by

Muslimah Reformis: Pembaharuan Berbagai Aspek Dimulai dari Perempuan

Kabar Damai I Senin, 09 Agustus 2021

Jakarta I kabardamai.id I “Buku ini juga mengajak perempuan untuk bangkit melawan hegemoni tafsir yang selama ini dimonopoli oleh kaum lelaki, tafsir yang ternoda oleh nilai-nilai patriarkal dan biar gender. Perempuan harus berani menjadi pembaharu (reformis) keagamaan untuk suatu tujuan mulia, yakni mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin. Islam yang ramah terhadap perempuan, ramah terhadap semua mahluk Tuhan, peduli pada persoalan-persoalan kemanusiaan yang mengimpit kelompok miskin, minoritas, marginal dan tertindas yang dalam term Al-Quran disebut mustadh’afin” Ensiklopedia Muslimah Reformis –

Judul                : Ensiklopedia Muslimah Reformis
Penulis            : Musdah Mulia
Penerbit          : BACA
Tahun Terbit  : Maret 2020
Tebal               : 863 halaman
 
 
Ini adalah buku pertama dengan topik bahasan akademik dan teologis dengan mengangkat kejadian sehari-hari dan pemaparan dari ayat-ayat alquran. Biasanya, aku lebih sering membuat review novel dan bisa menghabiskan mulai dari yang puluhan hingga ratusan halaman, kali ini sama sekali berbeda. Pastinya akan menambah wawasan banget karena semua topik dibahas secara kompleks dan rinci. Bahkan buku yang disebut-sebut bantal iqro ini disusun secara rapi setebal 863 halaman terbagi menjadi 17 bagian.
Buku ini dibuka oleh pendidikan karena inilah aspek utama dan pertama dari semua kepentingan proses kehidupan ini, bagaimana seharusnya sistem pendidikan yang bisa dijalankan khususnya di Indonesia karena jika sistem itu salah maka berdampak untuk perkembangan negaranya. Sebelum membahas lebih jauh, inilah bagian-bagian dari Ensiklopedia Muslimah Reformis.
 
  1. Pendidikan untuk Memanusiakan Manusia
  2. Membentuk Keluarga Melalui Perkawinan
  3. Membangun Keluarga Berencana
  4. Poligami Menghambat Keluarga Harmonis
  5. Mengapa Memilih Sistem Demokrasi
  6. Menegakkan Hak Asasi Manusia
  7. Memperjuangkan Hak Asasi Anak
  8. Hak Asasi Perempuan Tak Kalah Pentingnya
  9. Sulitnya Mewujudkan Kesetaraan Gender
  10. Membangun Kekuasaan Politik Ramah Perempuan
  11. Menjadi Agen Pembangunan Ekonomi
  12. Melawan Radikalisme dan Terorisme
  13. Melindungi Hak Kebebasan Beragama
  14. Berjuang Menghapus Kekerasan
  15. Berjihad Merajut Perdamaian
  16. Menawarkan Tafsir Humanis – Feminis
  17. Merumuskan Dakwah Transformatif
Membaca buku ini kita memang seperti membedah pemikiran Bu Musdah Mulia yang sejak puluhan tahun lalu fokus di isu HAM, Kebhinekaan dan juga perempuan. Sebelumnya, buku ini sudah di tulis di berbagai buku dengan beragam judul juga sehingga akhirnya disatukan dalam satu buku dan lebih lengkap. Menulis pemikiran ini tak hanya omong kosong saja tetapi didasari dengan hasil penelitian dan tafsir dari ayat-ayat alquran yang berkaitan dengan isu bahasan tiap bab-nya.
Buku dengan topik yang sangat kompleks ini sangat reflektif dengan melihat apa saja peristiwa saat sekarang serta menjadi kajian mendalam oleh berbagai kelompok, tidak hanya untuk Islam saja tetapi apa yang ditawarkan bisa menjadi rujukan semua pihak. Jika kita membaca kajian-kajiannya, ada hal yang membuat kita tersadarkan bahwa selama ini pemikiran kita bisa saja keliru.
Mungkin muslimah yang biasa kita lihat adalah dengan pakaian syar’i dan sering menundukkan kepala karena beragam aturan dari suami atau ayat-ayat alquran dengan pembahasan bahwa perempuan harus menjaga dirinya dan seolah-olah jangan banyak berperan di kehidupan sehari-hari apalagi sebagai pengambil kebijakan, rasanya hampir mustahil, mungkin hanya beberapa persen saja, bisa jadi 1000 banding 1.
Tetapi, buku ini mengajak menjadi muslimah harus berperan, tidak hanya dapur sumur kasur tetapi perempuan juga punya hak seperti laki-laki, kodrat perempuan itu punya rahim bukan mengurusi rumah saja. Justru, laki-laki dan perempuan bisa berbagi peran baik dalam hal mengurus anak maupun mengurus rumah, memasak atau beres-beres.
Dalam kenyataannya, ada banyak perempuan yang menjadi kepala keluarga, entah itu karena mereka kehilangan suaminya atau suaminya masih hidup tetap seperti sudah tiada. Maka perempuan juga bisa menjadi agen perubahan ekonomi, apalagi jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki, sehingga jika disia-siakan perannya sangat sayang sekali.
Buku ini menawarkan bagaimana perempuan berperan untuk pertumbuhan ekonomi, baik untuk ekonomi negara maupun keluarga. Tidak hanya soal ekonomi, perempuan juga memiliki peran yang kuat sebagai agen perdamaian karena perempuan dianggap sebagai sosok yang paling loyal. Tapi sayangnya, dari kurangnya pengetahuan sehingga perempuan diperalat oleh kelompok tertentu seperti sebagai tokoh untuk melakukan bom bunuh diri.
Buku ini juga memberi pandangan kepadaku bahwa ternyata pernikahan harmonis itu adalah pernikahan yang monogami, bukan poligami. Hal ini dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad (baca bagian bab pernikahan). Sebelum menikah, kita juga disadarkan cara menemukan jodoh sehingga tidak salah arah dan bisa membentuk keluarga yang harmonis.
Bagian paling aku suka adalah berjihad untuk perdamaian, ini tidak hanya berlaku untuk Islam saja tetapi di sini kita diajak bersama-sama merangkai persaudaraan dan berlomba melakukan kebaikan. Kita juga diajak untuk melindungi hak kebebasan beragama yang saat ini sudah mulai direnggut oleh kelompok tertentu bahkan oleh peraturan negara sehingga banyak sekali diskriminasi kepada mereka yang tidak sesuai dengan aturan pemerintah.
Tidak lupa juga membahas lebih dalam soal HAM dan hak asasi anak. Buku ini betul-betul menampar dari berbagai sisi sehingga kita bisa tersadarkan. Bahkan, buku dengan pembahasan detail ini disarankan untuk menjadi bahan diskusi lintas elemen masyarakat, baik itu di lembaga pendidikan atau lembaga kemasyarakatan dan harus sering diadakan diskusi untuk membedah tiap isu dari buku ini. “Mungkin terlalu cepat jika saya bilang buku ini dijadikan kitab rujukan membahas aspek kehidupan manusia,” kata Subandri, dosen sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak.
Membaca buku ini tidak cukup hanya sehari dua hari saja tetapi butuh berhari-hari dan harus lebih fokus karena ada banyak poin penting yang perlu digarisbawahi. Bahkan, kita butuh membuat catatan kecil di buku pribadi untuk memilah dasar pemikirannya. Membacanya memang harus perlahan karena ini tulisannya cukup serius dan tidak seperti membaca novelnya Dee Lestari atau Eka Kurniawan, rasanya kita seperti membaca jurnal sekaligus mendengarkan orang berbicara tentang topik itu.
Kadang kita bisa marah dengan data-data yang disajikan, data nyata di kehidupan sehari-hari. Tapi justru ini juga membuat kita bersemangat untuk berjuang pada keadilan dan tujuan yang mulia berbuat hal baik untuk sesama manusia. Membaca Ensiklopedia Muslimah Reformis, kamu seperti lagi ngobrol langsung dengan Bu Musdah Mulia dan seolah menyaksikan langsung kejadian di kehidupan sehari-hari, entah itu yang terlalu diskriminatif atau malah cerminan diri kita saat ini.
Okelah, segitu dulu ulasanku dari buku ini. Jika kamu ingin menyelami pemikiran Bu Musdah dan mau melihat realita masyarakat dulu hingga sekarang, segeralah pinang buku ini dan baca dalam kesendirian. Setelah itu, kamu akan punya banyak pertanyaan atau bahkan ingin melakukan sesuatu, entah itu tidak setuju dengan data-data dan realita yang ditunjukkan atau malah ingin membuat gerakan agar kita bisa bertindak untuk tujuan yang mulia, keadilan bagi semua tanpa memandang jenis kelamin, suku, agama maupun golongan. Semuanya bisa saja terjadi, baca saja dulu.
Penulis: Isa Oktavani, Sekertaris Redaksi Kabar Damai

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed