by

Neng Dara Affiah Tanggapi Gerakan Nikah Muda

Kabar Damai | Minggu, 11 Juni 2022

Jakarta I Kabardamai.id I Fenomena menikah muda terjadi dan marak beberapa tahun seiring dengan ramainya gerakan hijrah ekstrem dan lain sebagainya. Oleh karananya, Neng Dara Affiah dalam kanal demokrasi id memberikan respon dan tanggapannya atas fenomena tersebut.

Ia mengungkapkan, beberapa tahun terakhir ada gerakan dari golongan tertentu yang melakukan nikah muda atas nama menghindari zina dan hidup didalam kultur islami dengan menikah lebih muda dan sudah dilegalkan secara Islam tetapi agak kurang mengikuti peraturan didalam perundang-undangan bahwa menikah bagi pria dan perempuan sesuai yang diatur dalam undang-undang perkawinan.

Sementara didalam Undang-Undang Perlindungan Anak, yang menikah dibawah usia delapan belas tahun dikategorikan sebagai pernikahan anak yang sesungguhnya dilarang didalam perundang-undangan.

Tetapi karena ada semacam gairah merujuk pada ajaran Islam, praktik nikah muda ini banyak dilakukan oleh kalangan anak-anak muda sekarang.

Ia memaparkan, didalam hasil penelitian, perkawinan muda berdampak pada rentannya perceraian diantara mereka. Hal ini karena secara psikologis dan biologis, usia menikah muda adalah usia yang belum siap.

Pada usia muda bagi perempuan, secara biologis tidak cukup kuat untuk menanggung segala pernah-pernik rumah tangga yang tidak mudah. Rumah tangga punya tingkat kerumitannya tersendiri seperti beradaptasi dengan pasangan dan keluarga yang sangat berbeda, apalagi ia harus mengelola anak jika sudah punya anak.

Baca Juga: Apakah Menikah Muda Akan Selalu Berakhir dengan Perpisahan?

Akhirnya, hal ini dapat menyebabkan kehilangan masa remaja. Padahal menikmati masa remaja begitu penting dalam perkembangan manusia.

“Saya tidak bisa membayangkan anak diusia remaja menikah, ia pasti punya kerumitan tersendiri dan hasil penelitian saya berujung pada tingkat perceraian yang begitu marak karena menikah diusia dini,” ujarnya.

Salah satu persoalan saat ini di Indonesia dan diberbagai negara berkembang lainnya adalah pernikahan diusia dini bagi perempuan yang berdampak bagi kehilangan kesempatan ketika berada dimasa remaja, mengalami tekanan psikologis karena ia harus beradaptasi dengan pasangan yang berbeda dan juga harus mengelola kerumitan dalam rumah tangga.

“Hemat saya, usia nikah bagi perempuan diusia dua puluh tahun keatas dan bagi laki-laki dua puluh dua keatas, diluar itu mudaratnya lebih banyak daripada manfaatnya” tuturnya.

Perkawinan usia muda ada dua rujukan mengapa sampai dilakukan oleh sebagian kelompok anak muda. Diantaranya merujuk pada Nabi Muhammad yang menikah dengan Siti Aisyah. Padahal harus diketahui Siti Aisyah bergaul dengan Nabi Muhammad setelah usia 18 tahun, bukan usia anak-anak. Bisa jadi pertalian secara legal dilakukan pada masa kanak-kanak, tetapi sejarah yang sahih menyatakan bahwa bergabungnya satu rumah Siti Aisyah dengan Nabi Muhammad saat ia berusia delapan belas tahun dan Nabi Muhammad usia empat puluh tahun keatas.

Kedua, rujukannya adalah menghindari zinah. Menurutnya, zinah bisa terhindari kalau bisa mengendalikan diri terutama mengendalikan fikiran dan hasrat untuk tidak bergaul intim dengan lawan jenis. Kalaupun bergaul tidak harus dalam suasana keberduaan bisa terjadi sehingga bisa menghindari itu jika memang atas nama menghindari zinah.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed