by

Nia Sjarifudin: Sunda Wiwitan Seperti Rumah Saya Sendiri

Kabar Damai | Minggu, 16 Oktober 2022

Kuningan | kabardamai.id | Menghadiri launching Patung Maung Lodaya bersama anak dan suami secara langsung di Masyarakat Adat Karuhun Urang (Akur),Sunda Wiwitan Nia Sjarifudin merasa seperti pulang ke rumah sendiri.

Nia dikenal sebagai aktivis, pegiat toleransi dan perdamaian sejak lama menganggap Sunda Wiwitan seperti saudara dan kampungnya sendiri. Ia mengaku sangat merasa terharu sekaligus teringat kepada nenek dan ayahnya yang juga merupakan masyarakat adat. “Ayah dan nenek, mereka selalu mengatakan ‘kita ini keturunan siliwangi’ menggunakan bahasa sundanya yang halus”, ungkap Nia.

Semasa kecil, Nia tidak mengerti maksud ucapan yang selalu diceritakan nenek dan ayah kepadanya. Ia mengaku, dalam keluarga pengaruh keagamaan begitu kuat sehingga nilai-nilai kebudayaan yang menjadi warisan leluhurnya hilang seiiring berjalannya jaman. “Saya jujur merasa tersesat selama ini, saya baru sadar jika saya dilahirkan dari masyarakat adat” tutur Nia dalam sambutannya.

Baca Juga: Belajar Cinta Kasih dari Sunda Wiwitan

Memiliki semangat kebudayaan yang kuat setelah bertemu Sunda Wiwitan, Nia merasa budaya dan kebudayaan menjadi satu keharusan baginya untuk menjaga kelestarian dan keberlangsung ideologi bangsa. Nia menyampaikan, di tengah krisis global 2 tahun belakang, Indonesia masih survive hingga hari ini karena budaya gotong royong sebagai ciri dari masyarakat adat yang tidak lepas dari bangsa ini.

Nia melihat, masyarakat adat mengambil peran yang sangat penting ditengah ideologi kebangsaan terancam oleh berbagai faktor.
“Orang-orang masyrakat adat selalu menyelamatkan diskusi kebangsaan yang kini semakin jauh dri fitrahnya”, jelas Nia.

Ketua Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI) itu juga menyampaikan harapan untuk putra-putrinya yang juga hadir dalam acara ini. Ia dengan sepenuh hati memohon doa agar anaknya menjadi generasi pemuda Indonesia yang mampu terus belajar mengenai kebudayaan sebagai keyakinan dan identitas diri. “Saya berharap anak saya dapat menjadi generasi penerus yang memiliki semangat kebudayaan”, harap Nia.

Terakhir ia menyampaikan terima kasih kepada Masyarakat Adat Karuhun Urang (Akur) Sunda Wiwitan yang sudah menghidupkan kembali keyakinan Nia untuk terus belajar kebudayaan agar terus dalam diri dan terus melestarikannya.

 

Penulis: Amatul Noor

Editor: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed