by

Moderasi Beragama Jadi Kunci Terciptanya Kerukunan

Kabar Damai | Jumat, 29 Oktober 2021

Jakarta | kabardamai.id | Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyebut strategi yang ditetapkan pemerintah dalam mewujudkan Indonesia rukun dan toleran adalah melalui penguatan Moderasi Beragama yang menjadi salah satu program prioritas Kementerian Agama.

Dilansir dari laman Kemenag, pandangan ini disampaikan Menag saat menjadi pembicara dalam Webinar Memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2021 dengan mengusung tema Semangat Membangun Negeri dalam Harmoni Keberagaman Indonesia yang digelar Universitas Indonesia (UI) secara daring.

Selain Gus Yaqut, turut hadir sebagai pembicara Menteri Pemuda dan Olahraga, Wakil Menteri Keuangan, Rektor Universitas Indonesia, Ketua Harmoni Indonesia, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri, Dirjen Belmawa Kemendikbud Ristek serta diiukti pimpinan dan Sivitas Akademika UI.

“Strategi yang ditetapkan oleh pemerintah untuk mewujudkan Indonesia rukun adalah melalui program Moderasi Beragama. Moderasi menjadi kunci terciptanya kerukunan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun bangsa, bahkan di tingkat global. Kerukunan sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa dapat terwujud manakala masyarakat Indonesia memiliki pemahaman dan praktik keagamaan yang moderat,” kata Menag, Kamis, 28 Oktober 2021, dikutip dari kemenag.go.id (28/10).

“Untuk mewujudkan karakter moderat seperti itu, perlu ada kerjasama semua pihak. Juga perlu dilakukan dengan penuh kesabaran, komitmen, dan aktifitas secara terus-menerus sampai umat beragama yang moderat benar-benar dapat diwujudkan. Budaya moderasi perlu terus dikembangkan agar persatuan dan kesatuan bangsa tetap terjaga selamanya,” sambung Gus Menteri.

Baca Juga: Presiden Jokowi: GPIB Harus Berkontribusi Menguatkan Moderasi Beragama

Dalam helatan tersebut, Menag menyampaikan terima kasih kepada Rektor UI beserta jajarannya, yang memberikan perhatian khusus atas pentingnya kehidupan masyarakat yang harmonis guna mewujudkan Indonesia yang tangguh dan mandiri.

Hal ini, lanjut Menag, sangat penting untuk terus digelorakan dan ditanamkan dalam diri setiap masyarakat Indonesia, khususnya, seluruh warga kampus Universitas Indonesia, mengingat keberagaman yang dimiliki oleh masyarakat dan bangsa Indonesia.

 

Kehadiran Negara Cegah Perpecahan

Menurut Menag, Indonesia adalah bangsa besar. Berbagai suku bangsa, adat-istiadat, budaya, dan agama yang berbeda-beda, hidup di negeri yang sangat indah ini. Sehingga, kerukunan menjadi sangat penting untuk diwujudkan. Keberagaman yang ada itu harus dikelola secara baik, agar semua dapat berkembang dan saling melengkapi dalam mewujudkan kehidupan yang rukun.

“Masing-masing perlu mendapat ruang untuk berekspresi dan bereksistensi. Melalui ruang itulah dapat dibangun kesadaran hidup bersama agar tidak tumbuh egoisme yang menganggap diri mereka sebagai ‘kelompok superior’ dan merasa memiliki privilege. Di sinilah pentingnya negara hadir untuk mencegah timbulnya benih-benih perpecahan anak bangsa,” tandas Menag.

Menag pun mengajak kepada setiap warga kampus Universitas Indonesia untuk dapat menguatkan praktik kehidupan beragama yang terus menebarkan nilai-nilai kebajikan kepada semua umat manusia. Menag mengajak untuk menjadikan nilai-nilai luhur agama yang diyakini sebagai inspirasi dalam melaksanakan peran sosial kemasyarakatan.

“Sehingga, kebaikan yang dilakukan tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri tetapi juga bermanfaat bagi orang lain, dan pada akhirnya dapat memberi manfaat dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa,” terangnya.

Menag menambahkan, kesadaran sebagai warga negara penting untuk dimiliki oleh setiap masyarakat Indonesia, termasuk mahasiswa Universitas Indonesia. Warga negara yang baik adalah mereka yang patuh pada hukum negara serta patuh pada ajaran agamanya. Agama menjadi unsur penting dalam berbagai segi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Para mahasiswa perlu terus membangun kesadaran sebagai warga negara dengan hak dan kewajibannya, meningkatkan wawasan kebangsaan, citizenship, dan persamaan di depan hukum.

“Dengan cara ini, para mahasiswa sebagai bagian dari pemuda akan sadar bahwa dirinya juga adalah komponen bangsa yang punya tugas dan tanggungjawab bersama memajukan bangsa dan negaranya. Masa depan merupakan kelanjutan masa sekarang, dan masa sekarang adalah hasil masa lampau. Kehadiran mahasiswa dalam memikirkan dan menjawab tantangan kehidupan janganlah ditunggu sampai besok. Mahasiswa adalah masa depan Indonesia, dan Indonesia masa depan,” pungkas Menag. [kemenag.go.id]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed