by

Ni Loh Gusti Madewanti, Founder DROUPADI yang Care Isu Perempuan

Kabar Damai  | Sabtu, 14 Agustus 2021

Jakarta | kabardamai.id | Perempuan bernama lengkap Ni Loh Gusti Madewanti, S.Sos, M.Si ini merupakan seorang founder dari lembaga riset DROUPADI. Dalam wawancara khusus yang dilakukan bersama IDN Times pada Rabu, 16 Juni 2021 lalu, Anti, demikian sapaan akrabnya, membagikan perjalanan hidup yang membentuknya sampai saat ini.

Ia bercerita mulai dari asal mula passion-nya di bidang gender, kariernya sebagai peneliti, dan filosofi hidup yang dipegangnya. Kabar Damai menyarikan dari IDN Times untuk Anda semua.

Bertahun-tahun Menjadi Peneliti

Anti merupakan seorang founder sekaligus Direktur Eksekutif dari DROUPADI. DROUPADI sendiri merupakan singkatan dari [D]aya [R]iset Adv[O]kasi Peremp[U]an dan [A]nak [D]i [I]ndonesia. Lembaga advokasi dan riset ini sudah punya akta legal pada tahun 2016.

“Tugasnya dari hulu ke hilir. Mulai dari substansial sampai teknis. Mengarahkan organisasi ini mencapai tujuan tertentu dalam mengaplikasikan program-programnya. Sehingga tujuan organisasi tercapai,” ujar Anti menjelaskan job desk-nya sebagai Direktur Eksekutif.

Selain sibuk pada kegiatan institusi, perempuan berusia 35 tahun ini juga bekerja sebagai konsultan gender expertise dan pengurus komunitas Perempuan Berkisah. Sebelum masa pandemik berlangsung, Anti termasuk orang yang punya dinamika pekerjaan yang tinggi.

Pada Maret 2020, ketika kasus pertama COVID-19 diumumkan, ia dan timnya di DROUPADI terpaksa bekerja di rumah. Mereka harus melakukan upaya adaptasi demi keberlangsungan organisasi. Selain itu, suasana yang kalut di awal masa pandemik juga turut memperparah keadaan.

“Saya merasa stres tingkat tinggi, saya merasakan betul cabin fever syndrome,” kata Anti. Sindrom ini terjadi ketika semua orang melakukan aktivitas bersamaan di suatu tempat. Menurutnya, peristiwa yang jarang terjadi itu bisa menimbulkan potensi konflik yang lebih tinggi di dalam rumah. Situasi ini secara gak langsung juga memengaruhi kondisi emosional Anti.

Dalam sesi wawancara tersebut, ibu dua anak ini juga menceritakan kisahnya sebagai penyandang bipolar tipe 2.

“Berbeda dengan bipolar tipe 1 yang jangka waktunya singkat. Kalau aku itu long term, jadi kalau mood swing terjadi aku benar-benar gak mau ngapa-ngapain. Itu terjadi di masa awal pandemik,” tuturnya lagi.

Stres yang sama juga dirasakan oleh rekan kerjanya di DROUPADI. Demi mengatasi hal tersebut, Anti dan teman-temannya mencari solusi. Salah satunya dengan membatasi rapat online dan mengorbankan upahnya untuk keberlangsungan hidup karyawannya.

Baca Juga: Buya Syakur Yasin: Antara Agama dan Budaya, Menimbang yang Fana dan yang Abadi

“Aku gak mungkin PHK banyak orang dan sebagian besar staff itu single mom atau pencari nafkah utama. Akhirnya, gaji tim eksekutif (Direktur Eksekutif, treasure, dan bendahara) berkorban untuk gak mendapat gaji full. Dari 100 persen menjadi 25 persen,” ungkapnya.

Dalam masa-masa sulit tersebut, perempuan lulusan antropologi UI ini juga melakukan berbagai aktivitas sebagai upayanya untuk healing. Mulai dari menulis di Perempuan Berkisah sampai memulai hobi barunya untuk menanam tanaman.

Masa sulit pandemik juga mengajarinya banyak hal. Lebih lanjutnya ia mengatakan, “Kita tidak pernah siap akan masa depan, apa pun itu. Kita bisa menjadi orang yang dibentuk oleh keadaan dalam waktu yang cepat”.

Kritisi Kebijakan Pemerintah yang belum Ramah terhadap Perempuan

Sumber Foto: IDN Times

DROUPADI lahir dari keresahan Anti dan lima orang temannya yang juga berprofesi sebagai akademisi dan aktivis perempuan. Mereka membentuk gerakan ini sebagai bagian dari kritik terhadap kebijakan pemerintah yang jarang berbasis data.

“Banyak teman-teman aktivis yang mengkritisi kebijakan tanpa berbasis evidence. Itu disayangkan sekali,” kata Anti.

Perempuan kelahiran tahun 1986 ini pun memaparkan bahwa dalam pengalamannya meneliti, ia menyadari bahwa ada banyak perempuan yang belum mendapat validitas suara. Di mana pendapat yang mereka miliki diwakili oleh laki-laki yang hubungannya terkait dengannya.

Hal ini juga terjadi ketika Anti dan tim melakukan riset tentang bansos (bantuan sosial) di masa pandemik. Mereka pergi ke Cidaun, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa jarang ada responden perempuan yang ditanya langsung apa sebenarnya kebutuhan pokok mereka.

“Perempuan punya peran yang banyak. Dia bisa jadi seorang ibu, istri, dan dia butuh jadi dirinya sendiri. Waktu itu DROUPADI bertanya ‘ibu sebenarnya butuh apa di bansos?’. Ada yang jawab kalo dia butuh pembalut,” tuturnya.

Selain itu, dalam hasil riset yang sama, ada juga ibu hamil dan menyusui yang mengaku yang mengharapkan ada bantuan berupa susu bayi dan popok. Menurut Anti hal itu terjadi karena banyak kebijakan yang dibuat pemerintah di Indonesia belum berdasarkan data valid atau penelitian.

“Kedua, program itu hanya dicicipi oleh daerah tertentu saja. DROUPADI mungkin gak populer, karena kita geraknya underground, tapi kita spesifik langsung punya data dan menyasar stackholder,” tambahnya.

Tertarik pada Isu Gender Sejak Kuliah

Anti menempuh pendidikan di Antropologi UI (Universitas Indonesia). Saat awal masa kuliah S1-nya ia mendapatkan pengalaman unik dan berkesan. Tepatnya, ketika ia sudah semester 3 dan mengikuti kegiatan community development. Dalam program itu, Anti berangkat ke Jambi.

“Pertama kali, aku pergi ke Sokola Rimba di Jambi. Itu aku pertama kali merasakan bahwa aku tuh nothing tau gak. Dengan posisi orang Jakarta masuk ke pelosok Jambi, lalu melihat bahwa apa yang aku konsumsi itu privilege banget,” ujarnya.

Perjalanan perempuan kelahiran Magelang bertualang ke pelosok daerah juga berlanjut ketika ia bergabung pada kegiatan mapala (mahasiswa pencinta alam) UI.

Baca Juga: Bung Hatta dan 5 Nilai yang Perlu Diteladani

Ia mengatakan, “Di tahun 2004 ada tsunami Aceh dan aku bergabung untuk jadi relawan ke sana. Dari situ aku memupuk empatiku lagi. Bahwa ternyata dari semua tempat yang aku kunjungi, bagi perempuan nyawa itu jadi taruhan”.

Sejak saat itu, keseriusannya untuk mendalami isu gender semakin kuat. Ia mulai memusatkan perhatiannya pada program-program yang dibuat pemerintah yang sering dirasakannya belum cukup ramah terhadap perempuan.

“Secara politik walaupun perempuan dilibatkan, ia bisa jadi hanya diletakkan pada posisi yang kurang strategis. Dengan menerima manfaat yang gak maksimal. DROUPADI kemudian melihat berbagai macam dimensi mulai dari politik, sosial, sampai ekonomi. Kemudian, juga analisa menggunakan perspektif gender. Dari sana, kita bisa tahu relasi kuasa yang timpang,” tambahnya.

Pernah Alami Perundungan

Sumber Foto: IDN Times

Selama bertahun-tahun bergerak pada kegiatan aktivisme, Anti mengalami berbagai pengalaman yang kurang menyenangkan. Selain cibiran, ibu dari dua orang anak ini juga pernah mengalami cyber bullying, deadnaming, dan penguntitan.

Menurutnya hal itu bisa terjadi karena stigma buruk yang menempel pada kata feminis lahir dari mitos-mitos yang keliru. Banyak orang yang kurang paham bahwa esensi dari feminisme berdampak secara positif.

“Menurutku feminisme itu bagaimana kita bisa melihat orang lain atau kondisi yang gak punya ketidakadilan dan kita punya empatik kepada dia. Bukan bahwa feminis membenci laki-laki, feminis gak pake bra, atau feminis gak mau menikah,” pungkasnya.

Tujuan utama dari aktivisme ini adalah untuk membongkar tradisi yang tidak adil. Menurutnya, gerakan ini secara gak langsung akan berpengaruh untuk keberlanjutan hidup semua orang. Gak memandang apakah ia seorang perempuan atau laki-laki.

Beberapa pengalaman buruk yang terjadi beberapa tahun lalu sempat membuat perempuan lulusan magister antropologi UI ini terpuruk. Masa-masa down itu dilaluinya dengan pendampingan berbagai lembaga seperti SAFENET, LBH Apik, serta Komnas Perempuan. Anti juga mendapatkan bantuan untuk merujuk dirinya ke psikolog dan psikiater

Salah satu pelajaran yang dipetiknya adalah untuk menjaga presensinya secara online. Ia membatasi kegiatan berselancar di internet, mengunci semua akun media sosialnya, serta menyeleksi siapa saja orang yang bisa mengakses profilnya.

“Belakangan ini aku gak ngerasa media sosial itu penting banget. Kalo organisasi emang akunnya publik, tapi digital security-nya double. Jadi, password secara regular diganti,” tutur perempuan yang hobi berkebun ini. [idntimes.com]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed