by

Pdt. Eben Haezer: Perkawinan Beda Agama Merupakan Realita

-Kabar Utama-117 views

Kabar Damai I Rabu, 14 April 2021

 

Yogyakarta I kabardamai.id I Fakultas Teologis Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta mengadakan diskusi teologis bertajuk Teologi Kristen dan Perkawinan Beda Agama melalui Zoom Meeting. Diskusi tersebut menghadirkan  Eben Haezer Lalenah, Pendeta Gereja Sidomukti Salatiga, dan Handi Hadiwitanto, Dosen Fakultas Teologi UKDW.

Eben menjabarkan pernikahan beda agama merupakan realita di tengah masyarakat plural sebagai bentuk cinta kasih yang bertumbuh diantara dua pribadi yang berbeda keyakinan.  Ketika dua insan tersebut berniat untuk hidup bersama dalam perkawinan, hal itu merupakan realita yang tidak dapat disangkal dalam masyarakat majemuk.  Namun pada kenyataanya banyak sekali kenyataan pahit yang harus dihadapi oleh pasangan beda agama.

“Tantangan terbesar hadir dari pihak keluarga bahkan berakibat pada pemutusan hubungan keluarga, tidak ada pendampingan dari komunitas (gereja) apalagi solusi, yang ada hanya jalan buntu. Bagi yang berduit bisa aja menikah di luar negeri, tapi sungguh ketidak adilan bagi pasangan yang tidak mampu,” ungkap Eben, Selasa, 13 April 2021.

Menurut Eben, problematika pernikahan beda agama berakar pada Undang-Undang (UU) Perkawinan No.1/1974 yang penuh dengan nuansa politik. Sebagian meyakini UU ini sebagai sebuah kesepaatan dan jalan tengah, namun sesungguhnya tidak, sebab pada akhirnya UU hanya mengakomodinir pemahaman perkawinan dari agama tertentu, penguatan identitas agama di pernikahan.

UU in multitafsir tidak melarang dan juga tidak mengatur, itu sebabnya di masa lalu, pernikahan beda agama menggunakan yurisprudensi (keputusan hakim terdahulu atas perkara yang idak diatur dalam UU).

Eben melanjutkan, “Ada gap antara wacana teologis di satu sisi dan sikap konkret gereja-gereja di Indonesia dalam konteks plural di sisi lain. Dalam praktiknya, gereja idak dapat menerima gagasan bahwa saudara mereka yang beragama dapat menerima berkatan atas pernikahannya, meskipun gereja mengklaim sangat terbuka dalam wacana teologis lintas iman.”

 

Baca Juga : Kisah Hidup Nida dan Mohan, Pasangan Pernikahan Beda Agama di India

Selanjutnya, Handi memaparkan mengenai beberapa catatan atas karakter beragama-berteologi dalam konteks pernikahan beda agama. Menurutnya, perlu proses untuk membangun pemahaman beda agama dan sikap iman berdasarkan tafsir kitab suci yang lebih terbuka. Diperlukan adanya komunitas religious yang berpikir keluar, bukan hanya soal identitas tetapi mulai dapat menerima diferensiasi, termasuk sikap pada keluarga, pernikahan dan hidup berkeluarga.

“Pandangan terkait Kitab suci itu perlu berkembang sebagai sumber inspirasi ilahi yang menjadi tempat berdialog dan bukan sekedar tempat membaca hukum sehingga lahir proses komunkasi iman yang dewasa, lalu sikap pluralitas kebenaran, termasuk pandangan pada kitab suci dan tafsirnya memerlukan transformasi berpikir di dalam praktik menggereja dan berkeluarga, “ tutup Handi.

 

Penulis : Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed