by

Nasib Pendidikan Anak Pada Pernikahan Beda Agama

Kabar Damai | Minggu, 01 Mei 2022

Jakarta I Kabardamai.id I Pendidikan adalah pintu gerbang kesuksesan, darisana berbagai perspektif baik dapat terbentuk sehingga dapat diimplementasikan dalam kehidupan seseorang dalam hidup bermasyarakat.

Namun, pendidikan tidak dapat dilalui dengan begitu mudahnya. Adapula tantangan dan rintangan yang dapat kapan saja menghantui. Ahmad Nurcholish, dalam kanal demokrasi id mencoba menjawab permasalahan tersebut.

Ia menerangkan bahwa dalam banyak konseling dari pernikahan beda agama yang ia lakukan, ia bertemu dan ditanya oleh beberapa pasangan tentang bagaimana pendidikan bagi anak dari pasangan yang berbeda secara agama.

Darisana, ia kemudian menjawab pertanyaan tersebut dari riset yang sebelumnya pernah ia lakukan di ICRP serta Komnas HAM serta sekian pengalaman dari ribuan pasangan beda agama yang telah menikah kini.

Ia menjelaskan, setidaknya ada empat model dimana pasangan berbeda agama dalam mendidik anak-anaknya.

Baca Juga: Peran Penting Perempuan untuk Pembangunan Papua

Model pertama ialah model sebagaimana yang dilakukan oleh Jamal Mirdad dan Lidia Kandau, mereka melalui perjanjian mendidik anak berdasarkan pada jenis kelaminnya. Misalnya anak laki-laki mengikuti agama ayahnya dan anak perempuan mengikuti agama ibunya.

Model kedua yaitu dengan cara atau berdasarkan pada urutan lahir yang dilakukan dengan perjanjian pra nikah. Pertama ialah misalnya anak pertama mengikuti agama ayah dan anak kedua mengikuti ibunya secara bergantian.

Namun, menurut Ahmad Nurcholish adalah dengan model yang ketiga. Pada model ketiga dimana pasangan beda agama mendidik anak-anak dengan cara mengajarkan dua ajaran dan atau tradisi agama orang tua. Misal pasangan Islam dan Kristen maka mereka akan memperkenalkan agama Islam dan Kristennya pada anak-anaknya.

“Model yang ketiga inilah yang paling banyak diterapkan oleh pasangan beda agama,” ujarnya.

Dari pembahasan tersebut, lebih jauh banyak yang bertanya tentang tidak bingungkah anak ketika pasangan orang tua dari pernikahan beda agama menerapkan model ketiga pada anak.

Ahmad Nurcholish menuturkan dari praktik dan pengalaman dari pasangan beda agama, justru anak-anak mereka kemudian tumbuh menjadi anak yang terbuka. Hal ini karena mereka sudah belajar perbedaan dari ruang terkecil yaitu keluarga. Anak-anak secara langsung menyaksikan perbedaan orang tuanya sehingga mereka tidak lagi merasa tabu atau gagap ketika harus bergaul dengan teman-temannya yang berbeda agama pula.

Justru yang membingungkan ialah orang-orang disekeliling baik itu guru, teman-teman dan atau orang lain yang ada disekitarnya.

“Oleh karena itu, saya selalu katakana dalam mendidik anak biarlah yang bingung orang lain. Jangan kita atau anak-anak kita,” tegasnya.

Ia menerangkan bahwa dalam mendidik anak baik menggunakan pendekatan atau model ketiga dimana anak diperkenalkan dengan keragaman dan perbedaan keyakinan sehingga anak-anak dapat tumbuh menjadi insan beragama dengan cara yang terbuka, moderat, menerima perbedaan disekitarnya sehingga mereka tumbuh menjadi manusia yang moderat, humanis dan toleran serta mengedepankan perdamaian.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed