Pemilih Muda: Pelopor Pemilu Damai dalam Pesta Demokrasi

Kabardamai.id | Bogor | Pemilihan umum merupakan momen penting dalam proses demokrasi di suatu negara. Keberhasilan dari kontestasi pemilu tidak hanya dapat diukur dari tingkat partisipasi atau hasil akhirnya saja, tetapi juga dari etika, nilai, integritas dan keteguhan prinsip saat proses berlangsung. Polarisasi politik dan ketegangan sering terjadi di sekitar kita saat ini, maka dari itu sebagai pemilih muda, kita harus mampu menjadi kekuatan yang mendorong pemilu menjadi lebih damai dan beradab.

Pemilih muda memiliki peran yang semakin signifikan dalam menentukan arah politik bangsa Indonesia. Kita harus sadar bahwa pemilih muda merupakan bagian dari masyarakat yang paling terpengaruh oleh kebijakan pemerintah, sehingga keikutsertaan pemilih muda dalam pemilu sangatlah penting. Namun demikian, pemilih muda juga sering dianggap sebagai kelompok yang cenderung apatis atau tidak peduli terhadap politik. Padahal, pandangan tersebut menurut saya terbantahkan dengan semakin banyaknya pemuda yang aktif terlibat dalam pemilihan umum, baik sebagai pemilih maupun sebagai pelopor pemilu damai.

 

Salah satu alasan mengapa pemilih muda menjadi pelopor pemilu damai adalah karena kami cenderung memiliki pola pikir yang lebih inklusif dan toleran. Generasi kami tumbuh di tengah perkembangan teknologi informasi yang memungkinkan kami untuk terhubung dengan berbagai kelompok dan pandangan politik yang berbeda. Faktanya, pemilih muda lebih terbuka terhadap perbedaan dan cenderung mencari solusi kolaboratif dalam menyelesaikan konflik. Hal ini membuat kami menjadi mediator alami dalam meredakan ketegangan politik yang sering muncul selama masa kampanye dan pemilihan umum.

Baca juga: PKPLA Kelas Penguatan: Membangun Pemimpin Muda Tanggap Konflik (kabardamai.id)

Selain itu, pemilih muda juga cenderung memiliki kepedulian yang tinggi terhadap isu-isu sosial dan lingkungan. Kami menyadari bahwa pemilihan umum bukan hanya tentang memilih pemimpin, tetapi juga tentang menentukan arah kebijakan yang akan memengaruhi masa depan kami dan generasi berikutnya. Oleh karena itu, kami perlu memilih untuk mempengaruhi proses politik dengan cara yang positif, misalnya dengan mempromosikan dialog yang inklusif dan membangun hubungan yang harmonis antara berbagai kelompok masyarakat.

 

Tidak hanya itu, pemilih muda juga memiliki akses yang lebih besar terhadap sumber informasi independen dan non-partisan. Saat ini pemilih muda tidak hanya bergantung pada media mainstream atau narasi politik yang sudah mapan, tetapi juga aktif mencari informasi dari berbagai sumber untuk membentuk pandangan yang lebih obyektif. Menurut saya pemilih muda memang lebih kritis terhadap retorika politik yang bersifat provokatif atau menyesatkan, dan cenderung memilih untuk fokus pada isu-isu substansial yang relevan bagi masyarakat.

 

Penulis: Nurul Sayyidah Hapidoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *