Pemuda dan Inisiasi Multikulturalisme Pendidikan

Oleh: Ali Fikry

Apa yang menarik dari sebuah antusiasme berpendapat yang hanya disuarakan tanpa upaya pelaksanaan lalu akhirnya menguap belaka? Tidak ada. Begitu pula dengan isu toleransi. Apabila hanya diwacanakan dengan berbagai macam teknik retorika dan tidak ada semangat untuk menjadikannya nyata, maka jangan salahkan orang lain jika presentase tren toleransi di Indonesia turun hingga mencapai angka yang mengkhawatirkan nantinya.

Democracy Index dari The Economist Intelligence Unit merilis laporan tentang situasi demokrasi di Indonesia yang menunjukkan tren menurun dari 2014 hingga 2017. Salah satu penyebab utamanya tidak lain adalah kontestasi politik yang berlangsung di tahun-tahun tersebut.

Persaingan yang terjadi seringkali tidak sehat. Ketegangan terjadi di mana-mana dan menyebabkan perilaku diskriminasi mudah ditemukan setiap hari. Ironinya doktrin agama bahkan juga dimanfaatkan sebagai pedang untuk menyerang lawan atau tameng untuk menghalau serangan.

Tidak hanya dalam kasus keberagamaan, intoleransi juga seringkali terjadi antar ras dan budaya. Papua contohnya, yang hingga kini masih tidak lepas dari stigmatisasi negatif dan berujung pada tindakan diskriminatif. Sebuah potret nyata ketidakselarasan cita-cita sila kelima pancasila dengan realita yang disebabkan sentimen ras dan agama.

Tindakan langsung dan preventif dibutuhkan untuk memutus rantai perlakuan diskriminasi. Tidak hanya dalam jangka pendek, dampak yang dimunculkan selayaknya dapat dirasakan dalam jangka panjang oleh banyak kalangan. Sebab intoleransi sudah menjadi isu nasional dan bahkan global, bukan hanya terjadi di beberapa tempat saja.

Keharusan mengentaskan perilaku intoleran mulai disadari oleh berbagai kalangan. Bermacam-macam lembaga dan organisasi bermunculan dan saling bahu membahu menyerukan perdamaian. Salah satunya adalah Toleransi.id, sebuah platform yang aktif menyuarakan inspirasi toleransi dari hal-hal yang sederhana berkenaan dengan kegiatan sehari-hari. Melalui berbagai macam programnya, organisasi ini seringkali mempertemukan muda-mudi dari berbagai kalangan yang tertarik pada isu-isu perdamaian dalam satu forum sebagai ajang kolaborasi.

Baca Juga: Belajar Menjadi Pemimpin yang Inklusif dan Pluralis bersama Alissa Wahid

Sepanjang tahun 2019 Toleransi.id sudah merealisasikan beberapa serangkaian program sebagai aksi nyata dalam merawat perdamaian. Ada empat program yang sudah terlaksana di tahun tersebut, yakni Celoteh Toleransi yang mengampanyekan perdamaian lewat dongeng dan cerita, Narasi Toleransi yang menyajikan edukasi dan forum diskusi perdamaian antar pemuda, Jelajah Toleransi yang mengirim peserta terpilih ke berbagai tempat untuk merasakan langsung suasana perdamaian dan keberagaman di sana, lalu Simfoni Toleransi yang menyebarkan pesan-pesan perdamaian lewat lagu dan nada. Semua kegiatan ini terlaksana di berbagai penjuru daerah. Sehingga semangat toleransi tidak hanya didengar oleh mereka yang hidup di kota, melainkan juga menyentuh kalangan awam yang hidup di pedalaman desa.

Akhir September 2019 tepatnya tanggal 27 hingga 6 Oktober, kegiatan Jelajah Toleransi (JT) dilaksanakan dalam kurun waktu 10 hari. Ini adalah program yang diikuti oleh penulis dan 49 peserta terpilih lainnya. Program ini menghimpun pemuda dari berbagai penjuru dengan latar belakang kemampuan khusus di bidang multimedia (fotografi, videografi, dan desain grafis). Mereka dibekali selama tiga hari dan diterjunkan ke berbagai daerah untuk mengamati, memahami, serta meliput isu-isu seputar perdamaian dan keberagaman di lima lokasi yang sudah ditentukan, yakni Ambon, Batu, Pangandaran, Poso, dan Wonosobo. Penulis sendiri terpilih dalam kelompok yang akan diberangkatkan ke Pangandaran. Dari sini lah cerita dan petualangan menjejaki pengalaman sebagai Kapten Toleransi (sebutan untuk para peserta JT) dimulai.

Tulisan ini bukan cerita perjalanan sejak berangkat sampai pulang, dan bukan pula bagian dari laporan kegiatan. Lebih dari semua itu, tulisan ini berisi inspirasi perdamaian dari pedalaman Kabupaten Pangandaran melalui pengamatan langsung berbasis studi lapangan. Untuk memperjelas maksud tulisan, maka kajian ini akan terfokus pada temuan penulis tentang Multikulturalisme yang diterapkan di lembaga pendidikan bernama SMK Bakti Karya Parigi.

Apa penyebab diterapkannya Multikulturalisme di sana? Bagaimana bentuk inovasi Multikulturalisme Pendidikan terlaksana? Dan dampak apa yang dirasakan oleh tenaga pendidik, peserta didik, serta masyarakat sekitar SMK Bakti Karya Parigi? Semua rumusan pertanyaan tersebut akan terjawab dalam artikel sederhana ini.

Multikulturalisme Pendidikan

 

Dengan fakta keberagaman yang ada di berbagai lini kehidupan, sejatinya penduduk Indonesia pada umumnya tidak akan merasa asing dengan kata “Multikultural”. Kalimat ini terdiri dari dua kata, yakni “Multi” yang menunjukkan arti banyak dan “Kultur” yang berarti budaya. Adanya sufiks -isme setelahnya menandakan penguatan penggunaan kata tersebut menjadi sebuah nomenklatur yang berarti ideologi dan ajaran dengan diiringi prinsip dan tujuan.

Multikulturalisme pada tataran pemaknaan epistimologis dapat dipahami sebagai ajaran yang memosisikan semua jenis perbedaan menjadi sama dan sederajat. Perbedaan tidak lagi dipahami sebagai masalah, melainkan anugerah. Sehingga prinsipnya tidak lagi tentang kompetisi untuk menentukan siapa yang lebih baik, melainkan semangat gotong royong untuk berbuat baik.

Pertautan antara Pendidikan dan Multikulturalisme merupakan solusi atas realitas budaya yang beragam sebagai sebuah proses pengembangan seluruh potensi yang menghargai pluralitas dan heterogenitas. Hal ini terjadi sebagai konsekuensi keragaman budaya, etnis, suku, dan aliran atau agama. John W. Santrock mendefinisikan pendidikan multikultural sebagai pendidikan yang menghargai diversitas dan mewadahi prespektif dari beragam kelompok kultural atas dasar basis regular.

Indonesia dengan segala keragamannya memicu adanya urgensi yang nyata terhadap pengembangan dan pemanfaatan kajian Multikulturalisme ini. Namun sangat disayangkan, pluralitas kebudayaan masih menjadi hal asing yang jarang dipahami eksistensinya dalam kehidupan nyata. Kita tahu sejak kecil bahwa suku di Indonesia memang banyak.

Tapi apakah pernah kita bersinggungan langsung dengan orang-orang dari berbagai suku sejak dini sehingga muncul upaya saling mengerti dan menghargai? Rasanya masih amat sedikit lembaga yang mau mewadahi perhimpunan dan persinggungan antar beragam suku dan budaya di Indonesia. Jika sudah begini, Bhinneka Tunggal Ika hanya dipahami sebagai doktrin formalitas yang akan mengendap dalam pikiran tanpa benar-benar dirasakan dalam praktik nyata kehidupan bermasyarakat kita.

Ali Fikry, Peserta Sekolah Kepemimpinan Pemuda Lintas Agama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *