by

Nurcholish Madjid Society Kecam Peristiwa Pembakaran Rumah Umat Buddha di Mareje

Kabar Damai | Sabtu, 14 Mei 2022

Jakarta | kabardamai.id | Persekusi, diskriminasi, dan tindakan intoleransi menjadi ancaman nyata dalam kehidupan berbangsa di Indonesia saat ini. Pekan lalu, Minggu (1/5/2022), bersamaan dengan Hari Raya

Idul Fitri, aksi menggetirkan itu kembali terjadi. Sejumlah warga melakukan pembakaran

terhadap rumah milik Amak Rahim alias Amak Runa, seorang umat Buddha di Dusun Ganjar.

Baca Juga: Forum Peduli Lombok Kecam Kasus Kerusuhan Terhadap Umat Budha di Mareje

Desa Mareje, Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat

(NTB).

Pembakaran rumah warga Mareja, Lombok Barat, tidak hanya harus ditindak tegas berdasarkan

hukum yang berlaku, melainkan juga pemerintah melalui kementerian terkait mesti melakukan

proses penyadaran tentang pentingnya hidup bersama dengan berbagai perbedaan agama,

keyakinan, aliran, etnis dan suku yang ada di Tanah Air.

Menurut kabar yang kami terima, kejadian tersebut sebenarnya merupakan ekses dari kontestasi

pemilihan kepala daerah yang telah usai. Kontestasi itu masih terus berlangsung, dan bahkan para

pihak yang kalah kerap merisak (mem-bully) para pendukung calon yang menang yang kebetulan

adalah pengikut agama Buddha.

Teranyar, pada saat pawai malam takbiran, beberapa pemuda Muslim dari Dusun Bangket Lauk

meledakkan petasan di depan kandang sapi milik Amak Rahim alias Amak Runa, seorang tokoh

umat Buddha di desa itu. Karena membahayakan, pelaku lantas ditegur, tetapi tidak senang lalu

meresponsnya dengan memukul.

Selang beberapa saat, terjadi provokasi. Massa yang disulut oleh kabar palsu bahwa “umat

Buddha telah menghina umat Muslim,” lantas membakar rumah milik Amak Rahim alias Amak

Runa. Isu SARA dihembuskan untuk membakar emosi massa.

Respons atas kasus ini sangat membahayakan harmoni dan persaudaraan antarumat beragama di

Desa Mareje, Lombok Barat, dan Indonesia secara keseluruhan. Meskipun sudah dimediasi oleh

aparat kepolisian—dengan menghadirkan para perwakilan dari Muslim dan Buddha—kasus

tersebut masih menyisakan keganjilan, sebab sebagai umat minoritas, umat Buddha tidak punya

pilihan selain berdamai.

Nurcholish Madjid Society (NCMS) memandang tindakan persekusi berupa pembakaran rumah

milik Amak Rahim alias Amak Runa harus ditindak tegas oleh aparat kepolisian, bukan sekadar

diselesaikan melalui jalan damai. Pembakaran rumah milik umat Buddha yang notabene minoritas

di wilayah itu tidak dapat dibiarkan, sebab dikhawatirkan akan melahirkan kejadian serupa di

kemudian hari.

Atas kejadian ini, Nurcholish Madjid Society (NCMS) menyatakan sikap sebagai berikut:

1. Meminta aparat kepolisian untuk menindak tegas para pelaku pemukulan dan

pembakaran rumah milik Amak Rahim alias Amak Runa karena sudah mengakibatkan

kerugian fisik dan psikis.

2. Meminta aparat kepolisian untuk menangkap penyebar hoaks dan provokator yang

menyebabkan pembakaran rumah itu terjadi.

3. Mengajak para tokoh umat Muslim dan umat Buddha untuk mengedukasi setiap umatnya

untuk mengedepankan sikap tenggang rasa di Desa Mareje, Lombok Barat.

4. Menghimbau setiap umat beragama dan warga negara Indonesia untuk mengedepankan

sikap saling menghargai di antara sesama untuk menciptakan hamorni di masyarakat.

Demikian pernyataan sikap ini kami sampaikan, dengan harapan tindakan pemukulan, aksi

pembakaran, dan diskriminasi itu mendapat hukuman tegas dari aparat kepolisian.

Jakarta, 6 Mei 2022

Nurcholish Madjid Society

Muhamad Wahyuni Nafis

Ketua Dewan Pengurus

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed