by

Orang Mampu tapi Tidak Berkurban, Bagaimana?

Kabar Damai I Selasa, 21 Juli 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Allah senantiasa memberikan rejeki yang berlimpah kepada umatnya. Bentuknya beragam seperti halnya kesehatan dan keselamatan, kebahagiaan, keluarga dan kerabat yang baik hingga pundi-pundi rupiah yang banyak. Hal tersebut tentu kemudian mudah kita temukan berupa orang-orang yang berkecukupan dan bahkan kaya raya dalam hidupnya.

Bertepatan dengan hari raya Idul Adha, banyak orang berlomba-lomba melakukan sunah berkurban, bahkan hal ini tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang bergelimpangan harta semata. Mereka yang merasa mampu dan cukup juga berusaha untuk mengumpulkan rejekinya agar dapat berkurban pada perayaan Idul Adha ditahun 2021 ini.

Baca Juga: Hukum Kurban Bagi Orang yang Sudah Meninggal

Lantas, bagaimana dengan orang yang mampu namun enggan untuk melakukan korban?

Ust Muhammad Haris, dalam kanal youtube NU Online memberikan pemaparan berdasarkan permasalahan tersebut.

Menurutnya, hukum berkurban pada dasarnya diantara para ulama terdapat beberapa perbedaan pendapat. Ada yang menyatakan sunah dan adapula yang mewajibkannya.

“Menurut mayoritas ulama dengan mazhab Maliki, Syafii, Hambali berpendapat bahwa hukum berkurban bagi orang yang memiliki kemampuan dan mampu berkurban hukumnya adalah sunah,”.

“Hal ini didasari oleh hadis nabi yang artinya ‘Tiga hal yang wajib bagiku, sunnah bagi kalian yaitu salat witir, kurban dan shalat dhuha,’ (H.R. Ahmad dan Al-Hakim),” ungkapnya.

Sementara itu, pendapat yang kedua mengatakan bahwa hukum berkurban bagi orang yang mampu adalah wajib itu datang dari kalangan ulama mazhab Abu Hanifah atau mazhab Hanafi.

Imam Abu Hanifah mendasarkan pendapatnya yang mengatakan bahwa orang yang mampu berkurban hukumnya adalah wajib berdasarkan pada sabda nabi yang artinya ‘Barang siapa yang mampu berkurban dan ia tidak melaksanakannya, maka janganlah ia menghadiri tempat salat kami,’.

“Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa hukum meninggalkan berkurban bagi orang yang mampu melaksanakannya diperselisihkan oleh para ulama,” tutur Muhammad Haris.

Ia menambahkan, menurut mazhab Hanafiyah hukum mampu namun tidak berkurban adalah haram atau berdosa. Sementara hukum menurut mayoritas ulama hukumnya adalah tidak berkonsekuensi dosa karena menurut mayoritas ulama hukum berkurban bagi orang yang mampu adalah sunah.

Berdasarkan dari penjelasan diatas, Muhammad Haris lebih condong pada mayoritas ulama yang menyatakan bahwa hukum yang tepat adalah sunah, namun lebih kepada makruh karena pahalanya lebih utama daripada sedekah sunah.

“Berpijak dari pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa berkurban hukumnya adalah sunah bagi orang yang mampu namun meninggalkannya bagi orang yang mampu berkurban hukumnya adalah makruh,”.

“Sebagaimana penjelasan Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab yang artinya ‘Dan dimakruhkan meninggalkan ibadah kurban bagi orang yang mampu melaksanakannya karena ibadah kurban itu lebih utama dari sedekah sunah,’ terangnya.

Dengan demikian, dari penjelasan ini Muhammad Haris menyimpulakan bahwa orang yang mampu berkurban namun ia tidak melaksanakannya maka hukumnya adalah makruh. Jika mampu, sebaiknya melakukan kurban sesuai dengan anjuran agama.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed