by

Moderasi Beragama dalam Tantangan Dinamika Zaman Masyarakat Hindu

Kabar Damai I Senin, 19 Juli 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Moderasi beragama penting karena mengikuti dengan adanya perubahan. Dalam Hindu, kehidupan beragama harus berkaitan dengan dharma sidyarta sebagai suksesnya pengalaman Dharma untuk mewujudkan cita-cita bersama yang disebut dengan Menawa Dharma Sastra VII,10.

Lima dasar pertimbangan tersebut adalah Iksa artinya tujuan atau cita-cita, Sakti artinya kemampuan, Desa artinya wilayah,  Kala artinya waktu dan Tattwa artinya hakekat kebenaran.

Untung Suhardi, Pelita Dharma dalam kanal Bimas Hindu menjelaskan tentang moderasi beragama dan tantangan tersebuat dalam masyarakat Hindu.

Diawal pemaparannya, ia menyatakan bahwa kehidupan manusia adalah berkah dan pemberian Tuhan yang tidak dapat digantikan oleh apapun.

“Ketika kita berbicara tentang manusia, kehidupan manusia adalah kehidupan yang penuh berkah yang sangat luar biasa. Dari zaman masa lampau, manusia sudah dibekali dengan indriya yang sangat luar biasa yang sampai sekarang para ahli tekhnologi tidak bisa menyamakan dengan satu alat yang ada dalam diri manusia yaitu fikiran,” ungkapnya.

Baca Juga: Anil Kumar, Pria Hindu yang Tulis Kaligrafi Alquran di 200 Masjid India

Menurutnya pula, manusia dalam keberadaannya mempunyai keunggulan-keunggulan sehingga dari masa lampau manusia disebut dengan homo religious, karena tidak hanya bersifat tanggung jawab secara horizontal kepada manusia tapi kepada yang maha kuasa.

Kehidupan manusia juga diera globalisasi saat ini membutuhkan tempaan, tatanan yang tidak mudah. Karena sebagai umat Hindu dan juga generasi muda yang ada diseluruh nusantara dan dunia mengalami pandemic yang saat ini dialami oleh seluruh bangsa-bangsa yang ada di dunia.

Melalui hal-hal yang telah diungkapkan diatas, maka menurut Untung Suhardi penting bagi setiap manusia untuk kembali pada hakikat manusia itu sendiri.

“Dengan adanya kejadian ini maka hal yang harus kita lakukan ialah kembali pada hakikat kita, manusia sebagai makhluk spiritual,” tambahnya.

Perkembangan zaman menjadi hal yang tidak dapat dielakkkan. Menurut Untung Suhardi perlu pemahaman dan kesadaran untuk memfilter hal tersebut.

“Ditengah-tengah era saat ini, banyak sekali godaan-godaan yang menempa diri kita, sehingga jika kita tidak mampu untuk memfilter diri kita sendiri maka kebanyakan kita akan terjebak pada lembah kesengsaraan dan penderitaan,”.

“Kemajuan literasi media dan literasi digital yang saat ini merebak keseluruh belahan dunia, bahkan generasi muda saat ini yang selalu belajar harus memiliki filter dalam diri. Termasuk halnya dalam kehidupan beragama, kehidupan sosial, ekonomi, politik dan sebagainya. Sehingga hal yang kita perlukan saat ini adalah bagaimana kita mempunyai sifat untuk memilah mana yang patut dan tidak patut,” terangnya panjang lebar.

Menurut Untung pula, ketika berbicara tentang moderasi beragama, tidak sebatas memoderinisasi agama tetapi bagaimana mengikuti kearifan lokal yang ada, beragama sesuai dengan dimana kita berada.

Indonesia terdiri dari berbagai suku, agama, budaya, ras dan lain sebagainya. Termasuk dalam sosial kehidupan Hindu. Ada Hindu Toraja, Hindu Jawa, Hindu di Kaharingan, Hindu Maluku, Papua dan sebagainya. Oleh karenanya, sebagai Hindu Itulah penting untuk menerapkan moderasi beragama didalam intern sebagai umat Hindu itu sendiri.

Lebih jauh, ia menjelaskan tentang lima hal yang harus diterapkan dalam Hindu.

Pertama adalah iksa, disana ada tujuan, tujuan manusia tidak hanya menghidupi diri  sendiri tapi membuat kehidupan secara lebih luas. Hidup bertetangga dengan orang lain yang memiliki cara pandang keagamaan yang berbeda tetapi bagaimana merangkul agar dapat mencapai tujuan sebagai bangsa.

Kedua adalah kekuatan, setiap manusia punya kekuatan untuk menggali kemampuan didalam diri masing-masing. Didalam pandangan Aristoteles bahwa manusia adalah zoon politicon yang artinya tidak hanya manusia secara individu tetapi hidup berdampingan dengan yang lain.

Ketiga adalah tempat, ada peribahasa yang sangat adiluhur ketika mengingat tempat yaitu  ‘dimana bumi kita pijak disitulah langit kita junjung’. Artinya dimanapun berada kita harus menghormati kearifan lokal yang ada, menjunjung budaya yang ada.  Hormati budaya dan tradisinya.

Keempat adalah kala atau waktu, berbicara tentang kehidupan pasti akan ada yang dibatasi oleh waktu. Karena didalam waktu ada perubahan, didalam cerita Mahabarata dijelaskan bahwa siapa yang mengikuti perkembangan zaman dialah yang akan mengikuti tren dimana dia hidup. Ketika seseorang mampu mengikuti tren dan perkembangan zaman yang ada maka dia akan hidup dalam masyarakat itu.

Kelima adalah Hakekat Kebenaran, keberadaan kehidupan manusia adalah hidup yang penuh dengan cobaan, penuh dengan hal-hal yang harus diperbaiki. Kehidupan manusia harus selalu berdampingan dan dilingkupi oleh kebahagiaan. Oleh karenanya  harus menjadi manusia yang mampu berdampingan dengan yang lain.

Menjadi dua hal yang terikat antara moderasi dan juga perubahan, oleh karenanya Untung menyatakan agar senantiasa melalukan filter dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

“Membicarakan moderasi dan perubahan tidaklah bisa kita lepas, akan tetapi adalah kita harus mengikuti perubahan zaman tetapi perubahan zaman ini harus diiringi dengan niat dan filter dari dalam diri kita sendiri. Memfilter hal-hal yang tidak perlu didalam hidup kita,” tuturnya.

Selain itu, ia juga berpesan agar semua masyarakat agar dapat mengikuti perkembangan zaman namun juga tidak lupa dengan kearifan lokal yang ada.

“Yang harus kita lakukan adalah menjadikan diri kita berubah menjadi pribadi yang mengikuti perkembangan zaman tetapi berpijak pada kearifan lokal,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed