by

Munculnya Cyberbullying Dampak Kemajuan Teknologi Informasi Komunikasi dalam Perspektif Hukum

Oleh: Ragil Awalia Alpendri

Teknologi informasi atau dalam bahasa aslinya information technology merupakan penjabaran dari teknologi baru. Teknologi informasi dapat pula dimaksudkan sebagai kegiatan pengumpulan, pengolahan, penyimpanan dan pemanfaatan suatu informasi.

Saat ini teknologi informasi sudah mengalami perkembangan yang cukup pesat karena penggunaan teknologi informasi yang mulai merata. Sedangkan komunikasi atau communicate berarti membagikan sesuatu dengan seseorang atau proses saling bertukar pikiran dan berbicara pada seseorang.

Orang zaman dulu sudah mengenal berbagai macam alat untuk berkomunikasi. Salah satu contohnya adalah surat. Pada zaman kerajaan penulisan surat sebelum ditemukannya kertas, dilakukan di atas daun lontar. Namun surat yang ditulis dengan daun lontar mempunyai berbagai macam keterbatasan, juga cara penyampaian surat orang zaman dulu cukup lambat, mereka hanya menggunakan burung merpati atau seorang utusan.

Nokia pertama kali mempunyai kemampuan untuk berkirim SMS atau bertukar kabar secara jarak jauh. Seiring waktu konsep SMS mengalami perkembangan. Chatemail, dan media sosial lainnya adalah bentuk perkembangan dari konsep SMS. Teknologi informasi dan komunikasi dapat membawa berbagai dampak positif maupun negatif bagi kehidupan kita. Berbagai perkembangan dari konsep SMS seperti sosial media tentunya sangat mempermudah hidup di zaman modern ini. Namun, selain mempermudah kehidupan di zaman yang serba canggih dan modern ini, perkembangan sosial media juga memberikann dampak negatif. Salah satunya adalah munculnya cyberbullying.

Cyberbullying adalah perlakuan yang ditunjukan untuk mempermalukan, menakut-nakuti atau melukai dan menyebabkan kerugian bagi pihak yang lemah dengan menggunakan sarana komunikasi teknologi informasi. Di berbagai negara ada banyak kasus cyberbullying yang berakhir dengan kejadian yang lebih serius seperti rusaknya mental seseorang dan berakhir bunuh diri. Di Indonesia sendiri ada banyak kasus cyberbullying yang dilakukan oleh orang- orang di media sosial.

Ada tiga macam metode cyberbullying, yaitu direct attack berupa pesan-pesan yang dikirimkan secara langsung kepada target. Kemudian posted and public attack yang dilancarkan untuk memalukan target dengan memposting atau menyebarkan informasi dan gambar-gambar yang memalukan publik. Dan yang terakhir ada cyberbullying by proxy atau memanfaatkan orang lain untuk membantu mengganggu korban baik dengan sepengetahuan orang lain tersebut atau tidak.

Menurut Ali Aulia Ramly pemerhati kesehatan jiwa anak dari organisasi PBB yang bergerak di bidang kesejahteraan anak UNICEF, risiko perundungan daring atau cyberbullying meningkat di masa pandemi covid-19. Hal itu terjadi karena dimasa pandemi anak menggunakan gawai atau gadget untuk pembelajaran jarak jauh, sehingga rentan terjadi perundungan di ranah digital.

Baca Juga: Memahami dan Mencegah Cyberbullying Bagi Remaja

Akibat dari tindakan cyberbullying sendiri yaitu korban menjadi ketakutan berlebihan sehingga menimbulkan dampak negatif terhadap psikologis korban, seperti halnya rasa tidak percaya diri, tekanan mental dan lebih bahayanya lagi bisa memicu tindakan untuk mengakhiri hidup. Minimnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya mental health dan masih banyak nya yang tertutup karena menganggap remeh cyberbullying ini membuat setiap kasusnya sulit untuk diungkap.

Oleh sebab itu perlu pengaturan dan pengawasan dalam hukum tentang tindak pidana cyberbullying sebagai salah satu bentuk cybercrime dan juga hal-hal yang menjadi penyebab timbulnya kejahatan yang terjadi di media sosial. Adapun bentuk sanksi pidana mengenai penghinaan di media sosial itu mengacu pada Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, dimana suatu penghinaan yang dilakukan di sosial media tercermin pada pasal 27 ayat 3 UU ITE yang berbunyi: “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat dapat diakses nya informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan atau pencemaran nama baik.”.

Bagi mereka yang melakukan pelanggaran yang memenuhi unsur, pada pasal 27 ayat 3 Undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik adalah dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda setinggi-tingginya 1000.000.000,. Kemudian dilanjutkan dengan perbuatan penghinaan yang dilakukan bersama-sama atau lebih dari 1 orang maka orang tersebut akan dikenakan pidana atas perbuatan “turut melakukan” tindak pidana. “Turut melakukan” maksudnya adalah bersama-sama melakukan. Korelasi putusan mahkamah konstitusi nomor 50/PUUVI/2008 terkait dengan cyberbullying, dengan perkembangan zaman dalam dimensi yang baru sangat diperlukan pula pengaturan yang sesuai dengan adanya kejahatan cybercrime.

Dalam perspektif hukum di Indonesia, cyberbullying masuk dalam tindak pidana Pencemaran nama baik atau Penghinaan. Penafsiran dari norma yang dimuat dalam pasal 27 ayat 3 UU ITE mengenai penghinaan dan atau pencemaran nama baik tidak terlepas dari norma hukum pidana dalam pasal 310 dan 311 KUHP.

Beberapa faktor penyebab timbulnya bullying yang terjadi di sosial media adalah rasa iri terhadap penggunaan sosial media yang lain, kemudian terasa balas dendam dikarenakan wujud sebagai tindakan bullying yang didapatkan sebelumnya, dan juga cyberbullying yang disengaja oleh pelaku yang memiliki tujuan tertentu dan telah menetapkan target sebagai korban yang akan disakiti. Tindakan seperti inilah yang membahayakan dan mengancam karena hal tersebut akan dilakukan secara berulang-ulang.

Contoh kasus yang dapat di ambil adalah kasus seorang artis korea yang bernama Sulli. Menurut pemberitaan Sulli sudah bertahun-tahun berjuang melawan gangguan mental tepatnya depresi. Depresi yang dialami eks member girlband f(x) ini adalah akibat aktivitas cyberbullying. Sudah bertahun-tahun ia menerima komentar negatif dan kebencian dari netizen. Tidak hanya kasus Sulli, masih banyak kasus lainnya. Di negara kita sendiri juga banyak kasus cyberbullying, bahkan lebih parah. Dari kasus-kasus seperti ini kita bisa melihat betapa kurang dan minimnya pengetahuan orang-orang mengenai bahaya cyberbullying. Untuk itu bagaimana cara mencegahnya? Berikut saya paparkan beberapa hal yang dapat di lakukan.

Yang pertama adalah pencegahan oleh diri sendiri. Beberapa kasus yang terjadi pada korban cyberbullying dapat disebabkan oleh korban itu sendiri. Untuk itu kita harus memahami apa itu cyberbullying, mempertimbangkan sesuatu sebelum memposting atau mengirim foto di sosial media, jaga dan hindari memposting informasi pribadi secara berlebihan, dan yang terpenting jangan pernah membully orang lain.

Yang kedua adalah pencegahan oleh orang tua. Kasus cyberbullying di era modern ini sangat marak dikalangan remaja, maka peran orang tua sangat dibutuhkan untuk menjadi hal dasar yang mencegah terjadinya cyberbullying. Hal-hal yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah memberikan edukasi tentang penggunaan gadget atau gawai dan aktivitas online lainnya. Awasi kegiatan online yang dilakukan oleh anak. Beri anak pengertian tentang bahaya cyberbullying dan cara menghadapinya. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memang sangat diperlukan di dunia yang modern ini, tak hanya dampak positif namun juga perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membawa berbagai macam dampak negatif salah satunya cyberbullying.

Cyberbullying dapat terjadi dengan berbagai macam alasan dan motif. Menurut data dari UNICEF perundungan daring atau cyberbullying meningkat di masa pandemi covid-19 ini, karena anak lebih banyak menggunakan gadget atau gawai, sehingga rentan terjadinya perundungan di ranah digital.

Akibat dari tindakan cyberbullying sendiri memicu gangguan psikologis bagi korban dan yang lebih membahayakan lagi adalah jika korban mengakhiri hidupnya. Untuk itu diperlukan sebuah pengaturan dan pengawasan dalam hukum tentang pidana cyberbullying dan cybercrime. Di dalam perspektif hukum Indonesia, cyberbullying termasuk dalam tindakan pidana Pencemaran nama baik dan Penghinaan yang ditafsirkan oleh pasal 27 ayat 3 UU ITE.

Tindakan cyberbullying dan cybercrime dapat dicegah dengan dua cara yaitu melalui diri sendiri dan orang tua. Anak dan orang tua harus lebih memperhatikan lagi tentang aktivitas online yang mereka lakukan. Dan mereka harus memahami bahaya dan jahatnya ranah digital.

Oleh: Ragil Awalia Alpendri, Siswi SMAN 1 Pontianak

Diolah dari berbagai sumber

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed