by

Pdt. Gomar Gultom Sang Pelayan Gereja dan Perawat Kemajemukan Bangsa

Oleh: Ahmad Nurcholish

Meski terlahir dari keluarga Batak, namun kiprah dan visi hidupnya melampaui sekat-sekat primordial, baik suku, ras, adat, budaya, bahkan agama atau keyakinan yang ada di sekelilingnya. Perjalanan hidupnya selama hampir 60 tahun telah menempanya menjadi manusia yang moderat dan selalu membuka diri bagi siapapun yang datang dari latar belakang yang beragam.

Ajaran kasih yang dipegangnya telah membuat Pendeta lulusan Sekolah Tinggi Teologia Jakarta ini memungkinkannya bergaul dan berinteraksi, bahkan bekerjasama dengan siapa saja dari beragam kalangan.

“Tuhan itu baik bagi semua orang.” Karenanya, kita harus mampu mengimplementasikan bahwa Tuhan baik kepada semua orang, tidak hanya kepada satu denominasi saja, tak hanya satu sinode saja, bahkan bukan hanya untuk PGI saja. Apakah dia Pentakosta atau Saksi Jehowa atau pun umat agama lain. Tuhan tak membeda-bedakan itu. Ia baik kepada semua orang penghuni bumi ini.

Bagi Bang Gomar, demikian ia biasa disapa oleh rekan dan sahabat-sahabatnya, Gereja adalah ekklesia di mana umat yang dipanggil keluar dan masuk ke dalam terangnya yang ajaib. Itu artinya Gereja harus menjadi terang bagi kehidupan banyak orang. Namun, ia menyanyangkan,  kerapkali Gereja tidak memberikan apa-apa bagi kehidupan banyak orang itu. Tuhan seolah hanya “bekerja” bagi orang atau kelompok tertentu saja.

Gomar Gultom, nama lengkapnya,  lahir di Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatra Utara pada 8 Januari 1959. Daerah ini merupakan pusat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), yang merupakan sinode gereja terbesar di Asia Tenggara. Ayahnya bernama Teodosus Gultom, seorang pegawai Departemen Agama RI, sedangkan ibunya bernama Ramean Siregar, seorang parrengge-rengge atau pedagang kata orang kebanyakan. Ia menghabiskan hidupnya di berbagai daerah di Indonesia, karena ia mengikuti kepindahan orang tuanya berdinas.

Pendeta yang dua kali terpilih sebagai Sekretaris Umum PGI ini sempat mengenyam pendidikan dasar di SD GKPI Air Bersih, Medan. Ia melanjutkan sekolah menengah pertama di SMP Kristen III, Salatiga. Lalu, ia menempuh pendidikan sekolah menengah atas di SMA Kristen I PSKD, Jakarta. Ia mengambil STT Jakarta sebagai tempatnya menempuh studi Sarjana. Di kampus ini, ia belajar mengenai teologi dan mempersiapkan diri sebelum menjadi pendeta. Ia ditahbis menjadi pendeta di Huria Batak Kristen Protestan (HKBP) pada tahun 1986. Saat ini, di kampus yang sama, dia sedang menyelesaikan pendidikan tingkat doktoral di jurusan devinity atau pelayanan.

Dari Pendeta, Dosen hingga Jadi Ketua Umum PGI

Karirnya sebagai Pendeta dan pelayan masyarakat memang moncer. Dua tahun menjadi pendeta, ia menjadi Dosen STT HKBP, Pematang Siantar pada tahun 1988. Tiga tahun kemudian menjabat sebagai Sekretaris Biro Pembinaan HKBP pada tahun 1991-1996. Pada tahun 1996, ia dipercaya untuk mengemban amanat sebagai  Direktor Lembaga Pengembangan SDM “Jetro” (1996-1999). Lalu, dari tahun 1999 sampai 2000, menjadi Direktur Program JK-LPK.

Suami dari Loli Lendrianita ini juga sempat menjabat sebagai Kepala Biro Pembinaan HKBP (2000-2005), dan selanjutnya sebagai Sekretaris Eksekutif Bidang Diakonia PGI (2005-2009). Karirnya di PGI kembali merangkak. Pada 2009, ia terpilih sebagai Sekretaris Umum PGI untuk periode 2009-2014. Di tahun 2014, ia terpilih kembali sebagai Sekretaris Umum PGI untuk periode 2014-2019.

Dalam ajang Sidang Raya (SR) XVII PGI 2019 yang digelar di Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur ( NTT), November 2019, ia terpilih menjadi Ketua Umum PGI untuk periode 2019 – 2024. terpilih dalam Sidang Panitia Nominasi dan Pemilihan SR PGI Ke-XVII yang digelar di Gereja Kristen Sumba (GKS) Payeti Cabang Praiwora, di Kelurahan Wangga, Kecamatan Kambera, Sumba Timur, NTT, Selasa, 12 November 2019.

Dal;am siding tersebut Pdt Gomar Gultom meraih 79 suara, mengungguli dua Calon Ketua Umum PGI lainnya yaitu Pdt Albertus Patty (32 suara) dan Pdt Dr.Tuhoni Telaumbanua (12 suara).

Meski menyandang tugas sebagai pendeta dan kini menjabat sebagai Ketua Umum PGI, namun hal itu tak membuatnya membatasi  berkiprahnya di masyarakat. terlebih hanya masyarakat Kristen. Gomar bergerak lincah melakukan tugas yang disebutnya sebagai ”Pengabdian bagi Tuhan dan Negara.” Di Jakarta, sebagai anak dari vorhanger atau penatua di HKBP Pulo Asem, Jakarta Timur, Gomar tentu aktif di gereja.

Namun, menurutnya, ilham yang membuat dia tertarik menjadi pendeta adalah Alfred Simajuntak, pencipta lagu Bangun Pemuda-Pemudi, ketika sang komponis menjadi pengajar untuk para guru Sekolah Minggu di mana Gomar juga menjadi salah seorang tenaga pengajar. Alfred tidak saja menggugah batinnya, tetapi juga memberi semangat dan kemampuan bagi Gomar yang telah memutuskan untuk menjadi seorang Hamba Tuhan.

Karena itu, Gomar tak pernah lupa pada orang-orang yang telah berperan mengantarnya hingga duduk pada posisi kariernya sekarang ini sebagai pengelola dari sekian banyak gereja dengan sekian banyak denominasi dan sinode di seluruh negeri ini. Tak hanya itu. Dari beragam denominasi dan sinode itu juga memiliki beragam kecenderungan dalam mengimplementasikan ajaran agama mereka.

“Melalui pengajaran, Simanjuntak mendorong saya untuk masuk sekolah teologia. Saya juga banyak dipengaruhi oleh pendeta Sahat Rajagukguk, seorang pendeta Gereja Kristen Protestan Indonesia, yang juga salah seorang pengurus PGI. Beliau pulalah yang mendorong saya untuk terjun dalam gerakan oikumene. Selain itu, S.A.E. Nababan turut memberikan pengaruh pada saya. Dan, yang tidak kalah besar pengaruhnya adalah ayah saya. Ayah saya dulu bekerja di Departemen Agama, dan duduk sebagai vorhanger di HKBP Pulo Asem,” ungkap Gomar menengok ke belakang, mengenang, menghitung orang-orang yang telah berjasa mengantarkannya ke posisi puncak yang menjadi dambaan banyak orang yang telah berserah diri menjadi hamba Tuhan.

Terjun Urusi Masalah Sosial dan Kebinekaan

Lulus dari STT Jakarta, Desember 1983, Gomar menjalani masa vikariat atau penggemblengan sebelum menjadi pendeta di Tongging, Tanah Karo, persis di bibir Danau Toba. Gomar tidak mau duduk di menara gading Gereja sebagai “amang pendeta” yang tiap hari mempersiapkan khotbah di mimbar. Baginya  khotbah bukanlah rangkaian kata-kata yang dibiarkan kosong. Khotbahnya adalah tindakan langsung, dengan terjun mengurusi masalah-masalah sosial dan melakukan penyadaran hukum melalui Kelompok Studi Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM).

Melalui LSM tersebut ia menjalankan panggilan gereja untuk hadir bersama masyarakat miskin, lemah dan menderita. Gomar tidak pernah mematok gelanggang pelayanan hanya di gereja. Dia juga menjadi dosen bagi para calon pendeta di STT Nomensen, Pematang Siantar. Dia sempat juga memberikan pelayanan khusus untuk pemuda di HKBP Resor Petojo, Jakarta. Tak hanya itu. Ia  juga yang menggagas penyelenggaraan Perkemahan Kerja Pemuda Gereja yang hingga kini masih dilaksanakan secara rutin oleh gereja-gereja yang bergabung dalam PGI.

Sebagai pendeta dan juga aktivis dia bersentuhan dengan Lembaga Penyadaran Hak-Hak Warga Negara, di Jakarta. Selain ikut menggagas berdirinya Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), dia juga aktif dalam Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI). Tahun 1991, dia dipercaya menjadi Kepala Biro Pembinaan HKBP.

Baca Juga: Buya Syafii Maarif; Sang Muazin Bangsa

Sebagaimana seorang pemuda dia juga mengalami cinta pertama dan sekaligus menjadi cinta terakhir bersama Loli Jendrianita Simanjuntak, seorang dokter spesialis ilmu penyakit dalam di RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan. Kedua sejoli ini dipertemukan oleh pandangan pertama. Mereka berkenalan pada waktu Gomar duduk di bangku SMA, sedangkan Loli ketika itu masih duduk di bangku SMP.

“Saya kenal dia sewaktu masih SMP. Saat itu, kita berkemah di Gunung Pangrango, Jawa Barat. Pulang dari sana kita mampir di Cianjur, rumah sepupu dari salah satu teman. Di sinilah pandangan pertama itu menemukan mimpinya. Di situlah kami kenalan, dikenalkan saudara sepupu teman saya itu. Sejak itu, kita surat-menyurat. Lancar terus-menerus. Kita pacaran semenjak SMA hingga perguruan tinggi,” ujar Gomar, seperti dikutip okohbatak.wordpress.com,  mengenang masa-masa romantisnya sebelum membangun biduk rumahtangga.

Tuhan mengaruniai pernikahannya seorang puteri, Agustina Marisi Nauli, yang telah lulus kuliah di Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, Bandung. Saat ini Agustina tengah melanjutkan studinya di mancanegara.

Terus Merawat Pluralisme

Selain aktif di gereja, Gomar juga giat di dalam masyarakat, sebagai aktivis dalam pelayanan buruh melalui PMK HKBP, bersama Luhut Pangaribuan, Ade Rostina Sitompul, Asmara Nababan, Yoppie Lasut dan beberapa pengacara lainya dari Lembaga Penyadaran Hak-Hak Warga Negara (LPHWN) di mana Gormar juga dipercaya sebagai sekretarisnya. Lewat lembaga ini pula, bersama teman-temannya, Gomar memberikan penyadaran hukum kepada para tahanan politik, terutama tahanan politik eks-PKI yang sangat rentan posisinya dan hampir terabaikan dalam aspek kehidupan selama rezim Orde Baru.

Tahun 1999-2004, Gomar juga aktif dalam pelayanan masyarakat Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen di Indonesia (JKLPK), dan jabatan terakhirnya adalah Direktur Program. JKLPK sendiri sangat aktif mengadvokasi pembentukan Kabupaten Mentawai. Juga mencarikan jalan damai bagi konflik di Papua dan Maluku.

Tak hanya itu. Sedari dulu Gomar juga aktif membangun semangat kemajemukan. Pada aras gereja dia aktif dalam gerkanan oikumenis dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika bersama-sama dengan penganut dan komunitas agama lain. Keberadaannya di  AKKBB, dan ANBTI. Juga mengusung semangat yang sama, bergerak melawan semangat sektarianisme, fundamentalisme, yang coba menggerus semangat keberagaman.

Tak hanya di dua lembaga tersebut. Belakangan ia juga turut berjuang merawat kebinekaan dan mewujudkan perdamaian bersama rekan-rekannya di Indonesian Conference On Religion and Peace (ICRP). ICRP merupakan wadah bagi tokoh dan aktivis lintas agama yang didirikan oleh Gus Dur dan  Djohan Effendi bersama tokoh-tokoh dari berbagai agama tahun 2000 silam.

Dari sosok Gus Dur lah Gomar banyak mendapatkan inspirasi bagi apa yang ia lakukan saat ini. “Gus Dur telah memberikan pelajaran bagi kita. Dia selalu memasang badan untuk orang-orang yang berupaya memberangus kemajemukan, yang mencoba merongrong semangat kemajemukan tersebut. Kita tidak menafikan adanya gesekan selama ini. Tetapi, buah hidup yang diperjuangkan oleh Gus Dur selama ini sudah mulai bersemi,” paparnya.

Menurut Gomar, selama masyarakat memperjuangkan kemajemukan yang telah ditancapkan Gus Dur, dan kita senantiasa menyokongnya, niscaya kebebasan beragama akan bersemi. Kita harus mandiri. Tanpa Gus Dur kita harus terus memperjuangkan pluralisme tersebut. Kita harus menjadi dewasa, dan terus merawat pluralime itu. [ ]

 

Ahmad Nurcholish, Pemred Kabar Damai, deputi direktur ICRP

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed