Paralelisasi “Api” dalam Masyarakat Adat Sunda Wiwitan dan Kristen

Kabar Utama119 Views

Oleh: Jurjis Gigih

 

Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharmma Mangrwa. Seloka yang terdapat dalam Kakawin Sutasoma karya pujangga Mpu Tantular yang artinya “berbeda-beda tetapi tetap satu juga, tidak ada kebenaran yang mendua”.

Bhinneka yang kemudian menjadi ideologi Pancasila, dimana sejak awal dihidupi sebagai “teologi kerukunan” bukan sebuah sinkretisme, dan pada akhirnya menjadi salah satu dari empat pilar bangsa kita. Indonesia adalah keberagaman, kebersamaan, kepelbagaian etnis, budaya, suku, ras, dan agama telah menjadi satu dalam bumi Nusantara ini, secara khusus tak lepas dari salah satu kepercayaan yang ada di Indonesia ini, yaitu Penghayat Sunda Wiwitan.

Secara pribadi, penulis sangat berterimakasih dan mengapresiasi kegiatan “Anjangsana” ini yang diselenggarakan oleh ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) pada tanggal 6-8 Desember 2021. Untuk pertama kalinya penulis mengikuti kegiatan ini, terutama saat berkunjung ke gedung Paseban Tri Panca Tunggal, menjadi tempat peribadatan Komunitas penghayat Sunda Wiwitan yang terletak di Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Penulis meyakini Paseban adalah salah satu kekayaan Nusantara, Paseban Tri Panca Tunggal merupakan bangunan cagar budaya yang sudah berdiri sejak tahun 1840, didirikan oleh Pangeran Sadewa Madrais atau dikenal sebagai Kyai Madrais, begitu penjelasan Ibu Dewi yang sekaligus sebagai Pangaping Adat penghayat Sunda Wiwitan tersebut.

Ibu Dewi memberikan penjelasan yang sangat menarik bagi saya dan segenap peserta anjangsana mulai dari sisi historis maupun filosofis sembari menghantarkan kami ke setiap ruangan yang ada dalam Paseban. Sambil bertamasya menuju setiap ruangan, sampai pada ruangan terakhir yang membuat hati saya serentak menimbulkan ragam pertanyaan, yaitu Dapur Ageung.

Baca Juga: Sunda Wiwitan: Ekspresi Kekayaan Budaya Nusantara

Ruangan Dapur Ageung digunakan oleh para penghayat untuk beribadah, dan disana terdapat sebuah tungku perapian yang berukuran besar. Mereka melakukan ibadahnya dengan cara menyalakan api.

Mungkin dalam benak setiap orang yang melihat akan muncul anggapan bahwa penghayat Sunda Wiwitan menyembah api. Namun faktanya tidak demikian setelah Ibu Dewi memberikan apologetika-nya, beliau juga menyadari akan anggapan masyarakat selama ini, “kami selalu dianggap menyembah api”, kata Ibu Dewi, tetapi dengan santun dan lemah lembut Ibu Dewi menjawab kesalahpahaman tentang penyembahan api itu.

Menurut mereka, api bukan untuk disembah, tetapi sebuah metode olah rasa yang dilakukan dalam panca indra, bermeditasi, menyelaraskan pikiran dan perbuatan. Dan, yang menarik perhatian saya adalah api juga sebagai yang merepresentasikan “energi” dalam kehidupan, api memiliki dua sifat, sifat negatif dan posifif, maka api harus dikendalikan dengan positif agar tak membawa sifat yang mencelakakan.

Dari penjelasan Ibu Dewi tentang api, sebagai umat Kristen penulis menyadari bahwa ada titik temu paralelisasi yang dipahami tentang “energi” pada api. Sebab bagi iman Kristen, manusia diciptakan menurut fitrah-Nya (Gambar dan Rupa Allah dalam Kitab Kejadian), artinya manusia memiliki potensi ilahi yang berasal dari Sang Hakekat itu, tetapi manusia pada akhirnya melanggar.

Akibatnya manusia mengalami kemerosotan (hamartia) kodrat asalinya, kendatipun manusia telah mengalami kemerosotan, tapi masih ada sisa-sisa “gambar Ilahi” tadi dalam diri manusia, buktinya manusia masih dapat merasakan “energi” yang ada dalam jagad, sebab ada hubungan antara Yang Maha Kuasa itu dengan alam semesta dalam hal penciptaan.

Yang Maha Kuasa memilki “hakekat/Dzat/esensi”-Nya pada diri-Nya snediri, dan Yang Maha Kuasa menciptakan jagad ini bukan melalui “hakekat-Nya” tetapi dalam bentuk “energhia”-Nya yang keluar bergerak dari dalam “hakekat-Nya” sehingga makhluk hidup hanya dapat merasakan “energhia” yang ada pada alam ini bukan pada “hakekat-Nya,” dan dalam kepercayaan Kristiani meyakini “api kemuliaan/nur ilahi” Allah itu eksis dalam bentuk “energi,” pada saat hari akhir nanti, jika manusia didapati tidak berkenan dihadapan-Nya, maka “api kemuliaan Allah” akan membakar dirinya sendiri. Namun sebaliknya, jika manusia berkenan dihadapan-Nya, maka “api kemuliaan” Allah itu tidak membakar dirinya melainkan menyucikan dirinya.

Sangat indah sekali jika kita saling mengenal dan memahami satu dengan yang lain tanpa adanya intervensi. Penghayat Sunda Wiwitan menyadarkan kita semua supaya tidak ada lagi misunderstanding yang terjadi diantara kita, biarlah penghayat Sunda Wiwitan menjadi kebanggaan kita semua sebagai salah satu identitas bangsa Indonesia yang kaya akan budaya, suku dan kepercayaan, percaya terhadap sila Pancasila yang pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *