by

Peduli yang Menyelamatkan

Oleh: Normal Ginting, SH

Dalam bacaan Injil Yoh 6:1-15, diceritakan bagaimana Yesus memberi makan lima ribu orang laki-laki (belum termasuk perempuan dan anak-anak) dan mereka makan sampai kenyang. Bahkan ada kelebihan makanan sampai dua belas bakul roti jelai. Suatu hal yang luar biasa namun seharusnya ada maknanya bagi kita saat ini.

Orang banyak berkumpul bukan karena kebetulan, tetapi karena mereka telah melihat, mendengar, dan merasakan mukjizat dari Yesus yang telah menyembuhkan banyak orang dari penyakit. Harapan untuk disembuhkan dan harapan untuk dapat hidup lebih baik menjadi harapan semua orang yang bergumul dengan perjuangan di dunia ini.

Suatu hal yang menarik adalah sesama manusia sebagai insan yang luhur mau peduli terhadap sesama. Kepedulian itu pertama-tama muncul dari Yesus sendiri, Ia bertanya: “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?”

Yesus bertanya bukan karena Ia bingung untuk memberi makan, tetapi karena Ia ingin menguji iman dan kepedulian para murid. Kadang-kadang kita merasa bahwa Tuhan tidak hadir dalam kehidupan kita sehari-hari, tetapi kita lupa kadang-kadang tidak mau melihat diri kita, apakah kita sudah sungguh-sungguh hadir dan peduli pada sesama kita, khususnya yang menderita.

Saat ini, ketika kita diajak menjaga jarak, bukan berarti membuat jarak untuk mereka di hati kita. Saat kita tidak dapat berkumpul, bukan berarti kita mengasingkan saudara-saudari kita dari hati kita. Bahkan saat mereka terisolasi, bukan berarti kita memisahkan mereka dari kehidupan kita. Mereka adalah orang-orang yang membutuhkan bantuan kita, minimal doa yang tulus ikhlas dari kita, yang menguatkan jiwa dan raga dalam kehausan akan kesembuhan dan kebahagiaan.

Sikap skeptis ditunjukkan oleh Filipus: “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja!”

Memang jawaban Filipus terdengar logis atau masuk akal bagi kita. Tapi Filipus lupa bahwa belum ada yang diperbuatnya kecuali menghindar dari kepedulian yang harus diusahakannya.

Jawaban murid Yesus yang lainnya, yakni Andreas, mungkin lebih baik, walaupun masih ragu: “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?”

Paling tidak Andreas sudah berusaha mencari tahu siapa yang membawa persediaan makanan. Awal dari penyelesaian masalah. Hal yang luar biasa karena justru yang membawa persediaan itu adalah seorang anak kecil. Pihak yang dianggap lemah, tak berdaya, bahkan kurang diperhatikan karena dianggap tidak dapat berbuat banyak. Perubahan besar terjadi karena langkah-langkah kecil dan sederhana, mau peduli dan mau berbagi.

Lalu Yesus mengambil roti itu mengucap syukur dan membagikan kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Tak lupa Yesus mengingatkan agar mengumpulkan kelebihan makanan yang ada, jangan ada yang terbuang.

Yesus mengajarkan kepada kita bahwa pentingnya bersyukur untuk segala hal yang kita alami. Tuhan akan mencukupkan apa yang sangat dibutuhkan oleh manusia, asal manusia mau bersyukur dan menghindarkan diri dari keserakahan. Wujud bersyukur juga adalah dengan tidak menghambur-hamburkan potensi yang dimiliki untuk sesuatu yang sia-sia.

Semoga kita bisa menjadi insan yang selalu bersyukur atas apa yang ada dan mau peduli kepada sesama kita, mulai dari hal-hal yang tampaknya kecil dan sederhana. Jangan lupa peduli dan itu membahagiakan!

 

Normal Ginting, SH (Pembimas Katolik Provinsi Kepulauan Riau)

Sumber: https://kemenag.go.id/read/peduli-yang-menyelamatkan-v39ny

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed