by

Pembekalan Cegah Radikalisme dan Terorisme bagi SMA di Jabar dan NTB

Kabar Damai | Minggu, 18 Juli 2021

Bandung – Mataram | kabardamai.id | Kepala Bakesbangpol Jabar memberikan pembekalan dalam rangka Pembukaan Tahun Ajaran 2021/2022 dan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) bagi Siswa Baru SMA, Kamis, 15 Juli 2021. Tema yang diangkat adalah “Pelajar jadi garda Terdepan Cegah Radikalisme dan Terorisme di Indonesia”.

Menurut Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jabar, Iip Hidayat, dilansir dari laman Pusat Meda Damai BNPT, kalangan pelajar sebagai generasi muda kelompok intelektual, menjadi garda terdepan mempertahankan eksistensi bangsa dan negara dalam mencegah radikalisme dan terorisme di Indonesia.

“Peningkatan pemahaman ideologi Pancasila, wawasan kebangsaan dan kontra radikalisme kepada para pelajar SMA penting diberikan dalam rangka mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ujar Iip, dikutip republika, Kamis, 15 Juli 2021.

Baca Juga: HUT Ke-11, Kepala BNPT Butuh Dukungan Masyarakat dalam Memberantas Terorisme

Iip mengatakan, kalangan pelajar menjadi komponen bangsa yang sangat penting dalam mempertahankan NKRI berdasarkan Pancasila, menanamkan kehidupan berbangsa dan bernegara, dan menjadi bagian integral sistem keamanan negara serta kesadaran bela negara.

“Pembekalan peningkatan pemahaman kepada pelajar ini dilakukan Badan Kesbangpol Jabar sebagai strategi untuk memperkuat sistem deteksi dini dan peringatan dini bagi seluruh komponen bangsa,” katanya, dikutip dari damailahindonesia.com (16/7).

Saat ini, kata dia, fenomena radikalisme dan terorisme di Indonesia harus disikapi sebagai wake up call untuk menyadarkan seluruh komponen bangsa termasuk pelajar untuk melakukan konsolidasi diri dengan memperkuat basis sistem deteksi dini dan peringatan dini. Karena, radikalisme dan terorisme terus memperkuat basis wilayah dan kaderisasi.

“Untuk itu lah pelajar juga perlu memahami regulasi/perundang-undangan/ikut serta dalam kontra radikalisasi,” ujar Iip.

Iip menjelaskan, ada beberapa faktor yang memotivasi seseorang untuk bergabung dengan jaringan terorisme. Di antaranya, masyarakat yang dicemari oleh paham fundamentalisme ekstrim atau radikalisme keagamaan.

Faktor kultural, kata dia, yaitu pemahaman keagamaan yang dangkal danoenafsiran kitab suci yang sempit dan tekstualistik. Kemudian, faktor domestik akibat kemiskinan, ketidakadilan atau merasa kecewa dengan pemerintah.

Ada juga, faktor Internasional ketidakadilan global, politik luar negeri yang arogan, dan imperialisme modern negara adidaya.

Peran Pelajar dalam Menangkal Radikalisme dan Terorisme

Sebelumnya, terpisah, sebagaimana kita ketahui, radikalisme merupakan akar dari terorisme. Radikalisme dan terorisme dinilai sebagai ancama nyata bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Oleh karenanya peran pelajar dan mahasiswa dinilai sangat penting dalam upaya mencegah penyebaran paham radikalisme.

“Peran mahasiswa/siswa sangat penting sebab masyarakat menilai mahasiswa/sisia sebagai kaum intelektual dan contoh bagi masyarakat,” kata Kabag TU Kanwil Kemenag NTB, Jaelani dalam pidato penutupan workshop “Peranan Pelajar dan Mahasiswa dalam menangkal paham radikalisme” di Hotel Grand Legi, Mataram, Jumat, 25 Juni 2021 lalu.

Melansir laman Kementerian Agama NTB, Jaelani mengatakan, sering kali masyarakat bisa jadi lebih percaya terhadap mahasiswa/siswi daripada aparat. Maka, sikap dan perilaku mahasiswa pun sangat penting.

“Selain itu, mahasiswa/siswi juga merupakan agen perubahan sekaligus generasi penerus bangsa. Maka, penting bagi mereka untuk mendapatkan pemahaman dan wawasan yang lebih tentang ilmu agama. Supaya mahasiswa/siswi juga bisa membantu mewujudkan kerukunan umat beragama, tutur Jaelani, dikutip dari ntb.kemenag.go.id.

Sementara Wakil Presiden Mahasiswa IAIH Lombok Timur, M. Yazid Hidayat menjelaskan, paham-paham radikalisme dan terorisme susah dicegah atau dihentikan. Maka, untuk mengatasinya harus secara bersama-sama mencegah munculnya paham tersebut.

Selanjutnya dikatakan, dalam upaya mencegah penyebaran paham radikalisme dan terorisme,  mahasiswa penting dilibatkan. Sebab, mahasiswa juga bisa menangkal gejala radikalisme dan terorisme dengan intelektual yang dimiliki, ujar Yazid Hidayat.

Paham radikal sendiri, dikatakan Yazid, mudah menyebar kepada kalangan yang tingkat pemahamannya rendah. Maka, mahasiswa sebagai agen perubahan sekaligus generasi penerus bangsa harus memiliki pemahaman yang lebih. Tujuannya agar mahasiswa tidak mudah disusupi pemahaman yang menyimpang.

Melalui workshop menangkal radikalisme dan terorisme, setidaknya mahasiswa bisa lebih tahu apa itu radikalisme. Sebab, mereka yang memegang paham radikalisme sering kali tidak menyadari dampak dari perbuatannya, tegas Novia Andriani dari Universitas Qomarul Huda, Bagu, Lombok Tengah.

“Dengan menambah wawasan dan pengetahuan tentang paham radikalisme nanti mahasiswa bisa menangkal paham tersebut bila sewaktu-waktu muncul,” ujar salah satu Pengurus BEM Universitas Muhammadiyah, Farida Ulfani. [BNPT/kemenag NTB]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed