by

PaPPirus, Kembangkan Pendidikan Inskusif Tentang Keragaman

Kabar Damai I Selasa, 07 Desember 2021

Pontianak I Kabardamai.id I Upaya-upaya dalam rangka menciptakan ruang-ruang yang inklusif serta ramah akan hal-hal yang bersifat keberagamaan menjadi hal yang penting dan harus senantiasa didorong.

Melalui kesadaran tersebut, sejatinya dapat menjadi upaya dalam rangka menciptakan situasi yang toleran dan jauh dari intoleransi. Terlebih, Indonesia sebagai negara yang luas dan terdiri dari berbagai aspek kehidupan sangatlah rentan atas hal-hal tersebut.

Listia Subono dari PaPPirus menjelaskan tentang bagaimana kesadaran baik itu diimplementasikan dalam kehidupan. Terlebih, dari temuan masalah-masalah yang juga dihadapi oleh paguyuban ini sehingga menciptakan keresahan yang diupayakan dalam mencari jalan keluarnya.

Menurut Listia, awalnya PaPPirus adalah komunitas guru, dosen, mahasiswa, peneliti yang kemudian berkembang menjadi paguyuban.

Menurutnya pula, keberadaan PaPPirus ada karena banyaknya masalah yang dihadapi dan ditemukan, yang diantaranya ialah:

  1. Penyeragaman pendidikan. Anak tidak diberi kesempatan berkembang sebagai pribadi yang unik.
  2. Agama adalah sesuatu yang memisahkan manusia, karena pada saat belajar agama maka anak-anak dipisahkan.
  3. Para guru hanya bisa mengikuti instruksi pemerintah. Sangat sedikit bagi guru untuk berekspresi.
  4. Tidak semua guru siap berkolaborasi dalam isu sensitif gender, misalnya belajar dari waria.

“Masalah-masalah itu bukan hanya pada pendidikan agama, tetapi pada praktik pendidikan. Pendidikan seharusnya mendekatkan peserta didik dengan keragaman. Perbedaan adalah kenyataan hidup,” ungkapnya dalam sebuah webinar kolaboratif yang diselenggarakan oleh Yayasan Suar Asa Khatulistiwa (SAKA) di Pontianak, Kalimantan Barat.

Baca Juga: Menyatukan Keragaman Bangsa di Era Digitalisasi

Telah banyak praktik baik yang telah dilakukan oleh paguyuban ini. Termasuk menjangkau para guru agama.

“PaPPirus membuat program pelatihan guru-guru agama. Metode pelatihan yang dilakukan antara lain membongkar prasangka, mengklarifikasi kesalahpahaman, dan sebagainya dibincangkan oleh guru-guru dalam berbagai agama. Isu-isu yang sensitif dibincangkan,” tuturnya.

Pola keterbukaan, saling ingin tahu dalam rangka mencegah stigma dan prasangka juga turut dikembangkan.

“Selain itu para guru berkunjung bergantian ke sekolah-sekolah, membincangkan hal yang sama. Dalam dialog itu dibahas secara terbuka, misalnya pertanyaan para guru agama Islam kepada romo (pemuka agama Katolik) tentang bagaimana cara mereka menjelaskan tentang trinitas kepada anak didiknya,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa pendidikan keluarga, komunitas, dan lembaga perlu berjejaring secara setara. Sebagaimana trinitas pendidikan yang dinyatakan Ki Hajar Dewantara. Sejauh ini posisinya lebih ditinggikan antara satu dengan lainnya. Padahal tidak bisa yang satu dilebihutamakan dibanding lainnya, demi mencipta kemanusiaan yang beradab di masa kini dan mendatang.

Lebih jauh, ia menyatakan hal yang ingin dicapai oleh paguyuban ini. “Hal yang ingin dicapai dalam program-program PaPPirus adalah meretas eksklusivitas, melainkan juga ada permasalahan ikutan selain prasangka, seperti masalah gender dan status sosial. Kami menemui banyak mahasiswa dan guru perempuan yang bergiat di isu keberagaman, karena mereka sering didiskriminasi,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed