Ordo Katolik Menjanjikan $100 Juta (AS) untuk Tebus Sejarah Perbudakan

Kabar Manca79 Views

Kabar Damai I Jumat, 19 Maret 2021

 

Amerika Serikat | kabardamai.id | Para pemimpin Konferensi Yesuit Kanada dan Amerika Serikat berjanji untuk mengumpulkan dana untuk memulai proses ‘pengungkapan kebenaran dan rekonsiliasi.’

Mereka menjanjikan $ 100 juta (AS) sebagai ganti rugi kepada keturunan orang kulit hitam yang diperbudak dan dijual oleh gereja.

Mereka berjanji untuk mengumpulkan dana, yang akan dibayarkan ke yayasan yang didirikan bersama dengan sekelompok keturunan korban perbudakan dan untuk “memulai proses kebenaran dan rekonsiliasi yang sangat serius.”

“Sejarah memalukan kita tentang penahanan budak yesuit di Amerika Serikat telah terungkap dan tidak akan pernah bisa ditutupi lagi. Rasisme akan bertahan di Amerika jika kita terus berpaling dari kebenaran masa lalu dan bagaimana hal itu mempengaruhi kita semua hari ini. Efek abadi dari perbudakan memanggil nurani kita untuk melakukan pekerjaan kebenaran dan rekonsiliasi. Tanpa penyatuan hati dan tangan dalam kesatuan sejati, siklus kebencian dan ketidaksetaraan di Amerika tidak akan pernah berakhir,” kata Pastor Timothy P. Kesicki, Presiden Konferensi Yesuit.

Gereja Yesuit menggunakan tenaga kerja budak dan menjual budak selama lebih dari satu abad demi kepentingan pendeta, gereja dan sekolah, termasuk apa yang sekarang dikenal sebagai Universitas Georgetown di Washington DC.

Upaya tersebut dianggap sebagai salah satu upaya terbesar untuk menebus dosa perbudakan yang dilakukan oleh institusi yang paling substansial, yakni gereja Katolik. Janji tersebut terbentuk di tengah meningkatnya seruan untuk perbaikan di seluruh institusi AS termasuk gereja, perguruan tinggi, dan Kongres.

Keturunan dari korban perbudakan menuntut kenaikan ganti rugi hingga $1 miliar (AS), setelah menemukan bahwa nenek moyang mereka, termasuk di antara 272 laki-laki, perempuan dan anak-anak, diperbudak dan dijual pada 1838 kepada pemilik perkebunan di Louisiana oleh pemilik Yesuit di Georgetown.

Pastor Kensicki dan Joseph M. Stewart, pejabat presiden Descendants Truth & Reconciliation Foundation mengatakan bahwa $1 miliar adalah tujuan jangka panjang. Sementara ini, pihak Ordo berkomitmen pada nilai $100 juta untuk tiga hingga lima tahun.

Baca juga: Awal Mula Kedatangan Katolik di Indonesia

“Kami sekarang memiliki jalan ke depan yang belum pernah kami tempuh sebelumnya. Mereka tidak datang kepada kami, tetapi karena kami mendatangi mereka dengan tangan terbuka dan hati terbuka, mereka menanggapi. Mereka telah menerima visi kami,” kata Stewart kepada New York Times.

Setiap tahun, sekitar setengah dari dana yayasan akan dihibahkan kepada organisasi yang bekerja untuk rekonsiliasi rasial, sekitar seperempat akan mendanai beasiswa dan hibah pendidikan kepada keturunan mereka, dan beberapa akan dialokasikan untuk kebutuhan darurat keturunan yang sudah tua atau sakit.

Georgetown Memory Project, sebuah organisasi nirlaba, mengidentifikasi bahwa ada sekitar 5.000 keturunan yang masih hidup dari orang-orang yang diperbudak oleh para Yesuit.

Shannen Dee Williams, asisten profesor sejarah di Universitas Villanova, mengatakan langkah itu merupakan langkah maju yang penting dan upaya berkelanjutan untuk mencari penebusan atas sejarah dosa yang mengerikan ini patut diapresiasi.

Ia juga kemudian menambahkan, “Mudah-mudahan, pengumuman terbaru ini tidak akan menjadi akhir bagi komunitas religius yang selama lebih dari 400 tahun secara aktif berpartisipasi dan memperoleh keuntungan finansial dari perdagangan budak, penjajahan, perbudakan dan segregasi.”

Sebagai perusahaan pemegang budak perusahaan pertama dan terbesar di Amerika dan pendukung segregasi Kristen terbesar di AS, gereja Katolik “tidak akan pernah dapat membayar sepenuhnya hutang atas jutaan nyawa orang kulit hitam yang diperbudaknya,” imbuh Williams.

Sejarawan itu juga berharap ordo religius lainnya, uskup AS dan Vatikan akan mengikuti jejak Yesuit dan meminta mereka untuk secara resmi mengakui dan meminta maaf atas sejarah perbudakan, segregasi, dan pengucilan rasial oleh gereja; kemudian untuk melembagakan pengajaran sejarah Katolik Hitam dan Kelompok Kulit Hitam; dan untuk bekerja sama sepenuhnya dengan keturunan para korbannya untuk mewujudkan keadilan dan rekonsiliasi rasial yang sejati.

Rashawn Ray, seorang rekan di Brookings Institution dan seorang profesor sosiologi di Universitas Maryland, mengatakan langkah tersebut ‘memberikan sinyal’ kepada lembaga agama lain [untuk mengikuti langkah tersebut] tetapi masih ‘tidak mendekatkan’ untuk menjembatani kesenjangan kekayaan rasial.

“$100 juta itu terpuji dan penting dan tuntutan kenaikan hingga $1 miliar harus tetap diperhatikan dan dipertimbangkan karena kita tahu bahwa kesenjangan kekayaan rasial, warisan perbudakan di Amerika Serikat dan apa arti menjual budak untuk membangun kekayaan, terutama kekayaan bagi kulit putih dan kekayaan institusional dalam pendidikan tinggi, nilai $100 juta itu masih belum mendekati untuk menutup celah rasial itu,” pungkasnya.

 

Penerjemah/penyunting: Hana Hanifah

Editor: –

Sumber: Theguardian.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *