by

Optimalisasi Teknologi Untuk Mencegah Perpecahan

Penulis: M. Fitra, Siswa SMAN 1 Pontianak

Pada masa perang dingin sains dan teknologi yang terpaut dengan kegiatan militer mendapat sorotan yang lebih dari pemerintah. Pemerintah bersedia mengeluarkan dana yang besar demi kemajuan iptek di negara mereka. Pada periode ini tumbuh disiplin-disiplin ilmu yang mempelajari dampak sains pada masyarakat.

Di negara-negara maju, teknologi di era modern bukan lagi urusan individu atau komunitas berskala kecil. Teknologi modern mempunyai tujuan-tujuan nasional pada wilayah ideologi, militer, ataupun ekonomi dan bentuk kesadaran nasional untuk menggali sumber-sumber alam yang ada. Ini juga bertujuan untuk mewujudkan produksi barang dengan skala yang besar.Perkembangan teknologi elektronika, yang merupakan cikal bakal TIK saat ini, mendapatkan momen emasnya pada era Perang Dingin.

Ada beberapa tonggak perkembangan teknologi yang secara nyata memberi sumbangan terhadap perkembangan TIK hingga saat ini. Pertama adalah temuan telepon oleh Alexander Graham Bell pada tahun 1875. Temuan ini kemudian berkembang menjadi pengadaan jaringan komunikasi dengan kabel yang meliputi seluruh daratan Amerika, bahkan kemudian diikuti pemasangan kabel komunikasi trans-atlantik. Jaringan telepon ini merupakan infrastruktur masif pertama yang dibangun manusia untuk komunikasi global.

Memasuki abad ke-20, tepatnya antara tahun 1910-1920, perkembangan TIK (teknologi informasi dan komunikasi) ditandai dengan sebuah transmisi suara tanpa kabel melalui siaran radio AM yang pertama. Komunikasi suara tanpa kabel ini pun segera berkembang pesat. Kemudian diikuti pula oleh transmisi audio-visual tanpa kabel, yang berwujud siaran televisi pada tahun 1940-an.

Komputer elektronik, juga sebagai wujud perkembangan TIK, beroperasi prtama kali pada tahun 1943. Lalu diikuti oleh tahapan miniaturisasi komponen elektronik melalui penemuan transistor pada tahun 1947 dan rangkaian terpadu (integrated electronics) pada tahun 1957.

Perkembangan teknologi elektronika, yang merupakan cikal bakal TIK saat ini, mendapatkan momen emasnya pada era Perang Dingin. Persaingan IPTEK antara blok Barat (Amerika Serikat) dan blok Timur (dulu Uni Soviet) justru memacu perkembangan teknologi elektronika lewat upaya miniaturisasi rangkaian elektronik untuk pengendali pesawat ruang angkasa maupun mesin-mesin perang.

Miniaturisasi komponen elektronik, melalui penciptaan rangkaian terpadu, pada puncaknya melahirkan mikroprosesor. Mikroprosesor inilah yang menjadi ‘otak’ perangkat keras komputer dan terus berevolusi sampai sekarang.

Baca Juga: Membangun Karakter Pemimpin Berkualitas

Perangkat telekomunikasi berkembang pesat saat teknologi digital mulai digunakan menggantikan teknologi analog. Teknologi analog mulai terasa menampakkan batas-batas maksimal pengeksplorasiannya. Digitalisasi perangkat telekomunikasi kemudian berkonvergensi dengan perangkat komputer yang sejak awal merupakan perangkat yang mengadopsi teknologi digital.

Produk hasil konvergensi inilah yang saat ini muncul dalam bentuk telepon seluler. Di atas infrastruktur telekomunikasi dan komputasi ini kandungan isi (content) berupa multimedia mendapatkan tempat yang tepat untuk berkembang. Konvergensi telekomunikasi – komputasi multimedia inilah yang menjadi ciri abad ke-21, sebagaimana abad ke-18 dicirikan oleh revolusi industri.

Bila revolusi industri menjadikan mesin-mesin sebagai pengganti ‘otot’ manusia, maka revolusi digital (karena konvergensi telekomunikasi – komputasi multimedia terjadi melalui implementasi teknologi digital) menciptakan mesin-mesin yang mengganti (atau setidaknya meningkatkan kemampuan) ‘otak’ manusia.

Perkembangan teknologi dan informasi tentunya punya dampak negatif dan positifnya. Dampak positifnya tentu bisa mempercepat persebaran informasi secara akurat dan mutakhir, mempermudah komunikasi antar wilayah, pengembangan wawasan, sarana hiburan, media pertukaran data-data secara cepat dan efektif, dan yang lainnya.

Meski begitu, kemajuan teknologi dan informasi ini harus digunakan secara bijak, karena perkembangan ini tetap memiliki dampak negatif. Adapun dampak negatif yang dapat ditimbulkan seperti memudarnya nilai tradisional dalam masyarakat, semakin banyaknya pembajakan hasil karya, ataupun menguatnya sikap individualisme.

Internet

Dilansir dari buku Networking with Microsoft TCP/IP (1996) karya Drew Heywood, perkembangan internet bermula pada tahun 1960an ketika departemen pertahanan Amerika Serikat meluncurkan program Advanced Research Projects Agency Network (ARPANET).

J.C Licklider ditunjuk sebagai kepala program ARPANET yang bertujuan untuk menghubungkan komputer-komputer melalui jaringan. Dari program tersebut, konsep internet ditemukan dan terus dikembangkan.

Perkembangan internet semakin maju pada sekitar tahun 1990-an. Institut Teknologi Massachusetts (MIT) berhasil menemukan program World Wide Web Consortium dan Tim Berners Lee menemukan program browser yang berbasis jaringan.

Pada masa kini internet bisa kita akses dengan menggunakan teknologi tanpa kabel (wireless).

Televisi

Perkembangan televisi bermula dari penemuan Kinescope oleh Vladimir Kozma Zworkyn pada 1923. Valdimir Kozma mampu menciptakan suatu sistem berbentuk penangkapan gambar, transmisi dan sistem receiving. Pada 1939, Vladimir Kozma dan Farnsworth melakukan komersialisasi telvisi dan bisa dinikmati oleh masyarakat luas.

Satelit

Penemuan satelit tidak dapat terlepas dari perlombaan teknologi luar angkasa pada masa Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Pada tahun 1957, Uni Soviet berhasil melucurkan satelit pertama bernama Sputnik 1 untuk kepentingan politik, militer dan ilmu pengetahuan. Pada 1958, Amerika Serikat juga menyusul Uni Soviet untuk melucurkan satelit bernama Explorer 1. Pada perkembangannya, satelit berfungsi untuk pencitraan bumi, telekomunikasi telepon, GPS dan komunikasi data.

Telepon

Konsep kerja awal telepon ditemukan oleh Alexander Graham Bell pada 1876. Saat Perang Dunia II, telepon dimanfaatkan untuk meninformasikan posisi musuh dan meningkatkan kualitas radar. Telepon mobile pertama kali digunakan secara komersial pada tahun 1940. Dilansir dari buku Perkembangan Teknologi Komunikasi (2017) karya Nurudin, perkembangan telepon semakin pesat ketika John Goeken dan Craig McCaw mencetuskan telepon tanpa kabel (wireless).

Memasuki tahun 1990-an, mulai berkembang telepon seluler yang menggunakan teknologi kartu sim dan dengan ukuran yang semakin praktis. Teknologi telepon seluler semakin berkembang dengan adanya sistem operasi, konektivitas internet, kamera dan chip processor canggih sehingga muncul istilah smartphone.

Pemerintah Indonesia menyiapkan berbagai upaya strategis untuk mendorong pemanfaatan serta perkembangan teknologi digital di Tanah Air agar mendidik dan menguntungkan. Hal itu disampaikan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, di Jakarta, Jumat (7/12/2018). Menteri Rudiantara mengungkapkan, ada tiga upaya utama yang hingga kini terus dilakukan oleh pemerintah. Usaha pertama, ucap Menteri Rudiantara, melakukan literasi digital ke masyarakat agar tidak terjebak ketika memilah dan memilih informasi.

“Kita membutuhkan jangka waktu yang panjang untuk meningkatkan literasi di masyarakat sebab kita punya 260 juta penduduk. Banyak yang konsumsi berbagai macam berita, palsu, benar dan yang campur aduk,” ucap Menteri Rudiantara

Selanjutnya kedua, melakukan pencegahan terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya. Kemenkominfo selama ini telah melakukan tindakan pemblokiran maupun pembatasan akses yang kontennya dianggap merugikan publik.

“Upaya ketiga adalah melakukan penindakan hukum yang bekerja sama dengan pihak kepolisian. Ini paling mendasar untuk memajukan dan mengembangkan teknologi di Indonesia,” kata Menteri Rudiantara. Sedangkan untuk aspek pemanfaatan agar memberikan dampak keuntungan penghasilan ekonomi, Menteri Rudiantara menuturkan, masyarakat dapat mengelola teknologi digital yang kini berkembang sebagai ajang proses bisnis.

“Pemanfaatan teknologi untuk mengembangkan produk bisnis yang berkaitan dengan ekonomi digital. Walaupun namanya ekonomi digital, tapi tidak hanya berbicara masalah ekonomi saja tapi juga sosial,” ujar Menteri Rudiantara.

Menteri Rudiantara menyebutkan, terkait pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung proses bisnis contohnya saat ini telah ada, seperti profesi pengojek yang awalnya konvensional berubah online yang berbasis teknologi. Menteri Rudiantara mengatakan, pemanfaatan teknologi untuk proses bisnis akan terus didorong ke masyarakat sehingga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan.

Oleh karena itu, ucap Menteri Rudiantara, pemerintah masih memiliki program-program baru di bidang teknologi digital yang nantinya terus bertambah.

Penulis: M. Fitra, Siswa SMAN 1 Pontianak

Diolah dari berbagai sumber

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed