by

Panggung Setara untuk Disabilitas

Kabar Damai I Selasa, 20 Juli 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Masa depan harus bisa diakses setiap orang, termasuk para disabilitas fisik atau mental. Tetapi perjuangan untuk mencapai ruang setara memang masih panjang, baik karena insfrastruktur belum inklusif, lingkungan sosial yang diskriminatif, atau kebijakan yang belum sepenuhnya pro disabilitas. Bahkan, permasalahan semakin sulit atas masih adanya perlakuan buruk seperti body shaming dan lain sebagainya.

Upaya untuk mencapai kesetaraan bagi para disabilitas tidak dapat dilakukan seorang diri. Bersama-sama, melalui pemikiran dan kontribusi baik dapat menjadi upaya untuk mengupayakan panggung yang setara bagi disabilitas itu sendiri.

Bulan Karunia Rudianti, Aktifis dan Influencer Disabilitas serta Ni Komang Ayu Suriani, Founder dan CEO Difalink melalui Ruang Publik KBR upaya yang dapat dilakukan guna membangun panggung untuk disabilitas.

Bulan, disabilitas yang sebelumnya juga pernah terlibat dalam pagelaran Asean Para Games menyatakan bahwa kondisi pandemic sangat berpengaruh pada dirinya saat ini. Ia menghabiskan waktu dengan belajar online karena tidak dapat bersekolah, selain itu ia juga menggunakan waktu untuk belajar gambar digital.

Baca Juga: Perlunya Masjid Ramah Disabilitas di Indonesia

Sebagai influencer yang memiliki banyak pengikut dimedia sosial, Bulan terus memberikan pesan aksi semangat yang ditujukan kepada para pengikutnya tersebut terlebih saat masa sulit pandemic seperti saat ini.

“Ada mengadakan aksi berbagi sosial, juga ada membuat video motivasi kepada teman-teman,” ungkapnya.

Tantangan Kesetaraan Bagi Disabilitas

Turut hadir Purwati, ibunda dari Bulan yang menyatakan tantangan bagi disabilitas saat ini. Tantangan ini salah satunya ditunjukan oleh sekolah yang masih belum ramah dan bahkan menolak anak disabilitas untuk bersekolah disana.

“Masih ada masyarakat yang menganggap anak-anak disabilitas susah untuk bersekolah disekolah umum. Masih ada penolakan-penolakan yang tidak mau menerima mereka,” ungkapnya.

Terlebih saat pandemi, menurutnya tantangan tersebut justru semakin tambah memprihatinkan. Misalnya, karena pandemi membuat anaknya yang biasa melakukan aktifitas sosial sosial diluar menjadi tidak dapat lagi melakukan karena aturan dari pemerintah guna mencegah laju penularan.

Bulan yang saat ini di sekolahkan di sekolah umum juga masih mengalami pembulian. Bahkan, saat proses pendaftaran menurut sang ibu juga sempat mengalami penolakan karena melihat kondisi fisik yang dianggap berbeda dari anak-anak yang lain. Terlebih, penolakan dilakukan oleh sekolah.

Perihal permasalahan bagi disabilitas yang masih sangat kentara tersebut, Suri  yang merupakan Founder dan CEO Difalink menyatakan rasa prihatinnya. Oleh karenanya, ia mengajak semua kalangan untuk faham bahwa disabilitas juga merupakan bagian dari keberagaman.

“Tentunya pasti prihatin, harusnya pendidikan itu dasar bagi kita semua untuk bertindak kedepan. Menurut saya khususnya negara berkembang seperti negara kita yang mana situasi masyarakat masih banyak dengan stigma negatif tentu perjuangan untuk mengikis stigma itu tidak bisa sebentar,”.

“Disabilitass itu merupakan salah satu bentuk diversity. Keberagaman itu bukan hanya warna kulit, ras, agama, dan bahasa tapi juga disabilitas. Jika kita sudah paham itu, mungkin kedepannya kita bisa menerima teman-teman disabilitas sebagai bagian dari kita dan melibatkannya dalam berbagai kegiatan dan fasilitas umum,” tuturnya.

Ditengah keterbatasan menjadi disabilitas dan tantangan-tantangan besar lainnya. Bulan tetap tumbuh dengan semangat dan prestasi serta kreatifitas. Menurutnya, dukungan dari keluarga menjadi kunci utama dalam semangatnya kini.

“Bulan selalu disuport oleh orang tua dan juga kakak, mereka yang tidak ada henti-hentinya dalam mensuport. Mereka selalu memberikan semangat dalam menunjukkan kalau Bulan bisa lebih hebat,” kata Bulan.

Dukungan dari keluarga terbukti berdampak besar bagi Bulan, ia diajarkan untuk dapat berdamai dengan diri sendiri walaupun harus duduk dikursi roda karena keterbatasannya. Dengan menerima kekurangan, ia akan dapat beraktifitas keluar tanpa rasa malu.

Saat masuk Sekolah Dasar, Bulan masih kerap mendapatkan ejekan bahkan perlakuan kurang mengenakkan dari teman-temannya seperti didorong dari kursi roda dan terjatuh. Hal tersebut sempat membuat Bulan rendah diri. Darisana ia mendapatkan semangat dan terus percaya diri hingga kini.

Selalu menjadi pribadi yang kreatif dan menghasilkan sesuatu kini menjadi salah satu bentuk keseharian Bulan. Nilai semangat dan terus berkarya diberikan oleh keluarga serta pemahaman untuk tidak bergantung pada orang lain dan terus berusaha membuat Bulan rajin berlatih dalam hal positif sepeti olahraga panahan dan juga menggambar.

Disabilitas dan Kesempatan Kerja

Menjadi disabilitas bukan akhir dari segalanya, masih banyak disabilitas yang dapat berdaya dan sukses karena usaha dan kemauan yang dilakukan. Namun, kebanyakan yang menjadi tantangan justru datang dari keluarga.  Tidak adanya dukungan dari keluarga membuat para disabilitas kemudian hanya berdiam diri dan tidak melakukan apapun karena dianggap tidak mampu.

Menurut Suri, membangun kepedulian dan edukasi perihal permasalahan semacam ini memang sepantasnya dilakukan dalam lingkup kecil yaitu keluarga terlebih dahulu. Dukungan dari keluarga terbukti dapat meningkatkan semangat pada disabilitas untuk melakukan suatu hal yang berguna minimal bagi dirinya atau lebih besar lagi berdampak pada sekitar.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed