by

Pandangan Positif Agama Tentang Pandemi Covid-19

Kabar Damai I Rabu, 10 Maret 2021

 

Budhy Munawar Rachman

 

Review Buku: Virus, Manusia, Tuhan: Refleksi Lintas Iman tentang Covid 19 (Yogyakarta: ICRS, 2021).

Hampir setahun ini, perhatian umat manusia di seluruh dunia tertuju pada virus corona yang mewabah di banyak negara sejak ditemukannya kasus wabah Corona di Tiongkok pada sekitar bulan Nopember – Desember 2019. Pandemi ini telah menghancurkan dan mengubah secara drastis seluruh aspek kehidupan. Berbagai asumsi, prediksi, serta analisis ilmiah maupun medis bermunculan untuk menjelaskan pandemi ini. Semua berusaha menjawab pertanyaan bagaimana kita harus menyikapi wabah ini: optimistis atau pesimistis?

Dengan kematian yang telah mencapai lebih dari satu juta jiwa di lebih dari 200 negara, nasib umat manusia semakin tidak menentu. Bahkan agama sebagai sebuah sistem sosial telah diobrak-abrik oleh wabah ini, hingga menuntut kita berpikir lebih dalam. Virus ini juga telah membawa setumpuk persoalan kronis yang menghantui serta mengganyang manusia hampir di semua aspek kehidupan, seperti ekonomi, sosial, budaya, agama, dan lain-lain.

Sejumlah kalangan memberikan respon terhadap fenomena munculnya virus Corona ini, mulai dari kalangan pemerintah, ilmuwan, tak terkecuali para agamawan. Otoritas keagamaan secara serius telah memberikan edukasi yang benar kepada masyarakat dengan pandangan-pandangan keagamaannya, walaupun ada saja sebagian pihak yang malah melontarkan narasi keagamaan secara salah kaprah terkait fenomena virus Corona, misalnya, dengan mengatakan bahwa takdir kematian seseorang itu sudah ditentukan oleh Allah, dan tidak perlu takut kepada Corona karena yang harus ditakuti hanyalah Tuhan saja.

Kasus pandemi virus corona (covid-19) secara tidak langsung telah mentransformasikan polarisasi sikap, cara pandang, dan tingkah-laku dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat termasuk dalam perihal persoalan agama. Sejumlah pertanyaan pun datang silih berganti, apakah peran agama masih dibutuhkan dalam kondisi seperti ini? Jika iya, peran seperti apa yang ditawarkan? Lalu, apakah tawaran yang diinisiasi kira-kira berjalan dinamis dengan tawaran dari pihak negara? Pertanyaan yang digaungkan oleh masyarakat tersebut tentu harus dijawab sesolutif dan se-efektif mungkin, baik oleh para ahli agama (selaku representator agama), ataupun pihak yang turut bertanggung jawab di dalamnya. Hal ini dimaksudkan agar jawaban yang ditawarkan tidak berkonfrontasi langsung dengan dekrit dari pelbagai macam pihak.

Buku “Virus, Manusia, Tuhan: Refleksi Lintas Iman tentang Covid 19”, coba menjawab beragam pertanyaan terkait keimanan dan Covid-19 yang telah memorakporandakan kehidupan manusia di seluruh dunia. Para ahli agama, teolog, dan mereka yang mewakili komunitas agama di Indonesia menawarkan beragam refleksi dan perspektif lintas iman sebagai pegangan di masa sulit ini. Memang, tidak bisa dimungkiri bahwa ada ketakutan sangat nyata pada masa pandemi ini. Beberapa rohaniawan pun gagap bersikap, dan kita sudah menyaksikan beberapa contohnya. Ketika tidak ada bekal memahami apa yang akan terjadi dan tidak ada pengalaman telah melewati suatu peristiwa, maka kita tersadar bahwa kekuatiran dan ketakutan itu nyata. Kepongahan rohani diri sendiri pun dengan mudah terlihat ketika menyadari bahwa kita tidak punya andil sedikitpun atas apa yang terjadi.

Fenomena egoisme keagamaan tak lain dan tak bukan dipicu oleh sebuah anggapan yang kemudian pada masa tertentu telah mengental menjadi sebuah doktrin, dan kemudian memadat menjadi sebuah fanatisme yang terwujud dalam sebuah egoisme yang berbaju agama. Fatimah Husein menulis tentang Covid-19 yang menyebabkan pemisahan antar-pemeluk agama. Dia menyatakan narasi keagamaan di masa pandemi berperan memperkuat segregasi para umat beragama. Narasi keagamaan pun memperlemah ikatan hubungan antaragama yang di lapisan bawah masyarakat. Kontekstualisasi beragama (seperti diperbolehkannya mengganti Salat Jumat dengan Salat Zuhur) tertutup oleh narasi yang bersifat tunggal. Hal ini berpotensi membangun segregasi antarwarga yang berbeda agama dan keyakinan.

Isu salat jumat adalah isu yang paling kontroversial, karena ini menyangkut shalat wajib dan adanya hadits selama ini dipahami bahwa laki laki mukalaf yang meninggalkan shalat jumat dengan sengaja selama tiga kali berturut turut maka dianggap telah “kafir”. Sementara ada juga kelompok lain yang memilih tidak menyelenggarakan shalat jumat di masjid dan menggantinya dengan shalat Zuhur secara berjamaah di rumah. (h. 51)

Dua ormas besar, PP Muhammadiyah dan PB Nahdlatul Ulama misalnya menyerukan jemaahnya masing-masing untuk melakukan aktivitas pengajian, salat Jumat dengan diganti shalat dhuhur di rumahnya masing-masing. Pun keputusan yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia memiliki semangat yang sama. Apalagi bagi jemaah yang sudah memiliki tanda-tanda terkena Covid-19 atau sudah masuk kategori Orang Dalam Pengawasan (ODP) untuk sementara ini tidak perlu pergi ke masjid.

Baca Juga: Pergulatan Tradisi Agama dan Temuan Ilmu Pengetahuan di Era Google?

Keputusan yang sangat cerdas dari dua ormas Islam terbesar di republik ini. Kedua ormas ini sudah lahir sebelum Indonesia merdeka. Hal seperti ini sepantasnya disebarluaskan ke seantero negeri mengingat jumlah Muslim yang mencapai 87 persen dari jumlah penduduk. Harapannya dapat mencegah meluasnya virus Covid-19 akibat perjumpaan-perjumpaan masyarakat di luar rumahnya yang tidak mendesak secara keperluan. Beribadah di rumah dengan alasan lebih mendekatkan diri pada Allah SWT adalah argumentasi yang sekadar mendasarkan pada indoktrinasi agama namun jauh dari semangat penyelamatan penganutnya. (h. 49-50)

Ada hal menarik yang kini lagi ngetren di medsos, yakni postingan netizen terkait keberadaan Tuhan dan virus corona. Postingan-postingan tersebut seakan mempolarisasi netizen dalam dua kubu, yakni kubu yang mengajak warga untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan kubu yang membujuk warga untuk mempertanyakan keberadaan Tuhan. Kubu pertama menganalisis corona sebagai kutukan bagi manusia karena telah menenggelamkan Tuhan ke dalam lautan keegoisan semata. Kontradiktif dengan kubu ini, kubu kedua melihat corona dan akibat yang ditimbulkannya sebagai bukti apatifnya Tuhan terhadap manusia. Tuhan seolah-seolah tak lagi menghiraukan manusia. Tuhan seakan-akan menikmati penderitaan manusia.

Tuhan senantiasa menjadi figur yang dicari. Semuanya pun masih bertanya seraya menanti jawaban Tuhan yang justru tak kunjung tiba. Lantas, di manakah eksistensi Tuhan yang dipercaya itu?  Mungkin kita membingkai Tuhan dalam sebuah rumusan. Misalnya, jika kita telah melakukan a, b, c, maka Tuhan akan bertindak dengan hasil x, y, z. Atau jika waktu meminta kurang tepat, maka waktu pemenuhan akan terlambat. Tuhan bagi kita tidak ubahnya seperti rumusan teologis yang bisa dikalkulasi atau diajak melakukan transaksi seperti rekanan bisnis semata. Kapan dan dengan cara apa Tuhan bertindak adalah bagian Tuhan. Masa depan tidak perlu dibingkai lagi menurut pemahaman mereka. Kepasrahan dan pengharapan justru menjadi jangkar yang kokoh ketika menjalani kehidupan selanjutnya.

Para ilmuwan pada masa ini sering berperan sebagai  teolog, sehingga aktivitas ilmiahnya berkaitan dengan aktivitas keagamaan. Semboyan yang berlaku bagi ilmu pada masa ini adalah  abdi agama. Agama menjadi pula sebuah kekuasaan tertinggi yang mesti manusia tuju. Tuhanlah figur yang disembah dalam segala bentuk keberadaan manusia. Religiositas diangkat dan diyakini sebagai puncak tertinggi kehidupan yang darinya, manusia hidup dan bertumbuh.

Pernyataan Dicky Sofjan dalam prolog buku ini, bahwa ada kaum agamawan yang tidak mempercayai dokter, periset medis, dan epidemiolog. Mereka percaya bahwa “Allah lebih hebat dari corona”, “air wudhu dapat mencegah Covid-19”, “darahku bercampur dengan darah Yesus”, dan sebagainya. Di sisi lain, ada kelompok saintis yang kerap memandang semua orang beriman adalah antisains dan tidak bisa berdialog secara rasional mengenai Covid-19. Meskipun begitu, pandemi pun menunjukkan agama bisa lentur terhadap perubahan. Dia tidak stagnan yang mengakibatkannya gagal dalam mengatasi persoalan manusia. Tetapi bertahan dengan berbagai ijtihadnya.

Buku “Virus, Manusia, dan Tuhan” ini menawarkan pandangan positif tentang agama. Bahwa agama bisa memainkan peran signifikan dalam situasi penuh tekanan bernama pandemi Covid-19. Bahwa masih ada kelompok agama yang kaku dalam memandang wabah corona memang tidak bisa dipungkiri. Tetapi masih banyak yang berpandangan terbuka hingga bisa menanggapinya dengan luwes.

Kumpulan tulisan dalam buku ini menggunakan berbagai perspektif agama yang berbeda; sudut pandang Islam, Katolik, Kristen, Konghucu, Hindu Bali, Hindu Kaharingan, Baha’i, Buddha, dan juga penghayat. Dapat dikatakan, buku ini berhasil merepresentasikan sudut pandang tradisi agama dan kepercayaan mengenai tema wabah virus corona.

Menurut Emanuel Gerrit Singgih (h. 181) —salah satu penulis daam buku ini—mengatakan bahwa, “secara teologis, saya tidak menganggap bahwa wabah, dalam hal ini adalah Covid 19, adalah hukuman Tuhan. Wabah Covid 19 adalah bencana, sama seperti semua bencana yang lain… Wabah Covid 19 ini bukanlah aib dan juga bukan hukuman Tuhan. Itu adalah ancaman, dan tantangan bagi umat manusia untuk ditangani dan bukannya tidak bisa diatasi”.

Di seberang realitas dunia yang bersifat konkret dan imanen ada kekuatan tak terbatas yang masih abstrak dan transenden. Realitas transenden ini bersifat kasat mata, tidak bisa dijamah, dan memiliki kekuatan yang superior. Kekuatan Superior inilah yang oleh umat teistik disebut dengan Tuhan. Tuhan dalam kepercayaan umat teistik menjadi acuan dan penggerak dari alam dunia yang bersifat imanen.

Meskipun Tuhan yang substansinya berada di seberang realitas transenden, namun dengan segala kekokohan dan keyakinan yang mengakar kuat, mereka percaya bahwa Tuhan yang mereka anut bisa mengontrol, menggerakkan, dan mentransformasikan segala-galanya. Keyakinan totalitas terhadap terhadap Tuhan seperti di atas merupakan tipologi kaum teistik yang menginterpretasikan supremasi, superioritas, dan kedigdayaan Tuhan di atas segala-galanya (melampaui batas rasionalitas, melampaui batas ruang dan waktu, bersifat transenden dan mutlak).

Tuhan yang “transenden dan tak terbatas”, tidak dapat pula hadir secara nyata dalam menyelamatkan manusia. Jika Ia datang, keberadaannya pun dapat dipertanyakan.  Kata “Tuhan” adalah melampaui segalanya artinya tak dapat dijangkau. Tuhan telah campur tangan untuk menyelamatkan manusia seperti daya pikir atau nalar yang dihadiahkan kepada manusia.

Daya pikir inilah yang mengangkat manusia menjadi seorang pencipta/creator. Ini pun terealisasi dalam kemajuan ilmu pengetahuan di abad ini. Tuhan dan sains memanglah berbeda dalam pengertiannya sebab, Tuhan mengarah pada hubungan persona dan sains merupakan studi ilmu. Namun, hal yang paling hakiki tampak jelas bahwa Tuhan dan Sains tak dapat diceraikan begitu saja sebab Tuhan yang transenden itu merealisasikan kemahakuasaannya dalam daya pikir manusia untuk menggunakan kemajuan sains saat ini.

Karya ini hadir untuk menaburkan harapan. Bahwa tradisi agama dan keyakinan bisa menjadi salah satu inspirasi untuk menjalani hari-hari yang penuh tantangan dan ancaman. Agama yang bisa menggerakkan manusia untuk melakukan kebajikan dan menawarkan alternatif bagi masalah global. Bukan agama yang kaku dan menyeramkan (yang sering dipertontonkan segelintir kecil kalangan). Wajah agama seperti inilah yang diharapkan hadir dan ditunjukkan oleh para pemeluknya. Hingga agama dapat menjadi kebaikan bagi semesta alam. [BMR].

 

Budhy Munawar Rachman, pengajar Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed