Nasionalisme dalam Perspektif Hindu

Mimbar Agama134 Views

Om Awighnamastu namo sidham, Om Ano badrah kratawo yantu wiswatah, Om Swastyastu.

Mimbar Hindu pekan ini akan mengupas tentang “Nasionalisme dalam Perspektif Hindu”

Apa itu nasionalisme? Nasionalisme adalah paham atau ajaran untuk mencintai bangsa dan negara sendiri.

 

 

Rasa cinta itu dapat diwujudkan dalam bentuk pengabdian, pemeliharaan, dan perlindungan terhadap tanah air dari berbagai macam ancaman dan gangguan.

Kita perlu memiliki nasionalisme. Kita dilahirkan di negara Indonesia yang memiliki keragaman dan perbedaaan budaya, agama, etnis, adat-istiadat, serta perbedaan-perbedaan yang lain. Oleh karena itu, kita harus menyadari dan memahami adanya perbedaan itu. Keragaman ini pada dasarnya sebuah kelebihan dari negara kita jika dibandingkan dengan negara lain. Namun, jika kita salah memahami justru akan menjadi jurang pemisah, atau pemicu konflik antar sesama anak bangsa.

Lalu, apa yang harus kita lakukan sebagai wujud nasionalisme? Mari kita jaga persatuan dan kesatuan bangsa, di negeri tercinta.

Persatuan dan kesatuan bangsa merupakan hal yang mutlak bagi kita. Sebab, tanpa persatuan, bangsa Indonesia tidak ada. Persatuan Indonesia akan terwujud jika masyarakatnya menghargai keragaman yang ada di negara kita. Indonesia terbangun karena keragaman. Keragaman bagi bangsa Indonesia adalah sebuah keniscayaan.

Menjaga ucapan, dengan tidak melakukan ujaran kebencian terhadap pihak lain juga penting untuk menjaga persatuan. Ingat ajaran Ahimsa. Dalam ajaran ahimsa tidak hanya melarang menyakiti secara fisik, tetapi juga secara psikologis. Ujaran kebencian, hoaks akan berdampak secara psikologis terhadap orang lain, dan membuatnya tersinggung.

Cinta tanah air juga dapat kita wujudkan dengan ikut memelihara fasilitas umum negara. Ketika, kita tidak dapat membangun fasilitas umum untuk kepentingan orang banya, paling tidak, kita ikut memelihara fasilitas umum tersebut, dan tidak merusaknya. Kita ikut aktif menjaga lingkungan kita. Menghargai peninggalan leluhur kita, karya-karya anak bangsa, yang otomatis akan menumbuhkan rasa cinta produk dalam negeri.

Bagaimana konsep nasionalisme dalam Hindu?

Agama Hindu mengenal ajaran Dharma Negara. Sebuah ajaran tentang pengabdian, rela berkorban, dan cinta tanah air, yang merupakan “dharma tertinggi” bagi seorang ksatria.

Seorang pahlawan yang gugur di medan perang adalah seorang swadhaya yajña, karena dia telah mengorbankan dirinya sendiri (jiwa raganya) untuk negara.

Lalu, yajña apa yang kita lakukan untuk masa sekarang? Kita berjuang saat ini adalah untuk membangun negara, membangun sumber daya manusia, serta mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang positif.

Mengenai ajaran cinta tanah air, dalam Itihasa Ramayana dicontohkan oleh Sri Rama. Sebelum meninggalkan kerajaannya, Sri Rama telah mengambil sebongkah tanah dan membungkusnya dalam kain. Beliau membawa tanah tersebut selama dalam masa pengasingan.

Tanah tersebut beliau bawa dengan hati-hati dan penuh rasa pengabdian.

Pada saat tiba di suatu lokasi dalam hutan dan membangun pondokan, Sri Rama membangun altar khusus untuk menaruh tanah tersebut. Sri Rama melakukan pemujaan setiap hari dan selalu mendoakan kerajaannya agar selalu tentram. Dalam doanya, dia melantunkan pujian akan keagungan tanah airnya yang beliau kenang lewat sebongkah tanah yang beliau bawa tersebut.

Apa yang dilakukan oleh Sri Rama merupakan contoh sikap cinta tanah air luar biasa. Namun perlu disadari bahwa cinta tanah air bukan berarti kita membawa sebongkah tanah kesana kemari. Apa yang dilakukan oleh Sri Rama adalah simbol kecintaannya terhadap tanah air. Namun, apa yang dia lakukan untuk tanah airnya adalah pengorbanan jiwa dan raganya (swadhyaya yajna).

Tanah air adalah Ibu Pertiwi, tempat dirinya dilahirkan dan dibesarkan. Untuk itu, tanah kelahiran atau negaranya adalah tanah yang paling suci melebihi daerah yang lainnya.

Tanah air Indonesia merupakan ibu bagi rakyat Indonesia; Ibu Pertiwi, sehingga siapa pun yang cinta kepada sang ibu, maka dia akan menghormati dan membelanya. Penghormatan tertinggi pada Ibu Pertiwi adalah memelihara isinya, mengasihi semua makhluk ciptaan-Nya. Sehingga, terucap doa loka samastha sukhinoh bhawantu (Semoga semua makhluk di semesta ini berbahagia), menghargai sesama manusia dan mengasihinya sebagai saudara, sebagaimana tertuang dalam selogan Vasudaiva khutumbhakam (Kita semua bersaudara).

Jika kita menghayati doa-doa yang kita ucapkan, maka kita tidak akan membebani Ibu pertiwi dengan aksi tebar kebencian, adu domba, intoleransi, radikalisme, serta perbuatan –perbuatan lainnya, yang dalam Kakawin Ramayana disebut sebagai Mala, yakni kekotoran-kekotoran atau penyakit.

Guha peteng tang mada moha kasmala

Malady yolanya magong mahawisa

Wisata sang wruh rikanang jurang kali

Kalingan ing sastra suluh nikaprabha.

Artinya:

Bagaikan gua yang gelap, itulah kemabukan, kesombongan, dan kekotoran.

Kekotoran-kekotoran yang lainnya itu bagaikan ular yang berbisa

Namun orang yang bijaksana, tenang pikiranya sekalipun berada di tempat yang menakutkan. Ibarat ajaran sastra, justru akan menjadi lampu penerang yang bersinar cemerlang.

Perpecahan, ujaran kebencian, intoleransi itu merupakan mala (kekotoran) yang harus dicerahkan, yang harus dibersihkan dengan ilmu pengetahuan suci, yaitu dharma. Dharma adalah kewajiban, kebajikan, dan moral. Mala (kekotoran) atau penyakit menurut Ramayana adalah timbul karena kemabukan dan kesombongan (arogansi). Dari sinilah muncul intoleransi, provokasi, ujaran kebencian, serta mala-mala yang lain. Semuanya ini harus dibersihkan dengan ilmu pengetahuan dharma, baik itu dharma agama maupun dharma negara.

Dharma agama mengajarkan kita untuk mencintai alam semesta, dan membebaskan/ memerdekaan jiwa dari belenggu penderitaan. Sedangkan, dharma negara mengajarkan kita cinta tanah air dan berdaulat atas tanah air itu, untuk mencapai kemerdekaan dari penjajahan, ancaman, maupun gangguan.

Seorang nasionalis adalah orang yang mencintai tanah airnya melebihi daerah yang lainnya; karena tanah air Indonesia adalah Ibu Pertiwi. Dengan demikian, ketika kita memegang teguh “nasionalisme” itu artinya kita juga “telah melaksanakan dharma negara’.

Om Santih Santih Santih Om.

 

Penulis: Sugiarti STAH Dharma Sentana, Sulawesi Tengah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *