Pegiat Perdamaian Lampung Bicara Terkait Kondisi Tolerasi Di Lampung

Kabar Utama92 Views

Kabar Damai | Jumat, 12 Mei 2023

Lampung | Kabardamai.id | Dalam kegiatan “Sharing Bersama Pegiat Perdamaian” yang dilaksanakan di Gereja Kristus Tanjung Karang, pada Kamis (11/5), beberapa tokoh agama menyampaikan kondisi toleransi di Lampung.

Tokoh agama sekaligus juga pegiat perdamaian yang hadir dalam kegiatan ini antara lain Selly Fitriani, Romo Roy, dan Pendeta Christya.

Pendeta Christya menyebutkan bahwa sebelumnya sudah ada usaha untuk meningkatkan toleransi di Lampung, terkhusus toleransi beragama, yaitu membangun Forum Kerja Lintas Agama (FKLA).

“Lampung ini sebenarnya situasinya di beberapa tempat sudah toleransi. Kami pernah di awal 2004 itu membangun semacam forum kerja lintas agama di Lampung,” ujarnya.

Dirinya juga menjelaskan beberapa keuntungan dari dibangunnya interaksi atau jaringan antar umat beragama di Lampung. Salah satunya adalah membuat informasi mengenai intoleransi lebih mudah untuk diketahui dan ditangani.

“Itu cukup menolong, sehingga segala situasi yang terjadi bisa segera di cermati. Serta situasi-situasi yang kurang terkomunikasikan menjadi dapat dikomunikasikan,” katanya.

Senada dengan itu, Romo Roy berpendapat bahwa forum yang dibentuk diharapkan menjadi peredam konflik dan intoleransi yang terjadi. Terlebih lagi, di beberapa daerah di Lampung sudah merebak paham-paham terorisme dan radikalisme.

“Ketika ada riak-riak atau fenomena yang mengganggu keamanan nasional, bangsa, dan keresahan masyarakat, itu bisa langsung disampaikan sehingga tokoh-tokoh agama bisa langsung meminimalisir dan membantu mengkondisikan,” ungkapnya.

Menurut Selly Fitriani, walaupun termasuk ke dalam kota yang tingkat toleransinya tinggi, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa Lampung juga memiliki potensi yang besar untuk terjadinya intoleransi.

“Bahwa Lampung menjadi salah satu daerah yang rawan konflik. Mulai dari persoalan agraria, konflik tanah, selain itu Lampung juga menjadi salah satu kota sebagai kantong ekstrimisme dan terorisme,” katanya.

Selly menyayangkan peran perempuan yang belum dilibatkan secara khusus sebagai agen perdamaian di Lampung. Lebih memprihatinkan lagi bahwa saat ini perempuan malah menjadi eksekutor dalam kasus-kasus intoleransi.

“Perempuan aman nih kalau jadi eksekutor. Ada pelabelan semacam itu, yang menganggap bahwa perempuan itu patuh, sehingga apapun yang diminta dan diperintahkan menjadi amanah yang harus dilakukan,” pungkasnya.

 

Penulis: Antuk Nugrahaning Pangeran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *