by

Musdah Mulia: Pentingnya Mengajarkan Relasi Seksual dan Hak Reproduksi Pada Remaja

Kabar Damai I Selasa, 20 April 2021

 

Jakarta I Kabardamai.id I Yayasan Mulia Raya menyelengarakan diskusi dengan tema Puasa Untuk Kesehatan (Reproduksi), via virtual zoom pada Sabtu, (17/4/2021).

Dalam diskusi in menghadirkan pemateri Iklillah MD Fajriyah, dosen Program Pascasarjana Pusat Kajian Wanita dan Gender Universitas Indonesia (UI), Nur Rofiah, dosen Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al-quran (PTIQ)  serta Musdah Mulia, Founder Yayasan Mulia Raya.

Dalam paparannya, Iklillah, menyatakan bahwa menjaga organ reproduksi adalah hal yang sangat penting. Hal ini karena selain berhubungan dengan kesehatan juga bentuk syukur kepada Tuhan.

“Mengapa perempuan harus faham betul tentang organ reproduksinya, tentang vagina, sel telur, rahim dan sebagainya. Misal, dengan punya sel telur akan mengalami menstrusi. Jika kita tidak memahami tentang menstrusi kita akan terbawa pada berbagai mitos yang ada. Itu sebagai salah satu contoh, jadi mengapa kita harus mengetahui tentang organ reproduksi karena berhubungan dengan kesehatan dan bentuk syukur kita kepada Allah,” terang Iklilah.

Selain memahami tentang reproduksi sendiri, penting pula untuk memahami organ reproduksi pasangan. Hal ini menjadi tanggung jawab bersama agar dapat saling memahami satu sama lain.

Baca Juga : Gaya Hidup Sehat Biarawati

Iklilah melanjutkan, “Bagi orang yang sudah menikah, penting sekali memahami organ reproduksi pasangan. Jadi memahami organ reproduksi pada laki-laki dan perempuan harus sama-sama diketahui dan saling mengenal pasangannya.”

 

Menstruasi dan Anjuran dalam Agama

Menurut Nur Rofiah,  semua manusia setara, termasuk dalam konteks laki-laki dan perempuan. Namun demikian, masih banyak tantangan yang hingga kini masih harus dirasakan oleh karena pemahaman tentang anggapan perempuan adalah lemah.

“Tantangan sebagai perempuan muslimah karena banyak sekali ajaran Islam yang spiritnya memanusiakan perempuan malah disalahgunakan atau difahami untuk melemahahkan perempuan. Ini memang mengapa menjadi penting nalar kritis muslimah supaya kita bisa hanyut dalam pemahaman Islam,” tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa memahami perempuan harus lengkap, tidak hanya dalam satu sisi saja. Penting disadari, karena jika ingin memanusiakan perempuan harus lengkap dengan takdir kemanusiaannya. Sistemnya dari Tuhan, tapi menyikapinya dari manusia. Sayangnya perbedaan biologis itu menjadi pembeda antara laki-laki dan perempuan, dan disikapi oleh manusia dengan cara menistakan. Lebih jauh, ia kembali menjelaskan bahwa stigma perempuan dalam konteks reproduksi sudah ada sejak lama, bahkan turut ada pula tradisinya di Jazirah Arab sana.

“Secara biologis perempuan dekat sekali dengan darah, mengalami menstrusi pendarahan, melahiran pendarahan, nifas perempuan dan masih banyak lainnya. Apalagi tidak semua orang punya akses air yang baik, pembalut yang cukup. Sehingga darah menjadi sesuatu yang negatif dan membahayakan. Maka perempuan kemudian dikurung secara tradisi termasuk di Jazirah Arab,” beber Nur Rofiah.

Nur Rofiah menambahkan, “Ada dua tradisi di Jazirah Arab yang mana satu mengucilkan dan mengurung perempuan bahkan di dalam Goa. Mereka dikurung agar hal kepercayaan tabu kutukan perempuan yang dianggap membawa sial tidak kemana-mana. Tradisi ekstrim lainnya perempuan tetap disetubuhi walaupun sedang menstruasi.”

Bersyukur, Alquran sebagai kitab suci mengandung ajaran untuk memuliakan perempuan. Hal ini kemudian mengubah cara pandang kepada perempuan sehingga tidak lagi menstigmanya. Menariknya justru bagaimana Al-quran mengubah cara pandang yang buruk tentang menstrusi itu menjadi cara pandang yang empatik, dan ayat tentang haid itu dahsyat sekali karena mengubah cara pandang bahwa perempuan yang menstuasi sebagai makhluk yang kotor, jorok, bau dan nista kemudian berubah sebagai orang yang mengalami rasa sakit.

Terakhir, ia mengungkapkan bahwa perempuan yang sedang menstruasi dan tidak melaksanakan ibadah adalah bentuk taat, sehingga sangat tidak layak untuk dianggap kurang dalam amalan ibadahnya.

 

Mengakhiri Diskriminasi Perempuan

Sehubungan dengan menstruasi dan organ reproduksi, Musdah Mulia menyatakan bahwa hingga kini masih banyak perempuan yang sadar akan pentingnya menjaga organ reproduksi yang dimilikinya.

“Perempuan memiliki organ reproduksi penting yang letaknya dibagian dalam tubuh, sehingga secara langsung mereka tidak merasakan pentingnya menjaga dan tidak memahami tentang hak dan kesehatan reproduksi,” ungkap Musdah.

Ia juga menyoroti tentang international conference di Kairoa pada tahun 1994 . Terkait dengan kesehatan reproduksi, perbincangan tentang kesehatan reproduksi secara global kita baru memiliki dokumen tentang kesehatan reproduksi pada 1994, setelah international conference tentang pembangunan dan kesehatan reproduksi diadakan di Kairo.

Berarti dunia internasional baru sadar tentang pentingnya sebuah pembelaan terhadap hak-hak manusia khususnya pada perempuan dan lebih khusus tentang kesehatan reproduksinya.

Musdah menambahkan,  “Remaja kita mengalami kehamilan yang tidak diinginkan karena ketidaktahuan tentang relasi seksual dan hak-hak reproduksi. Setelah itu mereka tidak tahu mencari solusi dan menganggap dunia sudah kiamat. Makanya fatalnya  lagi lalu solusinya dengan mengawinkan, apalagi dengan yang tidak bertanggungjawab.”

Sebelum menutup pembahasannya, Musdah Mulia yang juga penulis Ensiklopedia Muslimah Reformis berpesan agar senantiasa menjaga dan merawat organ reproduksi serta mengakhiri diskriminasi kepada perempuan berhubungan dengan reproduksinya.

“Penting sekali bagi kita menjaga dan memahami organ-organ reproduksi ini dan memahami bersama-sama melindungi hak-hak bagi perempuan terkait dengan fungsi reproduksi ini. Jangan sampai dalam masyarakat kita yang mengalami diskriminasi, ekspoitasi, kekerasan terkait hak-hak reproduksi,” pungkasnya.

 

Penulis : Rio Pratama

Editor: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed