by

Nilai Ketuhanan Sebagai Dasar Internalisasi Nilai Pancasila

Kabar Damai I Sabtu, 03 Juli 2021

Bogor I kabardamai.id I Seruan mengamalkan nilai Ketuhanan sebagai dasar internalisasi nilai Pancasila bagi bangsa Indonesia dinyatakan oleh Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Antonius Benny Susetyo, dalam acara temu untuk Perumusan Fokus Bahasan Pokok-Pokok Haluan Negara Bidang Agama bersama dengan Badan Pengkajian Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia, yang dilaksanakan hari Kamis, 01 Juli 2021 di Hotel Bigland, Bogor, Jawa Barat.

Turut hadir dalam acara tersebut adalah Ahmad Suaedy (Peneliti Senior Abdurrahman Wahid Centre-Universitas Indonesia), Nasaruddin Umar (Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta), dan Azyumardi Azra (mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), dan termasuk juga anggota Badan Pengkajian MPR RI, sebagai peserta. Acara diadakan secara daring dan luring bersamaan, dan dihadiri kurang lebih 15 orang.

Dilansir dari laman BPIP, acara dibuka dengan pengenalan bahwa Pancasila tidak hanya berhenti di sila pertama, tetapi harus terimplementasikan semua ke sisi hidup manusia.

“Keputusan negara haruslah memperhatikan norma negara dan tidak bertentangan. Keputusan harus bersendikan nilai-nilai ketuhanan,” seru Benny dalam kesempatan tersebut.

Baca Juga: “Masyarakat Pancasila” untuk Kesejahteraan, Kedamaian dan Keadilan Papua

Menurutnya, manusia harus mendapatkan posisi, hak, dan kewajiban yang setara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Ketuhanan adalah internalisasi nilai-nilai Pancasila yang dibatinkan dalam perilaku manusia. Harus menjadi inspirasi batin, alat justifikasi, titik moral kepatuhan, solidaritas dan kesetiakawanan,” ujarnya, dikutip dari bpip.go.id (1/7).

Benny pun menyatakan bahwa saat bangsa Indonesia melakukan internalisasi nilai-nilai ketuhanan, nilai-nilai Pancasila akan benar-benar terwujud dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam pernyataannya, nilai ketuhanan adalah dasar.

Dalam kesempatan yang sama, Benny mengemukakan bahwa lewat pengamalan nilai ketuhanan, nilai-nilai lain seperti keadilan, gotong royong, dan persatuan, akan terjadi benar.

“Gerakan gotong royong seperti Pos Layanan Terpadu (Posyandu), Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), dapat menjadi arus kebijakan. Sayangnya saat ini mulai tergerus dan hilang,” lanjutnya.

Dia pun menyatakan pendapatnya bahwa demokrasi Pancasila perlu diaplikasikan secara keseluruhan di Indonesia.

“Dengan melaksanakan demokrasi berlandaskan nilai Pancasila, yang berdasarkan juga pada nilai-nilai agama, dapat membebaskan dari kemiskinan, kepicikan, serta membuat manusia mendapatkan pencerahan dan kedaulatannya penuh sebagai manusia. Inilah yang disebut memanusiakan manusia,” tutupnya.

Penerimaan Agama dan Pancasila Harus Diperkuat

Hadir secara daring dalam pertemuan tersebut, Nasaruddin Umar menyerukan diperlukannya konsorsium yang dihadiri para pakar dari berbagai tokoh agama dalam perumusan ini.

“(Kita) membicarakan visi dan misi kedepan seperti apa. Perlu diakomodir tentang definisi agama dan kenapa disebut agama dan disebut kepercayaan. Apa kriteria agama dan dasar hukumnya dimana, hal itu perlu dibicarakan secara khusus,” tambahnya.

Benny pun memberikan tanggapan mengenai konsorsium tersebut.

“(Konsorsium) bukan hanya sekedar formalitas. Tetapi harus berbicara tentang demokrasi Pancasila. Mari bicarakan konsep demokrasi yang sesuai dengan dasar hidup bangsa Indonesia, yaitu Pancasila,” katanya.

Di kesempatan yang sama, Azyumardi Azra menyatakan bahwa penjelasan hubungan antar agama dan negara harus dibuat.

“Pertama, penerimaan agama dan Pancasila harus diperkuat. Tidak bisa agama dan Pancasila dipisahkan dan dibedakan, serta dibandingkan. Kedua, harus diperkuat lagi tentang moderasi keberagaman. Toleransi harus hidup di tengah-tengah masyarakat,” katanya.

Ahmad Suaedy, dalam acara yang sama, menyatakan tentang nilai-nilai luhur yang dicapai saat Pancasila benar diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Displin dan etika harus didorong untuk dibangun, karena itu sangat diperlukan,” ujarnya.

Penerapan Nilai Ketuhanan dalam Kehidupan Sehari-Hari

Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila memiliki serangkaian nilai, yaitu ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan.

Dasar itulah yang membedakan hukum di Indonesia dengan hukum yang ada di negara lain. Sehingga Pancasila merupakan asas kerohanian tertib hukum Indonesia yang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dijelmakan lebih lanjut ke dalam empat pokok pikiran.

Dilansir dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, nilai yang terkandung pada sila I adalah pengakuan atas keberadaan Tuhan sebagai pencipta alam semesta berisi isinya.

Manusia Indonesia beriman dengan meyakini adanya Tuhan yang diwujudkan dalam ketaatan kepada Tuhan yang Maha Esa.

Hal ini terlihat dari seluruh masyarakat di Indonesia menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan Tuhan.

Penerapan nilai ketuhanan

Dalam buku Ajar Mata Pelajaran Sekolah Dasar PKN dan Pancasila (2020) karya Ni Putu Candra Prastya Dewi, bangsa Indonesia sejak dahulu sebagai bangsa yang religius.

Percaya akan adanya zat yang maha kuasa dan memiliki keyakinan penuh bahwa semua yang ada di bumi adalah ciptaan Tuhan. Sikap nilai ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari, dapat dilakukan dengan cara:

  1. Percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai ajaran agama yang dianut.
  2. Menjalankan perintah agama sesuai ajaran yang dianut Saling menghormati; antarumat beragama;
  3. Bekerja sama antarpemeluk agama dan penganut kepercayaan yang berbeda-berbeda.
  4. Menghormati orang lain dalam kebebaan menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing.
  5. Tidak memaksakan satu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain. [bpip/kemendikbudristek]

 

Penyunting: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed