by

Pendekatan Kultural dan Struktural Atasi Kebinekaan Indonesia yang Terancam

Kabar Damai | Selasa, 24 Agustus 2021

Jakarta | kabardamai.id | Kebinekaan Indonesia sejatinya menjadi ciri khas sekaligus kekuatan bagi bangsa dan negara. Namun, di luar masalah pandemi, keberagaman masyarakat Indonesia kini  terancam oleh tidak terkontrolnya laju modernisasi.

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti menilai hal itu nampak dari langkanya berbagai kegiatan kewargaan di tingkat komunitas masyarakat yang paling kecil seperti kampung.

Kegiatan bersama seperti nonton bareng, pos ronda, dan lain sebagainya yang melibatkan interaksi masyarakat kini dianggapnya mulai pelan-pelan hilang seiring dengan teknologi digital yang mengarahkan manusia pada sifat individualisme.

“Nah sarana-sarana seperti itu kan sekarang ini hilang. Jadi orang itu menonton dengan gadget, jadi mereka itu menonton sendiri. Suasana kebersamaan yang membuat kita sebagai bangsa yang beragam itu tidak terjadi,” ungkap Mu’ti dalam forum diskusi daring Ditjen Politik dan Pemerintahan Umum, Senin, medium Agustus 2021 lalu.

“Sarana-sarana seperti ini sekarang terdelusi seiring dengan teknologi. Dan oleh karena itu menurut saya sarana-sarana sosial yang sebenarnya telah kita miliki itu perlu dihidupkan kembali,” imbuhnya, dikutip dari laman muhammadiyah.or.id (22/8).

Sarana kultural semacam ini menurut Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, perlu dijaga jika pandemi telah berhasil diatasi. Selain sarana kultural, pendekatan struktural juga dianggap penting agar pemahaman kebhinekaan masyarakat Indonesia melalui interaksi dengan warga lain yang berbeda tidak mengalami peluruhan.

“Nah regulasi itu harus menjadikan eksistensi dari masing-masing kelompok yang ada di tanah air ini karena kalau tidak ada jaminan legal konstitusional, bisa jadi kebhinekaan atau keberagaman itu tidak akan mendapatkan jaminan dan tidak akan ada perlindungan. Nah karena itulah maka perangkat-perangkat konstitusional yag ada di Indonesia ini di semua level itu harus memberikan jaminan terhadap eksistensi dari kebhinekaan itu apakah itu keberagaman suku, agama, itu harus ada jaminan konstitusionalnya” pungkasnya.

Rawat Kebinekaan di Sekolah Melalui Survei Lingkungan Belajar

Dalam konteks pendidikan formal, setiap siswa berhak mendapatkan hak yang sama untuk belajar di lingkungan yang aman tanpa diskriminasi. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka dibutuhkan langkah strategis demi terciptanya transformasi pendidikan.

Survei Lingkungan Belajar yang tercakup dalam Asesmen Nasional (AN) adalah salah satu cara berbasis data yang akan mampu mendorong terciptanya lingkungan belajar dengan iklim keamanan dan kebinekaan yang baik sebagai prasyarat pendukung pembelajaran yang berkualitas.

“Kita harus merawat kebinekaan sejak dini, yaitu sejak anak-anak duduk di bangku sekolah. Untuk mendorong hal tersebut kita akan lakukan Survei Lingkungan Belajar. Survei ini memotret berbagai aspek pembelajaran, seperti kepemimpinan kepala sekolah, praktik guru, iklim keamanan, dan kebinekaan sehingga informasi yang diterima guru, kepala sekolah, dan kepala dinas pendidikan lebih bermanfaat,” terang Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Kabalitbangbuk), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Anindito Aditomo, pada webinar perdana Silaturahmi Merdeka Belajar (SMB) bertajuk “Merawat Kebinekaan di Sekolah Lewat Survei Lingkungan Belajar”, di Jakarta, Kamis, 5 Agustus 2021 lalu.

Baca Juga: Romo Johannes Hariyanto: Menjadi Pendidik Menemani Orang Muda Memiliki Pengalaman Kebinekaan

Sebagai informasi, SMB adalah diskusi mingguan Kemendikbudristek dalam format webinar yang menjadi wadah publik untuk membahas secara lebih dalam mengenai terobosan-terobosan Merdeka Belajar.

Melalui SMB, publik dapat turut berdiskusi dan memperoleh pandangan dari narasumber-narasumber yang kompeten dan tepercaya serta bersama-sama mendorong transformasi yang bermakna di bidang pendidikan, kebudayaan, riset, dan teknologi.

Melansir laman resmi Kemneterian Pendidikan dan Ristek, pada SMB perdana yang digelar Kemendikbudristek ini Anindito mengatakan, “Dalam AN ada beberapa indikator terkait kebinekaan, salah satunya adalah menghargai perbedaan. Toleransi ini kita definisikan nyaman bergaul, nyaman bekerja, dan nyaman berinteraksi dengan orang-orang di lingkungan belajar yang berasal dari latar belakang yang berbeda.”

Lebih lanjut Anindito menyampaikan, “Salah satu ciri sekolah yang punya iklim kebinekaan yang baik adalah ketika murid merasa bebas dan nyaman untuk menyampaikan pendapatnya tentang apapun yang sedang dibahas di sekolah. Jadi, kalau guru berhasil menciptakan suasana di mana orang dihargai pendapatnya hingga mereka nyaman mengungkapkan pendapatnya, itu salah satu ciri sekolah dengan suasana kebinekaan yang baik.”

Perlu Dukungan Berbagai Pihak

Diluncurkan pada tahun 2019 sebagai Merdeka Belajar episode pertama, AN mencakup tiga komponen besar, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) Literasi dan Numerasi, Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.

Hasil akhir AN murni bertujuan untuk perbaikan mutu pembelajaran dan tidak akan memberikan konsekuensi terhadap individu pesertanya.

Turut hadir dalam SMB, Anggota Komisi X DPR RI Sofyan Tan. Sofyan mengungkapkan dukungan terhadap kebijakan AN, “Komisi X DPR RI memberikan dukungan sepenuhnya kepada Kemendikbudristek dalam menjalankan AN, khususnya Survei Lingkungan Belajar.”

Ia juga mengatakan bahwa DPR RI memantau apa yang akan dilakukan dalam Survei Lingkungan Belajar.

“Survei Lingkungan Belajar gunanya untuk mengidentifikasi masalah dan melakukan perbaikan di lingkungan belajar,” jelasnya.

Ditanya soal versinya dalam merawat kebinekaan, Sofyan mengemukakan bahwa merawat kebinekaan harus konkret.

“AN, termasuk Survei Lingkungan Belajar akan memungkinkan sebuah kebijakan dibuat berbasis data, bukan berbasis tren. Kebijakan berbasis data harus dibiasakan,” tuturnya.

Menutup SMB, Sofyan berharap dukungan dan pengawasan yang dilakukan DPR RI dapat mendorong Kemendikbudristek untuk menjalankan AN sesuai tujuannya.

Sejalan dengan itu, Direktur Wahid Foundation, Mujtaba Hamdi selaku narasumber mengatakan, “Metode asesmen ini (Survei Lingkungan Belajar) menarik karena sifatnya tidak menghukum, tapi justru mendukung untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang optimal. Kami tentu sangat gembira dengan metode asesmen seperti ini.”

Tentang pentingnya lingkungan belajar dalam membentuk karakter siswa, Mujtaba menjelaskan bahwa yang dimaksud toleransi bukan hanya menghargai, tetapi ada hal yang lebih mendalam, adalah memperluas makna toleransi.

“Kalau hanya ‘menghargai’ bisa jadi hanya seperti; kamu melakukan caramu dan aku menghormati caramu. Akan tetapi ‘memperluas’ adalah; murid bisa bekerja sama dan berkolaborasi dalam satu aktivitas bersama. Misalnya menjelang hari besar keagamaan di sekolah, murid dapat bersama-sama membantu dalam mempersiapkan kegiatan tanpa perlu mengikuti kegiatan ibadahnya. Itu cara-cara untuk memperdalam toleransi tersebut,” terang Mujtaba Hamdi.

Berdasarkan hasil riset yang sudah dilakukan oleh Wahid Foundation terhadap murid tentang toleransi dan kebinekaann, lebih dari 80% lebih meyakini bahwa Pancasila menjadi landasan yang berhasil mempersatukan.

“Kita punya modal yang kuat untuk membangun persatuan di tengah-tengah kebinekaan yang luar biasa,” pungkasnya. [ ]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed