by

Optimisme Sains dan Berhala Filsafat

-Opini-64 views

Oleh: Lukas Luwarso, (Catatan untuk “Pasca-Filsafat” Goenawan Mohamad)

Ungkapan “matinya filsafat” direspon agak sengit oleh segelintir penghayatnya. Ada nuansa tersinggung di kalangan pembelajar “profesional” filsafat , sehingga bersikap reaksioner. Matinya filsafat, yang dilontarkan oleh sejumlah pemikir (dari Stephen Hawking hingga Heidegger), dianggap sebagai ungkapan harfiah lonceng kematian, alih-alih dipahami sebagai wacana pemikiran.

Matinya filsafat cuma wacana, tentang perubahan era dan paradigma berpikir. Daniel Bell, misalnya, pernah mengumumkan “The End of Ideology” (1960). Merujuk narasi besar ideologi, sebagai produk pemikiran abad 19, telah sempoyongan dan tidak lagi relevan. Sebagai konsep, ideologi tetap akan hidup, namun tidak lagi untuk diimplementasikan atau diyakini secara parokial. Para “ideolog”  tentu boleh tidak sepakat dengan Daniel Bell, jika merasa ideologi yang diyakini masih aktual.

Atau seperti wacana  “The End of History” yang diulas oleh Francis Fukuyama (1990). Bagi Fukuyama, berakhirnya perang dingin dan bubarnya Uni Sovyet telah “mengakhiri sejarah”. Artinya perseteruan manusia atas nama ideologi-ideologi besar sudah usai. Demokrasi liberal  menang, menjadi format pemerintahan yang universal. Fukuyama memakai filsafat sejarah Hegel dan Karl Marx untuk menyimpulkan, progres linier sejarah telah berakhir. Para sejarahwan tidak perlu gusar, dan menganggap studi sejarah telah mati, dan mereka akan kehilangan pekerjaan.

Kegusaran sejumlah penghayat filsafat menunjukkan kegagalan memahami esensi  wacana “matinya filsafat.” Mengingatkan sikap reaktif kaum agamawan memahami pengumuman Nietzsche “Tuhan telah mati”. Sebagaimana kabar kematian Tuhan ala Nietzche, matinya filsafat adalah metafor. Mereka yang nalar tidak akan tersinggung oleh wacana “matinya” paradigma, konsep, atau ide.

Kematian filsafat—sebagaimana kematian Tuhan, ideologi, atau sejarah—adalah soal aktualitas, dan relevansinya dalam paradigma yang sedang berubah. Konsep Tuhan (Judeo-Kristen) tidak lagi aktual setelah munculnya Era Pencerahan di Eropa. Era sains modern, yang didahului munculnya Teori Heliosentris Copernicus, Gravitasi Newton, dan kemudian Teori Evolusi Darwin, menyebabkan konsep Tuhan menjadi terasa kekanakan.

Konsep Tuhan yang ikut campur dalam urusan manusia, sebagaimana diyakini teologi Kristen menjadi tidak relevan dan tidak lagi diperlukan. Bahwa penganut Kristen menolak pengumuman Nietzsche, dan terus berkeyakinan Tuhan masih hidup, sehat wal-afiat dan segar bugar, itu soal lain. Sah-sah saja sebagai keyakinan.

Demikian juga dengan filsafat. Munculnya metode sains modern yang lebih logis (matematis) dan berbasis bukti, membuat konsep filosofis spekulatif, khususnya metafisika, menjadi kurang aktual. Bahkan Heidegger, salah satu filsuf besar metafisika, ikut mengumumkan berakhirnya filsafat dalam tulisan “The End of Philosophy and the Task of Thinking” (1964). Heidegger menulis:

“What is meant by the talk about the end of philosophy? We understand the end of something all too easily in the negative sense as a mere stopping, as the lack of continuation, perhaps even as decline and impotence. In contrast, what we say about the end of philosophy means the completion of metaphysics.”  Bagi Heidegger metafisika memiliki batas sesuai era-nya (circumscribed). Setiap era filsafat mengungkapkan wacana masing-masing” (Each epoch of philosophy has its own necessity). Metafisika sudah usai, komplit.

Filsafat mati karena tidak lagi  muncul konsep-konsep baru yang orisinil atau aktual. Plato, Descartes, Kant, Berkeley, Hegel, Husserl, Heidegger telah tuntas menerka dan mengupas tentang “yang ada”.  Pertanyaan tentang realitas ontologis dibalik dunia yang tampak, dasein, tetap tak terjangkau dan tidak jelas. Masing-masing filsuf memliki konsep tersendiri, yang tidak selalu berkorelasi.

Dalam konteks wacana matinya filsafat ini, Goenawan Mohamad  (GM) menawarkan frasa  “Pasca-Filsafat”, yang ia harapkan menjadi satu kebudayaan. Ia menulis: “Dalam kebudayaan pasca-filsafat, yang tumbuh adalah dialog terus menerus antara sains, sastra, seni, teknologi, agama, dan lain-lain. Tak ada  hierarki antara mereka.”

Tidak ada soal, setuju saja, tentu dengan ungkapan normatif GM itu, sejauh ada kejelasan spesifik soal dialog seperti apa yang ia maksudkan. Khususnya karena ia masih perlu menekankan filsafat sebagai bayangan Instruksi moral dan intelektual (edifying philosophy) “yang mencerahkan.”  Ia berharap “pasca-filsafat” menjadi jalan baru yang lebih baik, lebih menarik, lebih berbuah, dan tidak ada hakim kebenaran.

GM mengamini “matinya filsafat” (dan memilih diksi “pasca-filsafat”) mungkin karena Heidegger bilang begitu. Namun, mengutip Richard Rorty, ia juga merasa perlu wangi-wanti, agar di era pasca-filsafat “tak menegakkan sains sebagai sebuah berhala”.  Dan ingin, “hidup mengalir, bebas, tak dikungkung doktrin dan berhala apapun.”

GM menutup tulisan dengan petuah bijak bestari, mengajak manusia untuk tidak meninggalkan filsafat. Karena, “ketika filsafat sebagai perenungan ditinggalkan, bisa datang masa ketika manusia lupa  “Ada”-nya sendiri. Ia  tak bersyukur,  ia serba menghitung untung rugi, selalu menuntut hasil, disertai sains dan teknologi yang tak rendah hati. Berseru,“Veni, vidi, vici.”

GM kali ini agak  berhati-hati dalam hal kegemarannya “menghakimi sains”. Namun kegetirannya pada sains tetap nampak. Substansi pesan tulisan pendek-nya bisa lebih diperpendek begini: “sains berpotensi menjadi berhala, dan bisa membuat manusia lupa diri, cari untung melulu, pongah, dan mau menang sendiri (tolong, jangan tinggalkan filsafat).”

Baiklah, saya sengaja mem-parafrase dan sedikit mendramatisir kalimat GM. Tapi memang itu lah sebenarnya yang ingin ia katakan. Ia selalu melihat sains sebagai sebuah persoalan, dan ia merasa itu sebagai “sikap :kritis”. Termasuk ketika ia mempersoalkan kiprah Elon Musk, enterprenur yang mendayagunakan sains dan teknologi untuk berinovasi menjelajahi luar angkasa.

Optimisme Sains

GM mengawali artikel “Pasca-Filsafat” dengan mempersoalkan “optimisme” Elon Musk pada sains. Menganalogikan eksperimentasi saintifik Elon, ingin terbang ke Mars, dengan aksi imperial Julius Caesar yang bersemboyan “veni, vidi, vici”.  GM bernubuat: “sejauh-jauhnya  Musk dan teknologinya menjelajahi bintang, ia akan berhenti di satu pertanyaan yang muskil: benarkah ia mengetahui dunia yang direngkuhnya?”

Nubuat retoris GM ini lucu, karena silogisme-nya tidak koheren. Benarkah Elon mengetahui dunia yang (ingin) direngkuhnya? Tentu saja Elon tidak, atau belum, tahu. Elon Musk terobsesi menjelajahi planet Mars, karena ia  ingin tahu seperti apa Mars. Bisakah planet merah ini ditinggali sebagai alternatif Bumi? Bisakah planet mati ini dihidupkan? Upaya penjelajahan ia lakukan karena Ia belum  tahu dan ingin mengetahui.  Silogismenya begini: (A) Elon belum tahu Planet Mars,; (B) Elon ingin tahu seperti apa Mars; (C) Maka, Elon terbang ke Mars, agar rasa ingin tahunya terjawab.

Manusia lazimnya hanya tertarik pada sesuatu yang belum diketahui. Perjalanan ke Mars, untuk teknologi penerbangan angkasa luar saat ini, memang terasa “muskil”. Tidak banyak orang yang bernyali untuk mewujudkan kemuskilan itu. Tapi itulah tradisi dunia sains. Bukan cuma berpuas diri dengan pertanyaan atau mencari jawaban dengan berpangku intuisi dan asumsi, menebak-nebak dan berspekulasi. Itu metode filsafat. Sains memiliki optimisme, bahwa alam semesta suatu saat bisa dijelajahi dan diketahui teka-tekinya. Optimisme itu yang membuat sains terus maju berkembang, dan selalu aktual.

Baca Juga: Suster Laura SFIC: Melayani Umat dan Tuhan

Saya mengerti, pertanyaan GM itu “filosofis”. Ia ingin mengajak berpikir “mendalam”, bukan cuma soal teknis-teknologis. Ia ingin mempersoalkan pengetahuan manusia, secara epistemologis-filosofis. Pertanyaan tentang pengetahuan yang pernah menghantui para filsuf besar, sejak era Socrates hingga Descartes (“apa yang bisa saya ketahui”) atau Immanuel Kant (“bagaimana kita tahu”).

Filsafat gemar mempertanyakan segala hal secara semantik, sebagai senam intelektual, mengandalkan rasio—khususnya filsafat aliran rasionalisme dan idealisme. Namun, sebagai mode berpikir, filsafat tidak mampu mengurai persoalan untuk mendapat jawaban definitif yang bisa disepakati.  Sampai munculnya aliran filsafat empirisme dan postivisme, yang kemudian bermetamorfosa menjadi metode sains.

Sains bisa mendapatkan jawaban, karena bisa memilah antara fantasi, asumsi, imajinasi, spekulasi, konsepsi, dengan fakta berbasis bukti. Sains mengakumulasi pengetahuan sebagai kerja bersama umat manusia yang terorganisir.  Sains juga tidak mengenal aliran atau mazhab berpikir (kecuali dalam hal tafsir filosofis fisika kuantum). Saintis mudah menyepakati konsep, temuan, teori yang logis atau terbukti. Metode ini yang tidak dimiliki filsafat. Dalam konteks itulah, filsafat (metafisika) telah “mati”.

Jika istilah “mati” terasa menyinggung, mungkin bisa dipilih istilah yang lebih spiritual, filsafat telah “moksha”. Untuk mengindikasikan filsafat hanya mengalami sublimasi, menguap dalam molekul sains. Sains telah membuka pemahaman ontologis yang lebih aktual melalui serangkaian teori faktual (Teori Big Bang, multiverse, juga String Theory) yang menyentuh wilayah metafisika.

Dunia kita, 300 tahun terakhir, dibentuk dan didorong oleh kemajuan sains dan teknologi. Pengetahuan sains pada alam semesta dan kehidupan semakin terinci dan valid. Dan pengetahuan itu bukan sekadar agar “tahu”, tapi bisa dimanfaatkan untuk kegunaan praktis. Dari vaksin, smartphone hingga gunting genetik, dari partikel atom, nano-robot, dunia digital, hingga penjelajahan angkasa luar.

Kemajuan peradaban adalah sinonim dari pencapaian akumulasi temuan sains, yang juga berguna memudahkan hidup manusia. Pengetahuan semakin mendetil dan pemahaman terus meluas, banyak teka-teki terus diungkap. Sains adalah penjelajahan wilayah baru untuk pengetahuan baru. Ini optimisme sains, yang membuat hidup terus menarik dan menantang untuk dijalani.

Kerja-kerja sains, alih-alih sekedar ambisi subyektif manusia, adalah refleksi obyektif alam. Quarks dan berbagai partikel atom tidak bertemperamen, molekul dan sel-sel tidak memiliki sentimen, planet dan galaksi tidak berargumen. Atom tidak terhanyut emosi, meskipun fisikawan-partikel yang mengobservasinya sedang murung atau berbinar.

Saat saintis mengobservasi, meneliti, bereksperimentasi, mengukur, dan menghitung gejala alam, problem psike-emosi manusia tidak akan mempengaruhi kinerja alam. Alam semesta menunggu potensi dan teka-tekinya terungkap. Potensi atom yang dahsyat baru diketahui pada 1940, sepuluh tahun kemudian kode genetik kehidupan (DNA) baru dipahami, dua dekade kemudian dunia digital juga terungkap. Hal-hal baru terus ditemukan dan diketahui dengan metode sains.

Alam semesta dan kehidupan bukan kisah drama sebagaimana rekaan manusia. Alam memiliki hukum yang tidak sesimple soal baik-buruk, halal-haram, dosa-pahala, moral-amoral seperti narasi mitologi, agama, atau filsafat. Narasi produk  pikiran atau harapan subyektif manusia yang merasa istimewa. Alam semesta bukanlah panggung untuk pertunjukan drama manusia.

Berhala Filsafat

Filsafat, mirip agama, sibuk memikirkan tentang  keistimewaan manusia (antroposentrisme). Metafisika, etika, estetika, adalah pergulatan manusia untuk memahami dirinya dan memaknai “yang ada”. Filsafat membatasi diri dalam horizon manusia, dan merasa sebagai pengamat dan satu-satunya  entitas “pemberi makna”.

Makna begitu penting bagi manusia, sehingga mengabaikan fakta bahwa alam semesta sudah ada 13,7 milyar tahun, dan kehidupan sudah hadir 4 milyar tahun, sebelum manusia ada. Manusia juga baru memiliki kesadaran (primitif) sekitar 70.000 tahun lalu. dan merumuskan konsep kemanusiaan 5000 tahun lalu. Pengetahuan saintifik ini baru kita miliki 100 tahun terakhir.

Seandainya metode sains tak pernah ada, filsafat akan terus bergulat dengan pertanyaan sama, yang ditanyakan filsuf 2500 tahun lalu (mirip dengan agama yang terpaku pada teks kitab suci, yang ditulis ribuan tahun lalu). Mengapa? Karena filsafat dan agama sibuk hanya menafsirkan pikiran, bukan studi tentang obyek di luar yang manusia pikirkan.

Mustahil, misalnya, berfilsafat tentang dark energi, dark matter, quasar, lubang hitam, penjelajahan luar angkasa, eksistensi virus, atau adakah kehidupan di exo-planet.  Temuan-temuan sains terbaru sudah pasti berada di luar jangkauan pemikiran filsafat. Selain hanya mempersoalkan konsekuensi etika dan moral.

Filsafat (pernah) terperangkap dalam dualisme berpikir “obyek-subyek”, rasionalis vs empiris, a priori – a posteriori, analytic – synthetic, fenomena – noumena. Perdebatan teoritis tentang “bagaimana kita tahu”, yang tentu menarik pada zamannya. Ketika itu manusia hanya mengandalkan indera dan logikanya yang terbatas. Namun apakah kategori dualistik itu masih relevan dan ada manfaatnya, ketika data dan fakta lebih berbicara, dalam penelitian dan eksperimen saintifik?

Apakah penjelajahan ke dasar samudra, dan bertemu dengan mahluk-mahluk eksotik laut dalam , yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, perlu dimaknai secara filosofis. Atau pengandaian, jika manusia bertemu mahluk alien yang lebih tinggi peradabannya dari manusia, bagaimana memaknainya? Atau saat konsep Transhuman terwujud, bagaimana filsafat memaknai kemanusiaan? Apakah Transhuman adalah “overman” yang pernah dibayangkan Nietzsche?

Dan benarkah manusia adalah “animal rationale” dan “animal metaphysicum”. Bagaimana menjelaskan begitu banyak irasionalitas yang dilakukan manusia? Problem filsafat adalah, horisonnya sebatas logika antroposentrik manusia. Agar aktual dan relevan filsafat perlu bersandar pada sains kontemporer. Misalnya, Teori Relativitas sebagai metafisika konsep waktu; fisika kuantum adalah “noumena” dibalik fenomena; biologi evolusioner adalah metafisika dibalik kehidupan.

Filsafat adalah upaya mencari wisdom, cinta kebijaksanaan. Sumbangan filsafat sudah tercatat, perdebatan filsafat di masa lalu ikut memberi  pondasi yang solid bagi epistemologi dan metode sains modern. Dengan segala pretensius pemikirannya, filsafat juga memiliki sejumlah kenaifan, yang mencerminkan kesederhanaan pemikiran di masa lalu. Filsafat juga soal egosentrisme para filsuf sebagai manusia.

Konsep “dasein” Heidegger, misalnya, hanya istilah yang berbeda dari konsep ide (Plato), atau substansi (Aristoteles), Tuhan (Descartes), das ding ansich (Kant), Roh Absolut (Hegel), kesadaran (Husserl) dan seterusnya. Konsep-konsep filsafat seringkali adalah pengulangan, reformulasi, dari gagasan lama. Kecenderungan satu filsuf untuk menegasi pemikiran filsuf lain, dan merasa pikirannya lebih benar dan orisinil, adalah karakteritik filsafat. Sikap kritis dan skeptis, harus berbeda terhadap apapun dan siapapun, adalah modus pesimisme filsafat.

Sains bersikap kritis dan skeptis sebagai metode, bukan modus. Fakta, temuan, dan teori sains yang valid mudah disepakati, karena bukti obyektif tidak membuka peluang bagi sentimen egoisme saintis. Sains bersifat optimis, selalu berupaya membuktikan hipotesa dan menjawab rasa ingin tahu.

Jika Elon Musk optimis, itu karena ia berparadigma sains. Elon tidak akan jadi Elon jika ia mendalami filsafat, berasyik-masuk dengan berbagai pertanyaan atau keraguan yang seringkali absurd.  Elon jelas tidak memberhalakan sains, sebagaimana para pembelajar sains. Tidak ada ritual menyembah roket angkasa, atau melantunkan ayat-ayat suci hukum gravitasi. Semua upaya saintifik dilakukan dengan kecerdasan dan kerja keras.

Elon juga tak perlu melakukan ritual bertanya, laiknya penghayat filsafat — seperti GM yang gemar mengutip Heidegger. Pertanyaan seperti, apakah maknanya makna; apakah ketiadaan itu ada; apakah tahu itu mengetahui. Berbagai pertanyaan reflektif (dan sebagian absurd) itu sudah beribu-ribu tahun dipertanyakan filsuf. Pembelajar sains, yang umumnya juga membaca filsafat, tidak perlu memberhalakan pertanyaan.

Namun, tentu tidak soal, jika ada orang yang memilih memberhalakan filsafat (sebagaimana banyak orang memberhalakan agama). Bercengkerama dengan absurditas dan kebingungan, atas nama filsafat. Tidak masalah jika penghayat fundamentalis filsafat ingin memberhalakan teks-teks lama filsafat. Selalu mengutip atau menyitir ungkapan, aforisme, antinomi, konsep-konsep filsafat untuk mendapatkan petunjuk. Sehingga bisa merengkuh “pengetahuan dan kebenaran hakiki.” Jika memang beneran ada.

Oleh: Lukas Luwarso

Sumber: Forum Agama dan Filsafat (1)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed