by

Nur Rofiah: Cak Nur Beri Jalan Tengah, antara Kebarat-baratan dan Kearab-araban

Kabar Damai | Kamis, 25 Maret 2021

 

Jakarta | kabardamai.id | Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm., dosen Ilmu Tafsir pada Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta memaparkan bahwa pemikir seperti Cak Nur memberikan jalan tengah di antara pembelahan paradigma yang tersedia, yakni antara pandangan/sikap kebarat-baratan dan kearab-araban.

Bahwa, katanya,  menjadi modern harus bergaya Barat dan dengan begitu menjadi muslim harus menjadi Arabdalam hal apa pun, baik dalam berbusana, sematan aksesoris dan lain sebagainya.

Hal ini ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam rangka hari ulang Cak Nur (Nurcholish Madjid), bertema “Beragama Secara Inklusif: Belajar dari Cak Nur”, pada Selasa, 23 Maret 2021 secara virtual.

“Cak Nur memberi jalan tengah, bahwa menjadi modern atau berpikir modern tidak harus bergaya Barat, dan menjadi muslim pun tidak harus bergaya Arab. Artinya, pertama, Cak Nur berupaya menyatukan dua keharusan sekaligus: menjadi muslim yang loyal dan berkomitmen terhadap ajaran dan nilai-nilai keislaman, dan kedua, menjadi muslim dengan tetap berkomitmen terhadap nilai-nilaikomodernan,” terangnya.

Cak Nur kata dia, meyakini betul bahwa menjadi muslim tidak harus menolak modernitas, atau melepaskan nilai-nilai agama, disisi lain. Seseorang bisa menjadi muslim yang saleh dan modern sekaligus.

Mbak Nur, demikian teman-teman aktivis biasa menyapanya,  juga menegaskan bahwa dalam kaitannya dengan mualamah sosial, Cak Nur membangun interpretasi baru bagaimana berelasi dengan yang lain, dengan umat agama lain, dengan pihak lain.

 

Ada Aspek Profan dan Transenden dalam Qur’an

Selain itu, dalam memahami al-Quran, Mbak Nur Rofiah menjelaskan perlunya umat muslim untuk tidak hanya melihat al-Quran semata-mata sebagai kalamullah, tetapi meminta umat muslim tidak melupakan bahwa al-Quran ditulis dalam bahasa Arab. Artinya, ada aspek profan dan transenden sekaligus.

“Al-Quran sebagai kalamullah tetapi dalam bahasa Arab. Penjelasan ini dimaksudkan untuk menangkis sebagian kalangan tafsir baku terhadap al-Quran. Cak Nur dan para neomodenis lainnya menyadarkan bahwa al-Quran adalah firman berbahasa Arab sekaligus firman Allah yang memiliki makna absolut, namun tafsirnya dinamis karena bersumber dari manusia yang mungkin benar-mungkin salah,” tutur Rofiah.

Artinya, menurut dia,  ada aspek dinamis dalam menafsirkan al-Quran, alias tidak memutlakan satu tafsir sebagai satu-satunya tafsir yang benar dan absolut.Dalam pengertian lain, pada teksnya, al-Quran adalah makhluk, tetapi pesan di baliknya bersifat absolut, mutlak, benar, misalnya pesan tentang tauhid, kebebasan, relasi dengan umat lain lain. Al-Quran tetap, namun dia dapat ditafsirkan.

“Karenanya arah tafsir itu sifatnya menggali makna lama (seperti yang dilakukan Cak Nur), lalu menjadikan makna lama sebagai pijakan untuk menggali maknabaru. Dalam soal relasi dengan yang lain (umat beragama) Cak Nur melihat dari kerangka seperti ini,” tandasnya.

Dalam pandangan Nur Rofiah, konsep tauhid dalam pemikiran Cak Nur merupakan ide yang sangat penting, misalnya tunduk kepadaAllah itu harus jelas arahnya jangan sampai salah kaprah, hanya menuhankan Allah tidak menuhankan yang lain atau menuhankan

Allah sembari menuhankan yang lain.

Sebab, tauhid hanya pasti mendorong orang untuk lapang dada, daya dorong yang seluas-luasnya untuk kemaslahatan manusia, berimbas kepada membangun relasi yang baik dengan yang lain, apa pun agama dan latarbelakangnya.

“Sehingga, perspektif tentang masyarakat Islam yakni masyarakat yang berbuat baik, dan aktif memberikan kebaikan kepada yanglain, termasuk juga negara islami adalah negara yang berketuhanan yang Mahaesa, memberi kebaikan tanpa terkecuali, dan memberikan kebaikan keapda negara lain,” ujar Rofiah.

Di sinilah konsep Islam rahmatan lil alamin berjalan. Terakhir, Mbak Nur menegaskan bahwa Cak Nur memang tidak spesifik bicara tentang isu gender, tetapi gagasan Islam inklusif yangdijelaskan Cak Nur menjadi landasan bagi kebebasan dan emansipasi perempuan.

Baca juga: Beragama Secara Terbuka

Agama Hadir untuk Melawan Eksklusifisme

Sementara,  Kang Yudi Latif menjelaskan bahwa semua agama hadir ke dunia untuk melawan eksklusivisme. Sebab semua berasal dari asal usul yang sama, sehingga ada aspek saling meminjam satu sama lain.

“Maka tak heran kalau kearifan yang diajarkan semua agama itu sama, yakni mengarahkan manusia kepada kebaikan dan kemuliaan. Dalam tahap relasi dengan yang lain, yang bisa meluaskan wawasan manusia ialah pandangan dunianya: dengan pandangan dunia ini, manusia mampu keluar dari jaring-jaring eksklusivisme,” kata Yudi.

Maka, imbuh dia, setiap mengembalikan usaha yang mengarahkan manusia kepada eksklusivisme itu menyalahi kodrat dari agama yang inklusif.

Kang Yudi juga menjelaskan bahwa ada titik temu dalam setiap agama, misalnya dalam pesan-pesan moral, menjalin persaudaraan,dan karena itu secara sosiologis kita harus siap hidup bersama dalam kedamaian dengan berbagai komunitas agama dan tradisi lain.

Yang menarik dari pemaparan Kang Yudi ialah gagasan tentang ‘civil religion’ yang pernah ditulis Cak Nur yang secara lebih canggihdiulas oleh Kang Yudi. Artinya, ‘civil religion’ (sebagaimana dipraktikkan Nabi di Madinah), mengajak kita untuk beragama secara

substanstif, dan harus menghindari beragama secara dogmatis.

“Karena itu, warisan, nilai dan semangat Piagam Madinah sangat penting menjadi rujukan umat muslim dalam membangun relasi dengan umat lain. Itulah Islam inklusif yang diajarkan Rasulullah,” ujar Yudi dalam diskusi yang juga live streaming di kanal Youtube Cak Nur Society.

Dalam konteks Indonesia, terang Yudi, Cak Nur menyepadankan Piagama Madinah dengan Pancasila (dalam soal semangat dan pembentukannya), yakni dibentuk bersama-sama segenap elemen bangsa, dengan menyingkirkan perbedaan, agama, tradisi, keyakinan, dan lain sebagainya.

“‘Civil religion’, dalam arti tertentu, adalah ajakan kepada segenap elemen bangsa untuk membagun moral lewat Pancasila, mengajak kita menjadikan Pancasila sebagai titik temu, bahwa Pancasila adalah konsensus bersama untuk mewujudkan tertib social,” paparnya.

Tetapi, kata dia, Pancasila bukan hanya yang ditafsirkan negara tetapi, mengadopsi juga Pancasila sebagaimana dikembangkan masyarakat sipil seperti Cak Nur lewat Kajian Kajian di Paramadina, Gus Dur lewat Prodem, dan sebagainya.

“Kajian virtual yang digelar NCMS malam ini sangat mencerahkan. Gagasan dan argumen yang dipaparkan memantapkan keyakinan bahwa begitu penting menjadi manusia (dan muslim) inklusif, “ ungkap Budhy Munawar Rahman, penulis Ensiklopedi Nurcholish Madjid yang juga dosen STF Driyarkara Jakarta. [BMR ]

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

Editor: –

Sumber: Diskusi Virtual NCMS @Cak Nur Society | Esoterika – Forum Spiritualitas

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed