by

Nyadran Perdamaian, Menjaga Tradisi dan Harmoni

Temanggung | kabardamai.id | Nyadran atau biasa disebut dengan Sadranan adalah sebuah tradisi yang sudah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Jawa, terutama sebagian besar masyarakat Jawa – Islam.

Pada Jumat (26/2) lalu,  dusun Krecek-Gletuk, Getas, Temanggung menggelar Nyadran Perdamian dengan tema: Menjaga Tradisi Lintas Generasi.

Ngasiran, salah satu pemuda dusun Krecek menyampaikan bahwa Nyadran Perdamaian ini diselenggarakan atas kerjasama Aman Indonesia dengan orang muda Dusun Krecek. Nyadran Perdamaian kali ini merupakan tahun ketiga, dimana sebelumnya dilakukan secara luring. Pada waktu luring, banyak orang muda yang datang dan tinggal beberapa hari untuk mengikuti acara Nyadran Perdamaian dan belajar tentang tradisi Nyadran.

“Kami anak-anak muda dari Aman Indonesia dan Pemuda Dusun Krecek, mengajak orang muda lintas agama untuk mengikuti Nyadran Perdamaian di Dusun Krecek dan kali ini yang ketiga. Sebelumnya secara offline, banyak anak-anak muda datang kesini mengikuti acara Nyadran, live-in atau tinggal di rumah-rumah warga. Mereka berproses, belajar tentang tradisi-tradisi Nyadran dengan berbagai kelas seperti kelas karawitan,” kata Ngasiran.

Karena pandemi, Nyadran Perdamaian kali ini dilaksankan secara daring. Hal ini dilakukan agar narasi perdamaian yang ada di Nyadran tidak hilang begitu saja. Ngasiran pun menyampaikan ternyata mengadakan Nyadran Perdamaian secara darin lebih rumit daripada luring. Karena berada di dusun dan hanya mengandalkan wifi.

“Namun karena kondisi pandemi, Nyadran dilaksanakan secara online. Hal ini dilakukan agar narasi perdamaian di tradisi Nyadran tidak hilang begitu saja.. Online ternyata lebih rumit daripada waktu offline. Tempat kami di dusun, sinyal sangat susah ini hanya mengandalkan wifi, untungnya kami di backup dari Aman Indonesia dari Jakarta kalau misal dari sini videonya harus mati,” lanjut Ngasiran.

Dalam acara Nyadran Perdamaian ini, hadir pula Transpiosa Riomanda, seorang antropolog. Ia menyampaikan arti kata Nyadran yang berasal dari kata kerja Sadra yaitu upacara kematian. Upacara ini dimaksudkan untuk mengingat para leluhur. Nyadran sendiri dulu diselenggarakan oleh kerajaan, sebagai bentuk derma raja untuk rakyatnya.

“Nydaran itu kata kerja dari Sadra, yang artinya kurang lebih tak jauh beda dengan arti upacara kematian. Upacara ini sebetulnya untuk mengingat, jadi lebih ke arah refleksi atas leluhur. Kalau dulu penyelenggara upacara ini adalah kerajaan. Raja memperingati kematian raja-raja sebelumnya atau leluhurnya raja. Dalam upacara itu seperti pesta, yang melibatkan banyak orang, dan bentuk derma dari raja untuk rakyatnya,” terang Riomanda.

Riomanda juga mengatakan kalau Nyadran pada hari ini tidak lagi dilakukan oleh raja atau pemimpin tapi lebih komunal dan melibatkan banyak orang.

“Pada hari ini upacara nyadaran itu justru tidak dilakukan lagi oleh keluarga raja atau pemimpin tapi justru lebih komunal, lebih egaliter, melibatkan banyak orang, dan bisa dilakukan dalam beberapa rangkaian seperti ada bersih-bersih makan, ada pengajian, dan selalu ada makan bersama,” papar Riomanda. [NOS]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed