by

Pandemi Covid-19 di Asia Tenggara dan Solidaritas ASEAN

Kabar Damai I Jumat, 13 Agustus 2021

Jakarta I kabardamai.id I Komisioner Pengkajian dan Penelitian Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Sandrayati Moniaga, menyampaikan apresiasi kepada Asian Forum for Human Rights and Development (FORUM-ASIA) yang telah memberikan perhatian khusus pada isu HAM dan pandemi COVID-19.

Hal itu diungkapkan saat Sandra menjadi salah satu penanggap dalam kegiatan Human Rights in the time of COVID-19: Addressing the Crisis in Southeast Asia pada Selasa, 10 Agustus 2021.

Dilansir dari laman Komnas HAM RI, Sandra – sapaan akrab Sandrayati Moniaga – menyampaikan bahwa Komnas HAM telah melakukan beberapa hal dalam menanggapi situasi pandemi COVID-19, antara lain dengan melakukan pengamatan atas situasi pandemi di Indonesia sejak tahun lalu dan memberikan rekomendasi kepada Presiden terkait situasi pandemi COVID-19 pada Maret dan Oktober 2020. Selain itu, yang terbaru, Komnas HAM merilis Keterangan Pers “Kebijakan Penanganan COVID-19 Harus Luar Biasa dan Humanis” pada akhir Juli 2021.

Komnas HAM juga membentuk tim untuk memonitor situasi HAM yang berhubungan dengan pandemi COVID-19.

Sebelumnya, pada Senin, 9 Agustus 2021, Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik menjadi narasumber dalam acara yang sama. Dalam kesempatan itu, Taufan menyampaikan tentang respons Komnas HAM atas situasi HAM di tengah pandemi Covid-19. Komnas HAM meskipun dalam situasi yang sulit karena pandemi Covid-19, tetap berupaya menjalankan mandatnya secara optimal agar HAM tetap dihormati dan dipenuhi meskipun terjadi krisis kesehatan.

Lebih lanjut, Sandra menyampaikan pandangannya terkait Rencana Aksi yang telah dibuat oleh Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) untuk melibatkan National Human Rights Institution (NHRI) dan ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR) untuk mengarusutamakan HAM dan gender dalam situasi pandemi COVID-19.

“Sehubungan dengan rencana aksi yang telah disebutkan, saya pikir secara umum masalah-masalah penting sudah diangkat. Kami berharap agar ada koordinasi yang lebih kuat antara AICHR dan OMS, khususnya mereka yang memiliki program serupa, baik di tingkat nasional atau pun regional,” jelas Sandra.

Membangun Solidaritas dan Berbagi Praktik Baik

Tak hanya itu, menurut Sandra, penting untuk membangun kerangka kerja yang komprehensif.

“Saya pikir penting juga untuk mengembangkan forum komunikasi yang dilembagakan antara AICHR dan Organisasi Masyarakat Sipil untuk membangun komunikasi yang lebih rutin selama pandemi ini. Tujuannya untuk berbagi praktik terbaik, pengetahuan, dan membangun solidaritas yang lebih kuat,” lanjut Sandra.

Selain itu, Sandra juga menyoroti tentang banyaknya tantangan dan ancaman serius bagi para pembela HAM (Human Rights Defender) baik yang ada di OMS maupun di NHRI.

Baca Juga: Forum Nusantara, Ajang Perkuat Perdamaian dan Kesetaraan Gender

Sebagai informasi, kegiatan ini berlangsung selama 2 (dua) hari, yaitu pada 9-10 Agustus 2021. Hadir dalam kegiatan ini perwakilan dari National Human Rights Institutions (NHRI) di Asia Tenggara, juga perwakilan dari ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR) dan Asian Forum for Human Rights and Development (FORUM-ASIA).

Kebutuhan Oksigen Harian Indonesia Turun 9,8%

Sumber Foto: ANTARA

Sementara itu, berdasarkan data PATH, Indonesia membutuhkan 1.546.446 meter kubik (m3) oksigen per hari untuk penanganan virus corona Covid-19 hingga Senin, 9 Agustus 2021. Meski masih jadi yang terbesar di Asia Tenggara, namun kebutuhannya turun 9,8% dibanding 4 Agustus 2021.

Data yang dihimpun katadata.co.id, Thailand dan Malaysia menyusul dengan kebutuhan oksigen harian yang masih meningkat. Kebutuhan oksigen di Negeri Gajah Putih tercatat sebesar 877.509 m3, naik 12,2% dalam lima hari. Jumlahnya di Malaysia sebanyak 823.436 m3 atau naik 11,3% pada periode yang sama.

Kebutuhan oksigen di Vietnam juga tercatat meningkat menjadi 372.471 m3 per hari. Di Filipina, kebutuhan oksigen naik menjadi 370.402 m3 per hari. Kebutuhan oksigen harian di Laos dan Timor Leste pun meningkat masing-masing menjadi sebesar 11.785 m3 dan 3.936 m3.

Sebaliknya, Myanmar dan Kamboja mengalami penurunan permintaan oksigen harian. Kebutuhannya di Kamboja tercatat sebesar 185.210 m3 atau turun 13,8% dibandingkan lima hari lalu. Kebutuhan oksigen di Kamboja sebesar 27.962 m3 atau menyusut 13,2% pada periode yang sama.

PATH memperkirakan besarnya kebutuhan oksigen berdasarkan laporan kasus corona. Semakin banyak kasus corona, maka semakin besar pula kebutuhan oksigen harian di suatu negara. Begitu pula sebaliknya.

Atas dasar itu, penularan corona perlu dicegah dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan 3M, yakni memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun. Masyarakat pun diharapkan menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas.

Solidaritas ASEAN

Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) telah menunjukkan kemampuan untuk menjaga nilai-nilai solidaritas dan kemitraan kuat di tengah pandemi COVID-19 yang menjadi ujian bagi berbagai negara di dunia, termasuk negara-negara anggota ASEAN.

Dalam pidato yang disampaikan pada perayaan virtual hari jadi ASEAN yang ke-53 dari Jakarta, Sabtu, Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi mengatakan pandemi COVID-19 telah menjadi ujian bagi nilai-nilai kebersamaan dan kerja sama di kawasan.

“Namun, sejak awal wabah merebak, ASEAN telah cepat dalam merespons. Mulai dari berbagi informasi, memfasilitasi repatriasi warga negara-negara, menjaga pergerakan perdagangan, hingga membantu mereka yang membutuhkan,” kata Menlu.

Menurut dia, krisis COVID-19 telah menunjukkan bahwa pandangan yang terlalu fokus pada cara pandang yang bersifat ke dalam (inward looking) bukanlah pilihan.

Oleh karena itu, dia meyakini untuk bertahan dari krisis ini, ASEAN perlu menegaskan sikap bertanggung jawab atas satu sama lain. Negara-negara di kawasan perlu bekerja sama untuk menghidupkan kembali ekonomi, mengembalikan pekerjaan-pekerjaan, dan membangun kembali kepercayaan pasar, termasuk dengan mengembalikan perjalanan-perjalanan secara bertahap dan berhati-hati.

“Kita juga harus bergerak bersama untuk menjaga kedamaian dan stabilitas di kawasan, dan tidak terbawa arus tensi geopolitik atau dipaksa untuk memilih kubu. Kita harus berada di depan untuk menjaga sentralitas, menjaga relevansi, dan berada di kursi pengemudi dalam mengubah rivalitas menjadi kerja sama, dan ketidakpercayaan menjadi kepercayaan strategis,” paparnya.

Dia pun menekankan bahwa nilai-nilai ASEAN harus menjadi prinsip panduan, termasuk dengan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific. [ ]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed