by

Peace Train Indonesia-Ruang Dialog Generasi Muda Lintas Agama (Bag. 1)

-Peacetrain-70 views

Ahmad Nurcholish

“Peace Train Indonesia adalah momen dan sebuah proses perjalanan dengan makna yang sangat mendalam. Mengapa? Kita bisa bertemu dengan saudara-saudara yang berasal dari agama dan kepercayaan yang berbeda. Di sini kita tak sekedar menyapa satu dengan yang lain, tapi juga mengenal, saling menghargai, dan saling menghormati.” (Estetika, Kristen, PTI 1 Jakarta – Semarang)

“Peace Train Indonesia adalah sebuah perjalanan. Perjalanan yang semua orang belajar untuk sabar, memupuk rasa empati, dan memahami perbedaan.” (Ade Nuriadin, Muslim, PTI 3 Jakarta – Yogyakarta)

“Melalui PTI saya mendapatkan banyak teman baru, mendapatkan pengetahuan, yang awalnya saya tidak tahu kemudian menjadi tahu. Saya mendapatkan informasi tentang berbagai agama yang berasal langsung dari sumbernya (penganut dan tokohnya langsung).” Mia Aulia, Khonghucu, PTI 2 Jakarta – Surabaya)

Pada Mulanya

Terik matahari siang itu sedang sengit-sengitnya ketika kami bertiga: saya, Pdt. Frangky (yang kini direktur ICRP), dan Anick HT (aktivis kebebasan beragama dan berkeyakinan) tengah menikmati menu makan siang di teras kantor Inspirasi.co di bilangan Ciputat, Tangerang Selatan. Seingat saya pada awal Agustus 2017 silam. Saat itu kami sedang break tapping (rekaman) video untuk sebuah program narasi damai untuk Indonesia. Di sela-sela makan siang itulah kami membicarakan alternative program atau kegiatan yang dapat diikuti oleh anak-anak muda dari berbagai agama sebagai ruang perjuampaan.

Bagi kami, yang sudah melang-melintang di dunia pergerakan, bukan perkara mudah untuk menghelat sebuah program tanpa ada resource yang jelas terkait sumber daya yang jelas. Baik sumber daya manusia maupun sumber dana untuk operasional. Ini yang kerap menghantui kami ketika puluhan ide bergelayutan di benak pikiran kami, tapi akhirnya harus hempas begitu saja ketika sampai pada urusan sumber daya pembiayaan.

Namun, siang itu kami tak kehilangan akal.

“Kita buat kegiatan berbayar,” kata Pdt. Frangky siang itu.

“Mana mungkin bisa?,” tukas Mas Anick menyela.

Anick HT mengatakan begitu bukan tanpa alasan. Selama ini, hampir semua program yang dikalaukan oleh kami dan teman-teman LSM/CSO (civil society organization) lainnya selalu dibuka secara gratis bagi penerima program. Semua tak berbayar alias gratis. Bahkan di beberapa program para peserta masih mendapatkan pengganti uang transport selama mengikuti program tersebut. Hal inilah yang membuat kami tak langsung optimis ketika mau menghelat sebuah program berbayar.

Sampai jam satu siang kami harus masuk kembali ke ruang studio untuk rekaman lagi. Pembicaraan soal rencana membuat program berbayar pun terhenti. Hingga sore hari menjelang senja kami kembali membahasnya. Masih di tempat yang sama. Sembari menyeruput kopi hitam panas yang kami pesan di café sebelah kantor, kami melanjutkan pembicaraan.

“Kita coba saja dulu, kawan,” ujar saya menyakinkan.

Pikir saya saat itu kalau kita tak pernah mau mencobanya maka tak akan tahu bisa atau tidaknya. Berhasil atau kegagalannya. Saya sampaikan beberapa contoh pula kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh lembaga lain yang berbayar dan ternyata mampu menarik minat banyak orang, khususnya kalangan generasi muda.

“Program apa kira-kira yang bisa kita buat?,” tanya Pdt. Frangky menyahut penuh semangat.

Kami kembali berbincang panjang, berdebat sengit merumuskan kegiatan atau program apa yang kira-kira diminati oleh anak-anak muda, khususnya kalangan millennial. Kami menganalisis beberapa program yang sebelumnya kami lakukan. Kenapa berhasil. Kenapa diminati dan bagaimana pembiayaan dan lain sebagainya. Sampailah pada kesimpulan bahwa program tersebut harus fun, menyenangkan dan memang kerap dilakukan oleh anak-anak muda dan juga mahasiswa  di masa liburan.

Setelah sampai pada kesimpulan itu, kami merumuskan apa dan bagaimana bentuknya kegiatan atau program tersebut. Ini tak kalah pelik. Kami yang semuanya sudah berkeluarga dan memiliki anak serta boleh disebut tak muda lagi. Karenanya tak gampang menyelami kegemaran anak-anak milenial jaman sekarang di kala mereka mengisi liburan. Yang paling sederhana yang bisa kami rekam dari anak-anak muda itu adalah jalan-jalan atau traveling.

“Kita buat program yang bentuknya jalan-jalan, traveling,” ucap Anick memberikan usulan.

“Persisnya bagaimana, Mas? Moda transportasinya?,” tanya saya kemudian.

“Kereta. Ya, kereta nampakya lebih keren…,” balas Pdt. Frangky.

“Kenapa harus kereta,” tanya Mas Anick lagi.

“Sebab hanya kereta yang tak dimiliki oleh pribadi atau per orangan. Mobil, ada mobil pribadi. Pesawat, ada pesawat pribadi, bahkan kapal ada kapal milik pribadi. Tapi kereta tidak mungkin dimiliki secara pribadi,” terang Pdt. Frangky menjelaskan.

“Oke. Kalau begitu kita namai program ini Peace Train Indonesia,” cetus Mas Anick.

“Wah, siip itu. Keren..!!,” sambut saya tanda setuju.

Pdt. Frangky pun demikian. Akhirnya kami sepakat mengunakan Peace Train Indonesia (PTI) sebagai nama program. Jadi, desain PTI adalah program jalan-jalan menggunakan moda trsnsportasi kereta api dengan misi menebar perdamaian. Ini adalah misi kami. Melalui PTI ini para peserta nantinya  – setelah mengikuti rangkaian kegiatan di dalammya – selanjutnya dapat tampil menjadi peacemaker, pembawa damai di lingkungan masing-masing di mana pun mereka berada.

Jembatan dan Ruang Perjumpaan

Indonesia dikenal sebagai Negara bangsa yang hidup dan tumbuh berbasis keragaman suku bangsa, ras, agama, kepercayaan serta adat istiadat yang berkembang melebihi umur republik ini. Karena faktor-faktor tersebutlah para pendiri bangsa ini merumuskan nilai-nilai dan falsafah bangsa yang disarikan dalam Pancasila dan juga pembukaan UUD 45 sebagai basis konstitusi Negara.

Salah satu nilai yang ada adalah toleransi dan penghormatan kepada yang berbeda. Nilai – nilai tersebut termanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari atau juga diwujudkan dalam kebijakan yang melindungi semua warga Negara tanpa terkecuali. Sayangnya, seiring perjalanan waktu dan perkembangan global yang terus berubah, nilai dan prinsip tersebut terkikis sehingga menjadi sumber konflik sosial. (Bagus Takwin, dkk, Studi Tentang Toleransi dan Radikalisme di Indonesia – Pembelajaran dari 4 Daerah: Tasikmalaya, Jogjakarta, Bonjonegoro dan Kupang, Jakarta: INFID (International NGO Forum on Indonesian Development), 2016, h. iv)

Salah satu permasalahan  yang saat ini terus mengemuka ke dalam ranah publik Indonesia adalah Intoleransi dan radikalisasi agama. Intoleransi dan radikalisasi agama diwujudkan dalam pelarangan kegiatan ibadah keagamaan, penyebaran kebencian, kekerasan berbasis agama ataupun pengrusakan tempat ibadah.

Fenomena tersebut, sebagaimana analisis INFID,  terus menguat seiring dengan derasnya keterbukaan arus informasi global dan semakin masifnya pola rekruitmen yang dilakukan oleh kelompok – kelompok radikal seperti ISIS ataupun kelompok teroris. Selain bentuk – bentuk intoleransi yang semakin beragam, wilayahnya juga semakin meluas. Penelitian awal the Wahid Institute (Wahid Foundation) menunjukkan bahwa ada kaitan geografis yang kuat antara tumbuhnya intoleransi keagamaan dengan perekrutan kelompok teroris dan ISIS. Intoleransi keagamaan sudah terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia, demikian juga dengan radikalisasi agama dan terorisme.

Berangkat dari latar itulah maka kami merasa perlu harus melakukan sesuatu dengan melibatkan orang muda dari beragam latar agama dan kepercayaan yang berbeda. Mengapa kaum muda?

Sebagai penggerak masa depan, kaum muda menjadi sangat penting. Kaum muda merupakan masa depan sebuah bangsa yang ingin maju. Kaum muda tidak bisa dituduh sebagai kelompok yang mengacaukan, tetapi mereka adalah kelompok masyarakat yang bergerak dan terus mencari. Mereka kaum muda tidak bisa ditempatkan sebagai entitas yang selalu dalam “kesesatan pikir” dan kesesatan tindakan atas nama agama/Tuhan. Dari merekalah justru kita harus menaruh harapan.

Di tangan merekalah Indonesia masa depan akan berada. Oleh sebab kaum muda masih mengenyam pendidikan di tingkat Menengah Atas sampai Perguruan Tinggi maka tidak bisa sembarang mengajarkan materi pelajaran ataupun materi kuliah yang tidak sesuai dengan realitas sosial.

Pendidikan kita, baik formal maupun informal harus mengajarkan realitas sehingga anak bangsa akan paham tentang realitas bukan hidup di dunia abstrak dan maya semata. Pendidikan harus mengajarkan realitas keragaman, pengakuan sosial atas keragaman-kemajemukan, serta mengajarkan misi damai membangun bangsa dan manusia bermartabat dalam dimensi yang luas. Sekali lagi kaum muda tidak hanya sebagai objek tetapi mereka adalah subjek yang memiliki dunianya sendiri. Oleh sebab itu perlu mendapatkan perhatian sebagaimana dunianya. (Zuly Qodir,  “Kaum Muda, Intoleransi, dan Radikalisme Agama”, dalam  JURNAL STUDI PEMUDA,  Vol. 5 , No. 1 , Mei 2016, h. 432-433)

Oleh karena itu, melalui PTI kami hendak melibatkan meraka kaum muda secara aktif menjadi actor dalam menumbuhkan sikap toleransi, mengikis radikalisme, dan bersama-sama mengupayakan terwujudnya perdamaian di Tanah Air. Upaya inilah yang kami mulai dengan cara mempertemukan mereka dalam sebuah momen kebersamaan. Kebersamaan itu yang kami sebut dengan Peace Train Indonesia. Paling tidak melalui PTI ini kami hendak menjadikanya sebagai dua hal penting.

Pertama, sebagai jembatan penghubung antara kaum muda berlatar belakang agama yang berbeda dari satu kota menuju kota lain yang juga terdapat komunitas kaum muda dari berbagai agama pula. Jermbatan inilah yang secara fisik kami gambarkan dan gunakan melalui moda kereta api. Kereta api merupakan angkutan massal. Di dalammya dapat dipastikan terdiri dari penumpang dari beragam latar belakang, baik suku, agama maupun adat atau budaya yang berbeda. Dari sinilah kami ingin mengajak para peserta PTI untuk memotret miniature Indonesia yang dihuni oleh beragam orang sebagaimana di dalam kereta tersebut. Potret keragaman itulah yang mesti mereka pahami lalu dikabarkan kepada teman-teman mereka di kota tujuan sebagai bahan refleksi dan pembelajaran.

Menurut hemat kami, jembatan penghubung antar sesama manusia dan antar komunitas masyarakat yang berbeda penting un tuk dicipkatan. Dari perjumpaan itulah antar orang yang berbeda dapat mengenal lebih dekat dan tidak enggan untuk membicarakan perbedaan dan keunikan masing-masing, khususnya dalam hal agama atau keyakinan. Ruang perjumpaan membawa kita untuk tak lagi memandang sesama dengan sebelah mata, melainkan sebagai saudara sesama umat manusia, sebagai umat Tuhan yang sama.

Kedua, sebagai ruang perjumpaan. Di dalam kereta, bahkan semenjak mereka masih berada di ruang tunggu perjumpaan sudah mulai dilakukan. Mereka saling memperkenalkan diri antar sesama peserta dan juga kepada para tim panitia. Inilah awal perjuampaan itu terjadi. Dari perjumpaan ini mereka saling tahu latar belakang agama atau keyakinan, dari daerah dan komunitas apa serta apa tujuan mereka mengikuti program ini. Perkenalanpun menjadikan mereka nampak dekat dan erat satu sama lain, meski mungkin masih ada prasangka dan saling menduga. Entah positif ataupun negative. (Media Indonesia, 3 Nov. 2017)

Selanjutnya ruang perkenalan mereka berlanjut memasuki kereta dan berjalan menuju kota tujuan. Di dalam kereta api itu mereka tak berdiam diri. Bangku yang dipesan oleh panitia dibuat sedemikian rupa. Diatur agar mereka yang datang dari satu komuniatas tak berdampingan lagi di kereta tersebut, melainkan dibuat berdampinmgan dengan peserta yang sebelumnya tak saling kenal. Dengan begitu semasa perjalanan juga ada proses untuk mengenal lebih mendalam satu sama lain sebelum mereka rehat malam hingga tiba di kota tujuan.

Di kota tujuan perjumpaan kembali terulang. Tak hanya sesama peserta dari Jakarta, melainkan dengan kaum muda dari komuntas agama-agama yang berbeda. Ada yang berbasis rumah ibadah, ada pula yang berbasis organisasi sisial kemasyarakatan dan keagamaan (LSM/NGO/CSO).

Dua hari satau malam selama di kota tujuan kami mengajak peserta untuk mengunjungi rumah-rumah ibadah yang berbeda. Ada ke masjid, gereja Kristen dan Katolik, vihara, pura, klenteng dan juga lithang umat Khonghucu. Di rumah-rumah ibadah tersebut kami disambut oleh tuah rumah untuk mempelajari lebih dekat ajaran, ritual/ritus, keunikan atau kekhasan masing-masing dan juga bagaimana relasi jemaat di rumah ibadah tersebut dengan masyarakat sekitar yang berbeda.

Kesemuanya itu dimaksudkan agar peserta mengetahui dan mengenal secara intensif berbagai aspek di setiap agama dari sumber atau penganutnya langsung, bukan dari orang lain yang tak menganut agama tersebut. Hal ini untuk menghindari prasangka dan prejudis yang kerap menghinggapi diri setiap orang sebelum mengenal lebih dekat. Para tuan rumah biasanya juga mengajak beberapa pengurus rumah ibadah dan juga jemaatnya untuk ikut serta mendampingi dan melayani para peserta yang dianggap sebagai tamu.

Sambutan ramah oleh para tuan rumah dari setiap rumah ibadah inilah yang membuat perubahan berarti dari para peserta PTI, yang umumnya sebagian besar belum pernah memasuki rumah ibadah yang berbeda dengan agamanya. Perubahan tersebut misalnya sebagaimana dialami oleh para santri dari sebuah pesantren di Madura ketika usai memasuki gereja di Malang, Jawa Timur.

“Oh, ternyata orang-orang Kristen itu baik-baik, ya..,” aku salah seorang santri.

“Saya baru tahu kalau umat Kristen itu bukan menyembah salib pada saat ibadah, tapi menyembah Tuhan,” ujar santri yang juga kuliah di perguruan tinggi Islam di Madura.

Semantara yang peserta Kristen pun mengaku baru tahu bahwa umat Buddha ketika beribadah itu bukan menyembah patung, melainkan juga menyembah Tuhan jua.

“Saya pikir patung Buddha itu yang mereka sembah, ternyata bukan,” ungkap peserta Kristen dari Jakarta. Hal yang sama juga dialami oleh peserta Muslim. Mereka menyangka, tidak hanya umat Buddha, umat Hindupun dianggapnya menyembah patung.

Singkatnya, dari kunjungan ke rumah-rumah ibadah tersebut tak hanya memperoleh ragam informasi terkait agama-agama tapi juga meresapi bagaimana hubungan antar umat beragama terjalin begitu dekat dan akrab. Tak terlihat ada sekat. Yang ada adalah hubungan kemunusiaan yang hangat dengan semangat penuh penghargaan, penghormatan dan toleransi satu sama lain. Inilah pembelajaran berharga yang kami dapatkan dari rangkaian kunjungan.

Selain dua tujuan di atas, melalui PTI ini pula kami gunakan sebagai instrument untuk menangkal maraknya ujaran kebencian dan kaderisasi masif bagi kelompok pemuda milenial untuk menjadi inisiator dan penggerak toleransi dan perdamaian. (Kompas, 26 Maret 2018)

 

Ahmad Nurcholish,  Co-Founder Peace Train Indonesia, Deputy Direktur Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) dan dosen Religious Studies Universitas Prasetiya Mulya, Tangerang – Banten.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed