by

Pendidikan Damai Bagi Anak-anak Terdampak Konflik

Oleh:  Alfina Diana Putri

Konflik merupakan suatu gesekan yang kerap terjadi antar manusia akibat dari ketidaksinkronan dalam hal-hal tertentu. Oleh karenanya konflik selalu berdampak buruk bagi kelanggengan kedamaian di kehidupan bermasyarakat. Seperti halnya anak-anak yang merupakan korban konflik yang sangat rentan, mereka mmebutuhkan penanganan untuk mengatasi berbagai ketakutannya akibat konflik. Untuk mengatasi konflik, diperlukan adanya penanggulangan konflik dengan cara mengelola konflik tersebut.

Tata cara mengelola konflik ini seperti halnya dengan cara pemulihan, khususnya bagi anak-anak yang yang terdampak konflik. Berbicara mengenai anak-anak sebagai korban konflik, ia merupakan pihak yang lemah dari segi fisik maupun psikologis. Akibat dari konflik yang mereka saksikan akan menimbulkan kecemasan, ketakutan hingga trauma.

Adanya keadaan psikologis mereka yang tidak segera ditangani tentu akan mengganggu fisik mereka kedepannya. Selain itu dari sisi kegamaan, pemahaman kesadaran toleransi mereka yang belum optimal membuat anak cenderung tanpa kontrol meluapkan emosi seperti balas dendam dan justifikasi kebencian terhadap konflik yang menimpa mereka. Dengan demikian adanya upaya penanganan dan penanggulangan konflik yang tepat bagi anak-anak adalah pendidikan damai yang memfokuskan mereka menjadi individu-individu yang toleran, pemaaf, mencintai perdamaian dan menatap segala hal dengan pandangan luas.

Dalam Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, di dalamnya mengatur tentang pendidikan nasional yang di dalamnya juga memuat perihal pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus. Di sanalah pendidikan damai anak-anak disepakati bahwa, pendidikan damai pada anak adalah upaya membentuk perdamaian yang lebih langgeng dan termanajemen.

Pendidikan damai sendiri merupakan ulasan daripada konsep pendidikan dan perdamain yang bermakna proses atau bimbingan dalam rangka meniadakan berbagai bentuk kekerasan guna mencapai kemanusiaan secara optimal akibat bekerjanya seluruh sistem sosial sehingga menjadikan kehidupan lebih harmonis.

Baca Juga: Pentingnya Pendidikan Perdamaian Bagi Generasi Z dan Milenial Indonesia

Menurut Elise Boulding dalam jurnal milik Sukendar yang berjudul Pendidikan Damai Bagi Anak-Anak Korban Konflik menjelaskan tentang pentingnya kontinuitas pendidikan perdamaian pada anak-anak. Kontinuitas yang diterapkan pada anak-anak akan menghasilkan budaya damai (membudayakan damai).

Budaya damai ini pertama-tama akan dibawa ke dalam keluarga. Ingatan anak-anak serupa dengan reka adegan apa yang telah dilihat sebelumnya. Dia akan merasa depresi dan trauma sebab dipicu oleh ingatan konflik keluarga mereka. Tidak jarang jika kita menemui keluarga yang menjadi sumber kekerasan yang diakibatkan oleh penggunaan kekuasaan patriarkis atau melihat lanhsung adegan kekerasan dalam keluarga. Kedamaian dalam diri anak-anak terjadi manakala orang tua memberikan pemahaman dan contoh.

Bagaimana para orang tua dalam menangani konflik, bagaimana para orang tua meredam perseteruan, bagaimana orang tua memanegemen emosi dan menggapai hal-hal dengan bijaksana. Dengan demikian keluarga merupakan lingkungan yang paling dinilai dalam jiwa perdamaian pada diri anak-anak.

Selain dalam keluarga, pentingnya pendidikan damai juga harus diajarkan pada lingkup pendidikan. Melalui kurikulum pendidikan, Ahmad Baidowi mengatakan bahwa pendidikan damai bisa dimulai dengan memasukkan agenda keragaman budaya dan etnik ke dalam kurikulum pembelajaran.

Hal ini menicu anak-anak untuk memperkuat insting perdamaian dalam dirinya dengan memunculkan kepekaan toleransi dan heterogenitas, bahwa dia hidup tidak berdasar hanya semata-mata di atas kebenarannya saja. Melalui budaya dan etnik, anak-anak akan melihat dan merespon keadaan lingkungan mereka masing-masing sehingga kepekaan sosial dan toleransi akan meningkat dengan sendirinya.

Tidak hanya anak-anak atau siswa, para guru juga secara tidak langsung akan dituntut belajar kembali tentang makna ‘damai’ dalam budaya dan etnik serta jaminan praktik perdamaian tadi.

Bedowi, mengutip Geneva Gay mengatakan bahwa strategi pendekatan budaya dan etnik dalam kurikulum pembelajaran menjadi sangat penting karena muatan budaya dan etnik sangat krusial dan esensial bagi perbaikan aspek pedagogi pengajar dalam mengajar sehingga berpengaruh pada konsep damai di diri anak didik.

Selanjutnya, pentingnya kurikulum pendidikan mengubah gaya belajar guru menjadi lebih ke cerita dan meningkkan pemhaman. Selain itu, pendekatan budaya secara simultan memiliki arti yang banyak bagi siswa sekaligus meningkatkan apresiasi siswa dalam belajar dan muatan budaya pada kurikulum secara tidak langsung akan membentuk budaya dalam keabadian dan semangat nasionalisme dengan melestarikannya di lingkungan sekolah.

Kurikulum pembelajaran menggunakan budaya dan etnik ini juga membantu guru dan siswa dalam mencintai serta bertoleransi terhadap keragaman pola hidup yang plural. Singkatnya, pendidikan perdamaian menggunakan kurikikulum muatan budaya dan etnik membawa anak-anak pada anti kekerasan, mencintai perdamaian dan mampu merespon konflik yang ada pada dirinya atau lingkungannya melalui pemahaman heterogenitas dan saling mengasihi satu sama lain.

 

Alfina Diana Putri Mahasiswi Studi Agama-Agama UIN Sunan Ampel Surabaya

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed