungan sekitar, dapat menyerap segala hal dengan mudah dan cepat. Maka, jika sang anak berada dalam lingkungan positif secara otomatis terbentuklah karakter anak yang positif pula, hal ini berlaku juga sebaliknya. Karakter berasal dari bahasa Yunani yang artinya to mark atau menandai dan memfokuskan dalam hal pengaplikasian nilai-nilai kebaikan dalam suatu tidakan atau perilaku. Pembentukan karakter ialah sebuah usaha penanaman nilai-nilai karakter anak yang berisikan kebaikan atau hal-hal positif lainnya, yang kemudian menjadi ciri khas dalam berperilaku untuk hidup dan kerjasama antar umat manusia.

Perilaku sosial tentu berkaitan dengan pembentukan karakter sejak anak usia dini maka, hal tersebut sangat penting dilakukan mengenai bagaimana upaya tenaga pendidik mengenalkan anak didik mereka terhadap keragaman budaya dan perbedaan agama, hal ini sangat penting dalam dunia lembaga pendidikan di sekolah-sekolah yang merupakan madrasah pertama sebelum masuk pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, maka dari itu, betapa pentingnya pembentukan karakter tersebut mengingat bahwa Indonesia memiliki berbagai macam suku, ras budaya, agama dan juga etnis. Munculnya sikap intoleran salah satu penyebabnya ialah kurangnya pengetahuan ilmu keagamaan mengenai keragaman, dengan begitu, perlunya pembentukan karakter yang damai sejak dini agar dapat membawa pengaruh baik, dalam menciptakan Negara Indonesia yang damai dan harmonis.

Oleh karena itu, para pendidik di Indonesia harus mampu menanamkan nilai-nilai perdamaian terhadap anak didiknya. Pentingnya pembentukan karakter yang damai merupakan sebuah urgenitas, karena Indonesia tidak hanya memiliki beragam agama, akan tetapi juga ras, suku, dan budaya yang berbeda. Maka dari itu, diperlukannya sikap yang toleran agar seluruh kelompok dapat hidup rukun, harmonis dan damai. Salah satunya dengan cara pembentukan karakter yang damai, hal ini sangat diperlukan pada anak agar memiliki sikap toleransi yang tinggi jika tidak, anak tersebut tidak akan mampu memenejemen konflik yang ada, bahkan dapat membuat konflik tersebut semakin keruh dan berujung pada perpecahan.

Tasya Martha Dwi Alvionita, Mahasiswi Studi Agama-Agama UIN Sunan Ampel Surabaya

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed