by

Peace Education Sebagai Upaya Menciptakan Generasi yang Inklusif dan Humanis

-Opini-70 views

Oleh:  Rahmatus Solikha

Berbicara mengenai isu-isu keberagamaan di berbagai belahan dunia tak lepas dari realitas negeri tercinta, yakni Indonesia. Di negara yang kental akan kebudayaan dan keyakinan ini, kita akan dihadapkan pada lingkaran konflik keberagamaan yang rumit. Kita akan disuguhi kasus-kasus rasisme, fanatisme, radikalisme, ekstremisme, fundamentalis dan sederet problematika manusia lainnya.

Hal ini tentu sulit jika tidak menelaahn sejarahnya. Sungguh disayangkan, dalam negeri yang sangat plural dan berwarna ini, kita malah melihat noda hitam dimana-mana. Warna-warni yang diharapkan, justru hampir tak kasat mata. Permasalahan antar agama, suku maupun ras takkan ada habisnya dan berujung pada kekerasan.

Hal ini tentu menjadi sebuah tantangan yang masih dan akan terus dihadapi oleh masyarakat Indonesia, terlepas dari label ‘mayoritas dan ‘minoritas’. Lantas, bagaimana kita menghadapi tantangan tersebut? Kita dapat menghadapi realitas keberagamaan dengan menumbuhkan sikap toleransi dan perdamaian pada generasi-generasi muda bangsa, sepertihalnya generasi milenial dan Z. Kita dapat melangkah menciptakan perubahan melalui peace education atau dikenal pendidikan perdamaian.

Apa itu pendidikan perdamaian? Pendidikan perdamaian merupakan sebuah ide yang pertama kali dicetuskan dalam International Peace Conference pada tahun 1999. Acara tersebut merupakan pertemuan besar dari berbagai organisasi dunia untuk membicarakann permasalahan keberagaman dalam negaranya masing-masing. Dalam konteks global permasalahan di Indonesia dapat dikatakan cukup pelik. Oleh karenanya, Peace Education merupakan sebuah solusi yang tepat untuk menciptakan perdamaian skala nasional dan internasional.

Peace education atau pendidikan perdamaian pun akhirnya mulai diterapkan di berbagai negara, khususnya di Indonesia. Pendidikan perdamaian sebagai pembelajaran untuk menanamkan nilai-nilai toleransi dan esensi perdamaian dalam lingkungan formal maupun informal. Pendidikan perdamaian sebagai upaya melahirkan generasi yang toleran, cinta damai, inklusif dan humanis terhadap sesama. Pendidikan perdamaian juga merupakan sebuah strategi untuk melawan intoleransi, radikalisasi dan ekstremisasi di masa kini dan masa depan.

Dalam UUD pun telah dijelaskan pentingnya pendidikan perdamaian bagi suatu bangsa pada alinea keempat: “..mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial..” Oleh karena itulah, pendidikan perdamaian merupakan sebuah keharusan negara untuk memenuhi kebutuhan bangsa akan pentingnya sikap toleransi dan penerapannya dalam kehidupan sosial.

Baca Juga: Peace Education dalam Pendidikan Islam

Agama menjadi salah satu aspek yang amat mendominasi kondisi keberagaman yang sangat berpotensi menciptakan isu-isu dan konflik sosial di Indonesia. Agama membawa peranan amat penting dalam kehidupan manusia, karena mereka menjadikannya sebagai pedoman hidup dan jalan menuju Tuhan. Lainhalnya dengan mereka yang menjadikan agama hanya sebagai kebudayaan, filosofi hidup atau bahkan identitas. Agama bisa menjadi mutiara jika dipahami dengan baik.

Sebaliknya, agama pun dapat menjelma menjadi senjata tajam untuk menyerang siapa saja, tak peduli siapa, dari kelompok mana. manusia-manusia inilah yang tidak memahami esensi dari agama yang mereka anut. Sehingga, agama yang sejatinya adalah perdamaian, menjadi permusuhan. Dalam hal ini, agama telah menjadi sesuatu yang amat sensitif dan menimbulkan konflik sosial yang runyam. Tentu hal ini amat berbahaya bagi kelangsungan hidup.

Oleh karenanya, disinilah pentingnya peranan pendidikan damai agama. Pendidikan damai yang berfokus pada umat beragama untuk senantiasa menyikapi keragaman dengan sikap toleransi, menghargai dan menghormati setiap perbedaan yang ada. pendidikan damai sebagai upaya untuk menyampaikan pesan perdamaian secara eksplisit dan implisit kepada semua umat beragama di dunia ini.

Dalam penerapannya, pendidikan damai agama telah menyebar ke berbagai aspek pendidikan sekolah dan masyarakat. sepertihalnya dalam kurikulum pendidikan agama di sekolah. Pendidikan damai sebenarnya telah menyusup di beberapa mata pelajaran sekolah, khususnya pendidikan agama.

Namun, karena maish banyak pengajar yang lebih fokus pada aspek materi ibadah dan ritual agama, jadi pendidikan damai agama belum mendapat perhatian dan penekanan lebih kepada para anak didik. Sehingga, tak jarang masih banyak diluar sana peserta didik yang belum memahami betul apa itu perdamaian dan toleransi. Dalam aspek pendidikan informal, benih-benih pendidikan damai telah diberikan melalui kegiatan komunitas di beberapa daerah, seperti pada jaringan Gusdurian, Sekolah Damai Indonesia, komunitas Jakatarub Bandung dan sejumlah komunitas atau organisasi berbasis perdamaian lintas agama.

Bahkan di era pandemi, alur pendidikan damai ini semakin mengalir melalui content-content sosial media, webinar dan diskusi online lainnya. Hal ini membuktikan bahwa, pendidikan informal mampu memberikan ruang yang lebih lebar dan terbuka terhadap peace education ketimbang pendidikan formal sekolah. Tentu saja kesempatan ini tak patut disia-siakan bagi generasi milenial dan Z untuk menimba ilmu. Media sosial mampu memberikan mereka peace education yang lebih luas, sehingga dapat membentuk pemikiran inklusif dan toleran lebih mudah.

Melihat peace education yang semakin meluas dalam media sosial, saya kira akan lebih baik lagi jika pendidikan ini mendapatkan porsi yang sama sepertihalnya mata pelajaran lainnya. Hal ini dikarenakan peace education merupakan akar bagi tumbuhnya sikap toleransi dan kemanusiaan generasi bangsa guna menciptakan perdamaian dan melawan permusuhan di tengah perbedaan. Pendidikan damai agama mengandung esensi dan makna dari perdamaian antar sesama dan sebuah upaya untuk merespon realitas keberagamaan menumbuhkan sikap pluralitas dan multikulturalisme.

Pendidikan damai juga menjadi aspek terpenting dalam menjalin relasi antar keberagamaan. Meredakan ketegangan konflik, menjauhi kebencian, kekerasan bahkan pembunuhan antar sesama. Jika pendidikan damai agama telah diterapkan dengan baik, maka bukan tidak mungkin dunia ini akan menciptakan warna-warni perdamaian, kebahagiaan, keharmonian, keadilan dan Tuhan akan tersenyum bahagia di atas sana.

Indah sekali, bukan? Saya selalu teringat petuah lama yang berbunyi, “Dunia ini bisa menjadi damai, jika dimulai dari diri sendiri.” Jadi, daripada terlalu memusingkan kurikulum, lebih baik memulai berdamai dengan diri sendiri.

Rahmatus Solikha, Mahasiswi Studi Agama-Agama UIN Sunan Ampel Surabaya

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed