by

Pemuda Diaspora Madura dan Masa Depan Pulau Garam

Kabar Damai I Kamis, 19 Agustus 2021

Jakarta I kabardamai.id I Momen HUT Kemerdekaan RI dijadikan momentum bagi diaspora Madura (pemuda asal Madura yang belajar di luar negeri) untuk makin berkiprah bagi tanah kelahirannya. Para pemuda yang tergabung dalam Ikatan Tretan Intelektual Internasional (ITII) ini menyatukan pikiran untuk membangun Pulau Garam itu.

Diketahui, ITII dibentuk Choirul Anam yang merupakan Koordinator Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia (PPI Dunia) 2020-2021 bersama mahasiswa para diaspora Madura yang sedang kuliah di luar negeri.

Pada pertemuan virtual pertama yang dilakukan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan, ITII sebagai forum diaspora Madura di seluruh dunia berkomitmen untuk ikut berperan aktif memberikan sumbangsih pikirannya untuk membangun Madura. Khususnya Madura dalam menuju era Ekonomi Global menghadapi tahun 2030 dan 2050.

“Nanti Tiongkok akan menjadi kekuatan ekonomi besar dunia pada 2030 dan 2050. Sedangkan Indonesia menurut PWC akan berada di peringkat ke-9 pada 2030 dan peringkat ke-4 dunia pada 2050,” kata Cak Anam, sepertti dikuti TIMESIndonesia (18/8).

Momentum inilah yang ingin dimanfaatkan oleh ITII untuk membangun narasi positif terhadap Madura. Khususnya menghapus stigma negatif bahwa orang Madura hanya bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan berkualitas rendah.

Melansir TIMES Indonesia, Cak Anam yang merupakan mahasiswa PhD di bidang Kebijakan Publik di Charles University Republik Ceko, ini menambahkan, upaya peningkatan pembangunan di Madura setidaknya harus dimulai dari peningkatan kualitas SDM terlebih dahulu.

Baca Juga: Menjadikan Proklamasi dan Sumpah Pemuda dalam Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan

Ia pun mengutip penelitian Daniela Mihaela Neamtu dalam teori human capital accumulation. Bahwa pendidikan merupakan salah satu variable paling berpengaruh dalam meningkatkan kualitas SDM. Sebab dengan investasi terhadap kualitas pendidikan yang tinggi akan berkontribusi terhadap peningkatan kapasitas tenaga kerja yang akan mendorong kemajuan ekonomi suatu negara.

 

Pahami Budaya dan Kehidupan Sosial Masyarakat Madura

Dalam virtual meeting itu tampak juga Ali Ihsanul Qauli. Ia adalah mahasiswa PhD di KNIT Korea Selatan yang merupakan Presiden Perpika (PPI Korea) 2019-2020.

Menurut Ali, untuk membangun Madura harus ditentukan terlebih dahulu problem statemen yang diharapkan.

“Pahami budaya dan kehidupan sosial masyarakat Madura,” ujarnya.

Hal ini, sambung Ali, dapat dilakukan dengan melakukan diskusi antara ITII dan stakeholders yang ada di Madura untuk mengetahui narasi kuat apa yang perlu dibangun untuk kemudian diberikan masukan kepada policy makers.

Rizky Dwi Kurniawan, mahasiswa Master di RWT Aachen Jerman, juga punya pendapat menarik. Mahasiswa di kampusnya BJ Habibie, itu menyampaikan, dari pengalamannya selama enam tahun di Jerman, ia melihat pentingnya peningkatan kualitas SDM dan pendidikan untuk membangun Madura ke depan.

Sementara Andhika Febri Suswantoro, mahasiswa master di Universitatea Babes-Bolyai Rumania, mengatakan, perlu peningkatan hubungan yang baik antara pembuat kebijakan dengan lembaga riset dan para akademisi. Tujuannya agar hasil kajian tentang pembangunan bisa diimplementasikan dengan baik saat membuat kebijakan.

“Di Rumania, negaranya bisa maju berkat kolaborasi antara pemerintah dan kampus yang baik,” ucapnya.

 

Manfaatkan Wind Energy

Angger Baskoro, mahasiswa PhD di NYCU Taiwan, juga melihat ada peluang Madura sebagai negara kepulauan untuk mengembangkan energi terbarukan dengan memanfaatkan wind energy. Jika ini dimanfaatkan dengan baik maka masalah listrik dan internet yang belum terpasang dengan baik di pulau-pulau terpencil Madura dapat diselesaikan.

Pertemuan virtual ini juga diikuti oleh Muhammad Khairul Umam, (mahasiswa master di IIUM Malaysia), Rasyuhdi (mahasiswa di Nanjing University Tiongkok), dan Khoirul Umam Hasbiy (mahasiswa PhD di Huazhong University Tiongkok yang juga merupakan Ketua PPI Wuhan 2020-2021).

Seluruh diaspora Madura yang tergabung dalam ITII berkomitmen untuk mendorong perbaikan kebijakan dan peningkatan kualitas kebijakan melalui kebijakan yang berbasis pada peningkatan kualitas SDM. Juga peningkatan kualitas pendidikan, serta pemanfaatan SDA Madura yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan pendapatan daerah.

Cak Anam memastikan bahwa ke depan akan semakin ditingkatkan pertemuan-pertemuan serupa untuk kemudian menentukan arah masukan yang diberikan kepada pemerintah oleh para diaspora muda Madura yang saat ini sedang kuliah di luar negeri.

Selain itu, harapannya pemerintah daerah juga ikut mendengar dan mengajak serta para diaspora ini dalam memnetukan arah kebijakan dan pembangunan Madura kedepan. Dengan ilmu dan pengalaman yang didapat dari berbagai negara, masukan diaspora Madura yang tergabung dalam Ikatan Tretan Intelektual Internasional ini akan menjadi masukan berarti dalam membangun Madura menghadapi momentum ekonomi global di 2030 dan 2050. [timesindonesia.co.id]

 

Editor: Ahmad NUrcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed