by

Paus Fransiskus Helat Misa Pertama di Irak

-Kabar Manca-141 views

Kabar Damai | Minggu, 7 Maret 2021

 

Jakarta | kabardamai.id | Paus Fransiskus menghelat misa publik pertama dalam perjalanannya ke Irak di Baghdad.

Dilansir CNN Indonesia dari AFP, ibadah dilakukan di gereja St. Josep, Baghdad tengah. Paus yang berusia 84 tahun tersebut memimpin liturgi pertamanya dalam ritus Timur.

Paus Fransiskus berangkat dari Vatikan ke Irak pada Jumat (5/3). Dia pun akan melakukan pertemuan dengan ulama Syiah, Ayatollah Ali Sistani dalam kunjungan bersejarahnya.

Mengutip Reuters, Paus diagendakan akan mengunjungi empat kota di Irak yakni ibu kota Baghdad, bekas pertahanan ISIS di Mosul yang menyimpan gereja dan bangunan lain saksi bisu konflik, tempat kelahiran Nabi Ibrahim di Ur, dan kota suci Najaf.

Menyambut kedatangan Paus, Irak mengerahkan ribuan personel keamanan untuk memberikan pengamanan selama kunjungan. Terlebih Irak digempur serangkaian serangan roket dan bom bunuh diri yang memicu kekhawatiran terhadap keselamatan Paus.

 

Pentingnya Perdamaian

Dikabarkan BBC News, dalam lawatannya Paus Fransiskus membahas keselamatan kelompok minoritas Kristen di Irak dengan seorang ulama Islam Syiah terkemuka, pada hari kedua lawatan bersejarahnya ke negara itu.

Kantor Ayatollah Agung Ali al-Sistani, pemimpin spiritual jutaan Muslim Syiah, mengatakan pembicaraan tersebut menekankan perdamaian. Sang Ayatollah menerima Paus di rumahnya di kota suci Najaf.

Kunjungan ke Irak merupakan kunjungan internasional pertama Paus sejak awal pandemi – dan lawatan pertama pemimpin Katolik dunia ke Irak.

Dalam perbincangannya dengan Paus, Ayatollah Agung al-Sistani “menegaskan kepeduliannya bahwa warga Kristen harus hidup dalam perdamaian dan keamanan seperti semua warga Irak, dan dengan hak konstitusional mereka secara penuh”.

Baca Juga: Paus Fransiskus Akan Bertemu dengan Ayatollah Ali Sistani

 

Paus Fransiskus berterima kasih kepada Ayatollah karena telah “mengangkat suaranya untuk membela mereka yang paling lemah dan paling teraniaya” selama masa-masa paling kejam dalam riwayat Irak, lansir kantor berita Associated Press.

Pesan perdamaian pemimpin Syiah itu, katanya, menegaskan “kesucian hidup manusia dan pentingnya persatuan rakyat Irak”.

Paus Fransiskus setelah ini akan berangkat ke kota kuno Ur, yang diyakini sebagai tempat kelahiran Nabi Ibrahim, tokoh sentral bagi agama Islam, Kristen, dan Yahudi.

BBC News menyebut Komunitas Kristen di Irak, salah satu yang tertua di dunia, telah menyaksikan jumlah mereka merosot dalam dua dekade terakhir dari 1,4 juta hingga sekitar 250.000, kurang dari 1% populasi.

Banyak yang melarikan diri ke luar negeri dari kekerasan yang telah melanda negeri itu sejak invasi yang dipimpin AS pada 2003, yang menggulingkan Saddam Hussein.

Puluhan ribu orang Kristen juga terusir dari rumah mereka ketika kelompok militan yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) menyerbu Irak utara pada 2014, menghancurkan gereja bersejarah, merampas properti mereka, dan memberi mereka pilihan untuk membayar pajak, masuk Islam, pergi, atau dihukum mati.

Bagi Vatikan, lawatan ke Irak menjadi kesempatan yang sangat berharga bagi Paus Fransiskus untuk menemui langsung komunitas Kristen, berada di tengah-tengah mereka dan memberikan dukungan penuh.

Sebelumnya, di dalam pesawat menuju Irak, Paus mengatakan dirinya senang bisa melakukan perjalanan lagi, dan menambahkan, “Ini adalah perjalanan simbolik dan ini adalah tugas menuju tanah yang menjadi martir selama bertahun-tahun.”

 

Menyembuhkan Luka Irak

Menurut The New York Times, presiden Irak saat ini, Barham Salih, mengirim undangan untuk Paus Fransiskus pada Juli 2019 dengan harapan lawatannya bisa membantu menyembuhkan luka Irak, negara yang dikoyak-koyak perang selama bertahun-tahun.

Paus menerima undangan ini dan mengatakan bahwa dirinya tak ingin mengecewakan rakyat Irak, terutama komunitas Kristen di sana.

Vatikan memahami tantangan yang dihadapi Paus — baik faktor keamanan maupun situasi pandemi — tapi manfaat yang didapat dinilai jauh lebih banyak. Ini adalah kesempatan berharga bagi Paus untuk mendukung dan berada di tengah mereka, salah satu komunitas Kristen tertua di dunia.

Beberapa jam setelah serangan roket ke sebuah pangkalan militer yang menampung pasukan AS pada Rabu (03/03), Paus menegaskan bahwa umat Katolik di Irak tidak boleh “dikecewakan kedua kalinya”. [ ]

 

Penulis: A. Nicholas | Editor: –

Sumber: CNN Indonesia, BBC News, The New York Time

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed