by

Pemuda Indonesia harus Bersatu dan Bangkit melawan Radikalisme dan Terorisme

Kabar Damai  | Senin, 1 November 2021

Jakarta | kabartdamai.id | Sumpah Pemuda memiliki makna yang begitu dalam bagi mereka yang terlibat dalam pengikrarannya 93 tahun silam ketika para pemuda memutuskan dan sepakat bahwa jalan yang diambil untuk bangsa ini adalah jalan persatuan.

Lampau semangat persatuan muncul untuk melawan kolonialisme dan memperjuangkan kemerdekaan yang dicita-citakan segenap bangsa Indonesia. Kini, pemuda menghadapi musuh nyata bersama yaitu radikalisme dan terorisme yang didukung oleh kemajuan teknologi digital.

Dilansir dari laman Pusat Media Damai BNPT, Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Septiaji Eko Nugroho, mengungkapkan saat ini dibutuhkan peran dari pemuda untuk bersatu dan merefleksikan kembali peran mereka untuk menjaga kedaulatan bangsa dan melanjutkan sumpah pemuda mengingat dewasa ini bangsa kita kerap diguncang oleh isu-isu yang merujuk pada perpecahan.

“Dampak negatif era digital itu sangat banyak yaitu hoax, permusuhan, dan provokasi yang dimanfaatkan untuk menyebarkan paham intoleransi dan terorisme. Jadi pemuda saat ini dibutuhkan untuk bisa menentukan, apakah kita masih bersepakat untuk menjaga kedaulatan dan mencegah perpecahan bangsa?” ujarnya di Jakarta, Sabtu, 29 Oktober 2021, dikutip dari damailahindonesiaku.com (29/10).

Septiaji menambahkan, komitmen untuk bersatu dan menjadi bagian dalam menjaga kedaulatan bangsa sebagaimana para pendahulu bangsa kala itu, harus dibekali dengan empat poin dasar dalam konteks era digital yaitu melindungi diri sendiri dari berbagai manipulasi informasi yang menjauhkan dari semangat kebangsaan dan persatuan serta semangat Pancasila.

“Kedua, melindungi keluarga kita, lingkungan dan masyarakat sekitar serta yang terakhir dan yang lebih luas adalah melindungi bangsa ini,” tutur pria yang juga aktif dalam berbagai forum nasional dan internasional ini.

Baca Juga: Generasi Muda Harus Berani Suarakan Anti Radikalisme dan Anti Terorisme

Septiaji menyebutkan hal yang menjadi kekahawatirannya sebagai aktifis adalah tantangan kemajuan teknologi yang dibalik banyak manfaatnya menyimpan efek negatif. Alih-alih menjadi bangsa yang produktif, jebakan era digital justru menjadikan para pemuda ini terpenjara dan kecanduan kepada hal-hal yang kontraproduktif, sehingga menurut Septiaji dibutuhkan empat pilar yang perlu dimiliki oleh para pemuda di era digital saat ini.

“Yang pertama, keahlian atau kecakapan. Kedua, budaya digital yang baik dan etika digital lalu yang terakhir adalah keamanan digital. Empat pilar tersebut yang bisa melindungi, memperkuat dan memperkaya wawasan para pemuda untuk memastikan agar mereka tidak menjadi korban manipulasi informasi, hoax, konten provokatif yang tidak beretika,” ungkapnya.

 

Tak Boleh Gagap Toleransi

Lanjutnya, disamping 4 pilar tadi, ia juga menyinggung mengenai kepekaan pemuda akan toleransi. Karena menurutnya, toleransi menjadi sangat penting agar para penerus bangsa dari negeri yang kaya akan keberagaman ini tidak boleh gagap toleransi.

“Indonesia ini kan budayanya beragam. Jadi, ketika kita bertemu dengan sesuatu yang berbeda itu jangan kemudian mudah menghakimi, jangan mudah berkomentar negative jangan mudah megajak orang untuk membenci. Jangan jadi gagap toleransi,” ujarnya.

Dengan bekal tersebut diharapakan para pemuda tidak cukup hanya memiliki toleransi tetapi juga bisa mengambil bagian dengan menjaga dan melindungi toleransi untuk mengikis akar masalah dari radikalisme dan terorisme.

Septiaji, juga mengingatkan peran serta dukungan pemerintah, tokoh masyarakat dan stakeholder lainnya sangat diperlukan dalam mendukung dan mengarahkan energi para pemuda kepada hal yang positif dan produktif.

“Para pemuda itu sudah banyak yg memiliki keahlian dan kemampuan untuk melakukan banyak hal. Jadi saya rasa pemerintah, tokoh masyarakat dan tokoh agama jangan segan untuk memberikan kesempatan, jangan anggap para pemuda ini selalu sebagai ‘anak kecil’, tapi justru berikan anak muda ini tantangan,” terangnya.

Pria yang pernah menjabat sebagai ketua Comlabs ITB ini menilai, karakter pemuda Indonesia masa kini adalah pemuda dengan karakter yang menyukai tantangan. Karena itu me nurutnya ada celah bagi pemerintah dan para stakeholder untuk masuk dan mendorong para pemuda untuk menjadi agen perubahan, pemuda yang memiliki inisiatif dan pemuda yang memiliki jati diri yang kuat sehingga terhindar dari paham yang merujuk pada radikalisme dan terorisme.

Hal tersebut sejalan dengan program dan kegiatan yang diadakan Mafindo dalam rangka pembekalan kepada para pemuda agar senantiasa menjadi agen perubahan di tengah masyarakat dan memberdayakan potensi pemuda untuk ikut berperan mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif melalui program literasi dan pemberdayaan pemuda.

“Memperingati Sumpah Pemuda, kami menginisiasi kegiatan dialog kebangsaan bersama pemuda dari berbagai wilayah di Indonesia untuk me-refresh kembali pemahaman, bahwa tantangan di era digital itu akan cepat selesai jika pemuda ikut turun tangan. Kita megajak para pemuda untuk bergabung menjernihkan ekosistem disinformasi di Indonesia,” tuturnya.

Dengan peran serta pemuda, ia optimis di tahun 2050 nanti bangsa ini akan menjadi bangsa maju dengan kekuatan ekonomi terbesar didunia, dan hal ini akan terwujud jika pemuda mau mengambil peran dan terlibat untuk menjaga kedaulatan bangsa. [damailahindonesia]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed