October 28, 2021
by

Orang Indonesia Suka Buang Makanan: Ini Isu Kemanusiaan dan Spiritual

Kabar Damai I Kamis, 14 Oktober 2021

Jakarta I kabardamai.id I Dulu ketika kita kecil  pasti pernah mendengar saran dari orang tua yang meminta untuk tidak menyisakan makanan biar nasinya nggak nangis, ya? Sayangnya, saran ini sepertinya nggak benar-benar kita lakukan. Realitanya, setiap tahunnya, orang Indonesia buang makanan 115 sampai 184 kg.

Data ini nggak asal dibuat.  Faktanya, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Foreign Commonwealth Office dari Inggris mengeluarkan penelitian yang menunjukkan angka food lost atau food waste di Indonesia. Pada periode 2000 sampai 2021 saja, makanan yang dibuang mencapai 23 sampai 48 ton!

Berbicara mengenai food waste ini, membuat masyarakat kehilangan energi dan setara dengan jumlah 61 juta sampai 125 juta porsi makanan. Jumlah ini bisa dikonsumsi 29 sampai 47 persen populasi Tanah Air. Food waste ini adalah makanan yang terbuang karena nggak kemakan sama sekali atau makanan sisa karena nggak habis dikonsumsi.

Meski terlihat sepele, sebenarnya food waste ini lumayan bikin resah. Bagaimana tidak, menurut data World Resources Institutes, 24 persen air yang dipakai di lahan pertanian yang memproduksi makanan jadi percuma gara-gara hal ini. Jumlahnya setara dengan 170 triliun liter air.

Isu Kemanusiaan dan Spiritual dari kebiasaan membuang makanan

“All faith communities recognize that food is miraculous.”

Membuang-buang makanan bukan sekadar isu lingkungan. Kalimat ini merepresentasikan seberapa besar rasa syukur yang bisa kita ungkapkan kepada Maha Pencipta dan Semesta yang telah memberi kehidupan.

Dalam konteks religius, beberapa agama mengaitkan membuang makanan dengan nilai-nilai keagamaan dan spiritual. Pada tulisan ini, saya hanya akan membahas implikasi religius dan spiritual dalam isu food waste terkait empat agama besar yang ada di dunia.

Tuhan tidak suka jika berkatNya kita buang sia-sia

“Dan setelah mereka kenyang, Ia berkata kepada murid-murid-Nya: Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” (Yohanes 6:12)

Dalam Audiensi Umum 2013, Paus Francis menyampaikan beberapa komentar yang jelas tentang bagaimana konsumerisme telah membuat manusia terbiasa dengan pemborosan makanan sehingga tidak mampu memberikan keadilan sosial bagi masyarakat lainnya. Menurutnya, membuang makanan sama saja dengan mencuri dari orang miskin dan kelaparan.

“Consumerism has accustomed us to waste. But throwing food away is like stealing it from the poor and hungry.” – Pope Francis

 

Baca Juga: Etika dan Nilai Kemanusiaan Kunci Kemajuan Ruang Digital Indonesia

Di Alkitab kita bisa menemukan dalam beberapa kesempatan  bahwa Tuhan sendiri tidak suka perilaku membuang-buang makanan ini. Dalam perjalanan bangsa Israel dari Mesir menuju Kanaan lewat pimpinan Musa misalnya. Dua kali Tuhan mengabulkan permintaan bangsa Israel akan makanan dalam Keluaran 16:1-36.
Dalam dua kali kesempatan ketika Tuhan menurunkan roti dan burung puyuh, dua kali pula Tuhan berpesan agar mereka mengambil secukupnya sesuai kebutuhan dan tidak membuang-buang sisanya, yaitu pada ayat 4:
“Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak.”
dan ayat berikut: “Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa…Ketika mereka menakarnya dengan gomer, maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan. Tiap-tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya.” (ay 16,18).

Mubazir dalam Islam

Larangan membuang-buang harta termasuk makanan ini terdapat salah satunya pada surah Al Isro’ ayat 26-27. Dalam ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa perilaku pemborosan adalah merupakan kebiasaan setan. Siapapun yang melakukan tindakan tersebut maka dikatkan sebagai saudara-saidara setan.
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan,” (QS. Al Isro’: 26-27).

Abu Hurairah juga mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda hal-hal yang membuat Allah SWT murka terhadap hambanya dan salah satunya adalah mubazir atau membuang makanan. Sabda Rasulullah SAW ini secara rinci dijelaskan dalam Hadits Riwayat Muslim yang berbunyi:

Sesungguhnya Allah meridhai tiga hal bagi kalian dan murka apabila kalian melakukan tiga hal. Allah ridha jika kalian menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan (Allah ridla) jika kalian berpegang pada tali Allah seluruhnya dan kalian saling menasehati terhadap para penguasa yang mengatur urusan kalian. Allah murka jika kalian sibuk dengan desas-desus, banyak mengemukakan pertanyaan yang tidak berguna serta membuang-buang harta.

Mindful Eating dalam Ajaran Buddha

 

Dalam ajaran Buddha, ada yang dinamakan mindful eating atau intuitive eating, yaitu bagaimana memperlakukan makanan dengan baik. Ajaran ini tidak melarang memakan apa pun, tetapi lebih berfokus pada cara menikmati makanan bukan secara emosional, melainkan spiritual.

Inti ajaran ini adalah bagaimana manusia bisa memaknai setiap makanan tanpa mengonsumsinya secara tergesa-gesa, tidak diselingi dengan kegiatan lain (seperti bermain gawai), merasa cukup dengan apa yang dimakan, dan membina kedekatan spiritual dengan sumber makanan.

Mengutip zerowasteadventures.com, makan perlahan-lahan membuat kita mengunyah dengan lebih baik. Anjuran mengunyah 30 kali sebelum ditelan akan membuat kita menikmati setiap gigitannya, merasakan tekstur makanan yang dikonsumsi, dan memberikan efek kenyang yang lebih lama.
Lebih dari itu, mindful eating juga membuat kita lebih menghargai makanan (mulai dari siapa yang menanamnya, berapa jauh perjalanan yang harus ditempuh agar makanan tersebut sampai ke hadapan kita, hingga membuat kita merasa cukup.

Dalam Hindu Membuang Makanan adalah Perbuatan Hina

Dalam thecounter.org, salah satu teks keagamaan utama pada kepercayaan Hindu menyatakan kalau “semua makhluk hidup” adalah “perluasan” dewa Krishna. Menyia-nyiakan semua yang ada di bumi, termasuk makanan, adalah tindakan yang hina secara spiritual.
Tentang larangan embuang makanan juga tercantum dalam:
Annam na nindyat tad vratam prano va annam sariramannadam
Prane sariram pratisthitam sariram pranam pratisthitah tad etannamanne pratisthitam
Sa ya etad annamanne pratisthitam veda pratitisthati annavanannado bhavati
Mahan bhavati prajaya pasubhir brahmavarca-sena Mahan kirtya
(Taittiriya Upanisad, bhrguvalli, Anuvak 7.1)”Jangan pemah menunjukkan rasa tidak hormat pada makanan. Makanan adalah sumpah suci agama. Sesungguhnya nafas hidup adalah makanan, sedangkan badan jasmani merupakan pemakan dari makanan. Badan jasmani berada ajeg dalam napas hidup, dan napas hidup berada ajeg dalam badan jasmani.
Makanan berada ajeg pada makanan. Ketika orang menyadari hal mi, bahwa makanan berada ajeg dalam makanan, maka ia berada mantap di jalan spiritual. Dia menjadi pemilik makanan dan menjadi orang yang merasakan rasa sejati makanan.
Dia menjadi muha oleh keturunan, ternak, oleh kemuhaan Brahman, dan ia menjadi terkenal karena hakikatnya.”
Hal ini sejalan dengan mindful eating dalam ajaran Buddha. Bahkan, Gopal Patel dari kelompok The Bhumi Project, mengatakan kalau pendekatan tersebut sejalan dengan ajaran Islam, Kristen, dan Yahudi.

Penghayat Kepercayaan dan Kebiasaan Menjaga Alam

Penghayat Kepercayaan juga tentunya sangat tidak menyukai kebiasaan membuang makanan. Ajaran leluhur  mampu mendekatkan jiwa dan raga kepada alam dan segala isinya, baik yang mampu diraba pancaindra atau yang tidak.

Akal manusia, ujar manusia, ada batasnya. Kesadaran akan batasan inilah yang kemudian melahirkan ritual untuk memupuk rasa. Rasa kemudian diterjemahkan dalam laku keseharian, mewujud tindakan menjalin hubungan baik manusia dengan sesama ataupun makhluk hidup lain.
Ritual tak boleh berhenti pada seremoni belaka. Kebaikan tak berakhir ketika lantunan puja-puji selesai disuarakan, buku ajaran rampung dibaca, dan sembahyang ditutup. Falsafah mesti mewujud dalam gerak dan sikap.
Karena itu, terbiasa hidup dengan menjaga alam dan lingkungan sudah menjadi tingkah laku yang mendarah daging dalam khidupan para penganut penghayat kepercayaan. Kita sendiri tahu membuang makanan akan berpengaruh pada iklim yang pada akhirnya menghancurkan alam.

Limbah makanan tidak hanya berarti makanan yang terbuang. Limbah makanan juga berarti uang yang terbuang, air yang terbuang, energi yang terbuang, tanah yang terbuang dan transportasi yang sia-sia.

Membuang makanan Anda juga berarti berkontribusi pada perubahan iklim. Makanan yang dibuang sering dikirim ke tempat pembuangan, dibiarkan membusuk dan menghasilkan gas metana.

Jika limbah makanan adalah sebuah negara, negara itu akan menjadi penghasil emisi gas rumah kaca terbesar ketiga setelah Amerika dan China.”

Apa yang dapat kita lakukan?

Menjadi konsumen cerdas

Banyak orang membeli lebih dari yang mereka butuhkan. Berbelanjalah lebih cerdas dengan membuat daftar dan HANYA membeli apa yang Anda butuhkan dari daftar.

*Bonus: Pastikan sudah mengkonsumsi semua makanan yang Anda beli sebelumnya, kemudian baru pergi ke pasar untuk membeli lebih banyak bahan makanan.

Menyimpan makaan dengan benar

Penyimpanan yang tidak benar adalah penghasil sejumlah besar limbah makanan. Banyak orang tidak tahu bagaimana menyimpan buah dan sayuran, yang dapat menyebabkan buah dan sayur terlalu cepat matang, dan pada akhirnya, produk cepat busuk.

Misalnya, kentang, tomat, bawang putih, mentimun dan bawang tidak boleh didinginkan. Barang-barang ini harus disimpan pada suhu kamar.

Batang sayuran hijau dan herbal boleh direndam air. Simpan roti dalam freezer jika tidak bisa dihabiskan tepat waktu. Jadilah penyelamat makanan dengan cara memilih produk yang sedikit tidak sempurna di toko, atau lebih baik lagi, belilah langsung dari petani.

Memanfaatkan freezer

Membekukan makanan adalah salah satu cara termudah untuk mengawetkannya, dan jenis makanan yang cocok untuk pembekuan tidak ada habisnya.

Misalnya, sayuran yang agak terlalu lunak untuk digunakan dalam salad favorit dapat dimasukkan ke dalam kantong atau wadah yang aman untuk freezer. Gunakan di kemudian hari dalam smoothie dan resep lainnya.

Sisa bumbu dan rempah-rempah dapat dikombinasikan dengan minyak zaitun dan bawang putih cincang, kemudian dibekukan dalam nampan es batu. Siap dipakai sewaktu-waktu memasak tumis dan hidangan lainnya.

Anda dapat membekukan sisa-sisa makanan, kelebihan produk dari toko favorit Anda, dan makanan curah seperti sup dan cabai. Ini cara yang bagus untuk memastikan agar Anda selalu memiliki makanan sehat masakan rumah.

Biasakan membawa bekal makanan

Meskipun pergi makan siang dengan rekan kerja atau membeli makanan dari restoran favorit memang menyenangkan, jajan menghabiskan uang dan dapat menghasilkan sisa makanan.

Cara yang bermanfaat untuk menghemat uang sambil mengurangi jejak karbon Anda adalah membawa makan siang ke tempat kerja.

Kalau tidak sempat menyiapkan bekal di pagi hari, coba bekukan sisa makanan dalam wadah berukuran satu porsi. Dengan begitu, Anda akan punya makan siang yang lezat dan siap setiap pagi.

Biasakan melakukan Pengomposan

Pengomposan sisa makanan adalah cara yang bermanfaat untuk menggunakan kembali sisa makanan, mengubah limbah makanan menjadi energi untuk tanaman.

Meskipun tidak semua orang memiliki ruang untuk sistem pengomposan di luar ruangan, ada berbagai sistem pengomposan di dalam ruangan yang membuat praktik ini mudah dan dapat diakses untuk semua orang, bahkan yang memiliki ruang terbatas.

Komposter luar ruangan bisa dimanfaatkan untuk mereka yang memiliki taman besar, sedangkan komposter meja paling baik untuk penduduk kota dengan tanaman hias atau kebun herba kecil.

Oleh: Ai Siti Rahayu

Diolah dari berbagai sumber

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed