by

Moderasi Beragama adalah Cara Beragama dengan Jalan Tengah

Kabar Damai I Kamis, 19 Agustus 2021

Mataram I kabardamai.id I Radikalisme dan terorisme merupakan ancaman nyata dari negara, paham radikalisme dan terorisme terjadi karena ideologi yang mengalami distorsi, idiologi yang menyimpang dengan menipulasi agama. Radikalisme dan terorisme menjadi musuh agama dan negara. Tindakannya, perbuatan sikap dan perilakunya bertentatangan dengan prinsip-prinsip agama yang penuh kedamaian. Karena itu perlu enerapkan moderasi beragama yang merupakan cara beragama dengan jalan tengah.

Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kasi Kerjasama Amerika BNPT, Letkol CZi Yaenurendra HAP dalam kegiatan webinar Guru Pelopor Moderasi Beragama di Sekolah, Rabu (18/8) mengatakan,

“Pelaku terorisme kerap membaur dalam kehidupan di tengah masyarakat, karena itu kita dituntut menjaga kewaspadaan dan keselamatan negara dari paham radikalisme dan terorisme,” ujarnya.

Dengan kegiatan webinar ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman tentang bahaya radikalisme dan peran guru dalam menangkal radikalisme di kalangan siswa didik.

Ketua FKPT NTB, Dr Drs H Lalu Syafi’i, MM dalam sambutannya mengajak kalangan guru untuk meningkatkan keseriusan dalam keikutsertaan penanganan radikalisme dan terorisme. Ancaman terorisme disebutnya terus mengalami perkembangan.

Kesadaran untuk menanggulangi terorisme merupakan tanggung jawab bersama, tak terkecuali kalangan tenaga pendidik. Dibutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat, agar permasalahan terorisme bisa diatasi dengan baik.

Ketua MUI NTB, Prof Syaiful Muslim saat menyampaikan materi “Pencegahan Terorisme Berbasis Pemahaman Agama dan Budaya’’ menyebutkan langkah-langkah yang bisa dilakukan dalam pencegahan paham radikalisme, yaitu menyampaikan dakwah kepada umat dengan mengembangkan Islam Wasathiyah dan moderasi beragama.

Baca Juga: ASN, DWP dan Organisasi Keagamaan Jadi Agen Moderasi Beragama

Islam Wasathiyah menurut MUI adalah ajaran Islam sebagai rahmatanlil alamin, rahmat bagi segenap alam semesta.
Dijelaskannya, Islam Wasathiyah adalah ‘Islam Tengah’ untuk terwujudnya umat terbaik. Ciri-ciri Islam Wasathiyah yaitu Tasawassuh ( mengambil jalan tengah), Tawasun (Berkeseimbangan), I’tidal ( lurus dan tegas), Tasamuh (toleransi), Musawah (egaliter), Syura (musyawarah), Islah (reformasi), Aulawiyah (mendahulukan yang prioritas), Tathawwur wa ibtikar (dinamis dan inovatif), Tahadhdhur (berkeadaban).

‘’Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan umat Islam pertengahan (wasath) dalam segala urusan agama, seperti dalam hal kenabian, syariat dan lainnya,’’ tandasnya.

Sedangkan yang dimaksud dengan moderasi beragama yaitu bagaimana agama disikapi dan dipahami pada tataran esensi serta substansinya. Sebab, semua agama itu mengajarkan ajaran yang moderat. Tidak ada agama yang mengajarkan pada ummat untuk bertindak ekstrim atau di luar batas.
‘’Moderasi Beragama sangat penting dijadikan framing dalam mengelola kehidupan beragama pada masyarakat Indonesia yang plural dan multicultural. Terlebih seiring perkembangan teknologi informasi, di zaman serba instan seperti sekarang , sangat dimungkinkan meluasnya kompleksitas masyarakat dalam beragama,’’ katanya.

Untuk itu, Syaiful Muslim mengajak untuk bersama menjaga keutuhan bangsa yang beragam suku, bangsa, adat istiadat dan agama dengan cara memberikan pemahaman tentang kebangsaan, NKRI, Pancasila dan UUD 45. Serta harus terus menjaga kerukunan umat beragama di antara seluruh umat agama di Indonesia sehingga tercapai masyarakat yang adil dan makmur.

“Kita juga harus terus menerus menyampaikan melalui pendidikan sehingga peserta didik dapat memahami akar masalah radikal teroris yang jelas dan disampaikan oleh guru-guru yang berkompeten,’’ sebutnya.

Sementara itu Yaenurendra didaulat sebagai pembicara menyampaikan materi tentang “Kebijakan dan Strategi Pencegahan Terorisme di Lembaga Pendidikan”.

Ia menjelaskan ciri-ciri seseorang yang terpapar radikalisme dan terorisme adalah intoleran, eksklusif dan tertutup. Mereka sering mengklaim kebenaran tunggal dan menghalalkan segala cara. Ciri lainnya kelompok radikal dan teroris adalah anti Pancasila dan anti NKRI menganggap demokrasi sebagai ancaman.

Adapun pola penyebaran radikalisme dan terorisme biasanya dilakukan tidak langsung, yakni proses penyebaran paham yang menggunakan media perantara seperti medsos, media cetak dan elektronik. Sedangkan penyebaran tidak langsung menggunakan tatap muka seperti pertemuan tatap muka seperti pertemuan tertutup, kajian, hubungan guru dan murid, pertemanan hubungan kekeluargaan dan hubungan lawan jenis.

Lebih lanjut Yaenurendra mengungkapkan langkah yang dilakukan untuk menanggulangi radikalisme yaitu hard approach penegakan hukum, yaitu pendekatan yang menekankan pada penjaminan dan penegakan yang dilakukan oleh Polri dan TNI.

Sedangkan soft approach yaitu pendekatan yang komprehensif, persuasive dan penuh kelembuatan kasih sayang dalam penyelesaian masalah atau konflik. Pendekatan ini dibagi menjadi tiga yaitu pencegahan, penangkalan dan deradikalisasi.

‘’Ini dilakukan oleh semua komponen masyarakat termasuk para guru dan orangtua,’’ tandasnya.

Sedangkan Sholehuddin membahas tentang cara “Menjadi Guru Pelopor Moderasi Beragama di Sekolah”. Ia menjelaskan tujuan moderasi beragama yaitu untuk mengajak kelompok ekstrem dalam mengajarkan agama, serta untuk kembali pada esensi agama yaitu memanusiakan manusia.

Kemudian Sholehuddin menjelaskan arti moderasi beragama atau moderasi agama. Menurutnya moderasi beragama tidak sama dengan moderasi agama.

‘’Agama tidak perlu dimoderasi karena agama sudah mengajarkan prinsip moderasi, yaitu keadilan dan keseimbangan. Jadi bukan agama yang harus dimoderasi, melainkan cara penganut atau umat beragama dalam menjalankan ajaran agamanya. Jadi yang benar adalah moderasi beragama,’’ ulasnya.

Dikatakannya, moderasi adalah jalan tengah. Moderasi juga berarti sesuatu yang terbaik. Sesuatu yang ada di tengah biasanya berada diantara dua hal yang buruk. Dengan moderasi beragama, seseorang tidak ekstrem dan tidak berlebih lebihan dalam menjalan agamanya. “Moderasi beragama yaitu cara beragama dengan jalan tengah sesuai pengertian moderasi tadi,’’ pungkasnya.

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed