by

Nasionalisme dalam Islam

Kabar Damai | Senin, 4 April 2022

Kediri I Kabardamai.id I Nasionalisme dalam Islam dapat dilacak dari sunnah Nabi Muhammad yang sangat mencintai tanah airnya yaitu Mekah. Dalam kanal NU Online, M. Sholahuddin Al Ayubi, Pengajar di Pesantren Lirboyo, Kediri Jawa Timur menjelaskan bagaimana kemudian konsep cinta tanah air atau nasionalisme tersebut dalam perspekif Islam.

Dalam pemaparannya, ia menyatakan bahwa nasionalisme adalah paham kebangsaan yang dijiwai dan terus melekat dalam diri warga negara dan mereka memiliki jiwa yang kuat untuk membela negaranya.

Warga negara tentu ingin membela tanah air, terlebih jika mereka tidak berjuang dalam kondisi negara dalam ancaman berarti ia bukan bagian dari warga negara tersebut. Lebih jauh, perihal hak dan kewajiban satu sama lain juga dimiliki secara sama sesuai dengan ketentuan undang-undang. Tidak ada perbedaan dalam segi primordial sama sekali. Hak dilindungi, kewajiban juga dipenuhi.

Ia juga menambahkan, jika berbicara nasionalisme tentu tidak luput dari cinta tanah air, dalam nasionalisme berarti ia harus mencintai tanah airnya. Sebagai contoh, jika tidak ada rasa cinta tanah air dan semisal terjadi saat masa penjajahan dulu, tentu akan dialami berbagai kesulitan dalam kehidupan seperti dalam hal beribadah, bersekolah dan lain sebagainya karena negara tidak aman dan tentram.

Baca Juga: Kisah Nasionalisme Mantan Perakit Bom Solo Saat Hari Sumpah Pemuda

“Jika negaranya aman dan tentram, maka ibadah akan mudah dilakukan, berbagai aktifitas lainnya juga mudah, sekolah juga mudah yang merupakan spirit dari cinta tanah air,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa nabi juga mengajarkan kepada untuk mencintai tanah air, sebelum nabi hijrah ke Madinah, ia sangat mencintai negara Mekah. Sebelum Qurais mengusirnya, ia sangat mencintai Mekah. Di Madinah, nabi kemudian mendeklarasikan Piagam Madinah karena mencintai Madinah layaknya ia mencintai Mekah.

Ditanya tentang bagaimana bentuk ekspresi yang dapat ditunjukkan sebagai bentuk dari nasionalisme. Ia mengungkapkan bahwa semua dapat diimplementasikan sesuai kapasitas dan juga kemampuan masing-masing.

“Perihal ekspresi tentu melihat kapasitasnya, jika dalam kapasitas militer tentu tugasnya membentengi negara sesuai dengan kemampuannya agar aman dan tentram. Mereka yang cyber, bertugas melindungi aset digital dalam negara dan bagi seorang santri misal dengan belajar, menuntut ilmu untuk mencerdaskan anak bangsa juga bagian dari jihad,” terangnya.

Nasionalisme juga erat kaitannya dengan patriotisme. Ia mengungkapkan  bahwa patriotisme itu adalah menjaga dan membela terhadap negaranya, ia memiliki daya dan upaya untuk menjaga negaranya tanpa memandang latar belakangnya. Baik muslim maupun non muslim punya tanggungjawab yang sama dalam rangka menjaga negaranya.

Penulis: Rio Pratama

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed