by

Mobilitas Teknologi: Sarana Pendidikan Damai dengan Dialog Antar Agama

-Opini-32 views

Oleh: Korikatul Afifah

Tahun baru 2019, awal di mana serangkaian petaka berupa wabah membanjiri seluruh dunia yang lebih dulu meratakan tanah Wuhan China.

Meski Indonesia termasuk belahan bumi paling akhir yang terdampak olehnya, tetapi butuh waktu lama dalam tahap pemulihan diri.

Pemerintah telah meluncurkan berbagai kebijakan demi meminimalisir kekacaun masyarakat baik dari espek ekonomi, SDA, kebutuhan pokok, medis (tenaga kerja, obat-obatan, alat dan sarana kebersihan). Penulis sendiri tidak dapat memungkiri bahwa pemerintah memang cukup sigap dalam upaya penanganan serta pemerataan bantuan.

Mulai dari pembebasan biaya listrik, dana setiap bulan, sembako (beras, kacang-kacangan, daging), masker dan sebagainya.

Beruntung masa ini merupakan era ketika teknologi yang menjadi dasar dan pusat perhatian telah mengalami perkembangan sangat pesat dari tahun-tahun pendahulunya.

Belum lagi generasi milenial yang meski konotasinya buruk dalam hal penyuka segala barang instan, menangani segala sesuatu tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga atau membuang waktu, intinya mempersingkat waktu dan meminimalisir tenaga untuk hasil yang terlampau ekspektasi.

Ketika karakteristik tersebut dianalisa kembali sebenaranya itulah kunci utama mengapa zaman milenial dapat membawa pengaruh besar pada peningkatan kualitas peradaban.

Teknologi merupakan hasil dari penggabungan inovasi, kreativitas dan intelektualitas sebagai pemberi dukungan terbesar pada tubuh yang malas.

Saat penemuan tersebut bertatapan dengan pandemi corona, situasi yang tidak memungkinkan bagi setiap individu untuk bertemu, berkerumun, bersosialisasi, berjabat tangan atau menatap wajah tampan dan cantiknya sang pujaan, dari semua kondisi yang serba tidak bisa, di sinilah teknologi justru begitu bersinar.

Aplikasi yang dirancang secara khusus memberi dukungan bagi para pengguna untuk senantiasa dapat menjalin kekeluargaan yang terpisahkan jarak (sekedar dinding sampai lautan lepas) baik dalam artian tekstual atau lebih luas lagi hingga menjangkau hubungan antar agama.

Mustahil mengelak dari kondisi sesungguhnya Indonesia, Negara dengan seluruh keanekaragaman suku, ras, budaya, bahasa dan agama meletakkan prinsip kerukunan, keutuhan, kesatuan dan keharmonisan pada satu unsur yaitu komunikasi. Dari uraian-uraian sebelumnya telah dengan jelas menggambarkan betapa komunikasi dalam menjalin hubungan menjadi sungguh mudah oleh peran teknologi.

Tanpa bermaksud untuk iklan; Whatsapp, FB, Instagram, Twitter, Line, Massanger sampai pada YouTube sekalipun, ialah banyaknya pilihan yang dapat diakses sebagai sarana komunikasi virtual dengan orang kedua dan ketiga tanpa melanggar ketetapan juga kebijakan pemerintah. Entah sekedar berbalas chat, meninggalkan komentar pada status yang dipost bahkan video call demi melepas rindu yang mengendap sebab tersimpan terlalu lama.

Tanpa perlu mengkhawatirkan kesinambungan terjalinnya hubungan baik antar umat beragama, walaupun tidak lagi dapat bertemu dalam kesempatan baik membahas perbedaan dan persamaan satu sama lain layaknya seminar dan ajang kajian lainnya.

Dialog antar agama bukanlah perihal yang mudah retak hanya karena tamu kecil seperti corona, sekali lagi teknologi dengan bermacam aplikasi di dalamnya menjadi tokoh utama menyintas serta mempertahankan hubungan komunikasi dan timbal balik tanpa kendala yang begitu terasa.

Baca Juga: Active Against Radicalism by Peace Education

Dulu, agama diperbincangkan dan menjadi topik diskusi yang kaku dengan bermediakan pemberitaan cetak selebaran, rutinitas pengajian yang monoton ditambah konten yang membosankan juga terlalu fanatis pada satu golongan. Sama sekali tidak mendefinisikan kriteria pendidikan damai seperti yang dibangga-banggakan.

Kini, dunia memperkenalkan manusia pada era di mana segala macam aspek termasuk agama berjalan sesuai dengan alur modern berinisial tekonogi. Media pendukung relasi di balik himbauan social distancing, mempertajam sudut pandang pada kemajemukan pemahaman antar agama, tanpa suara lantang yang sengaja ditinggikan saling beradu kebajikan.

Tidak ada alasan untuk menjadi risau karena seminar bukan ditiadakan, pembelajaran tidak dinon-aktifkan, pengajian bukan dibubarkan, tetapi dialihkan. Tiga aktifitas tersebut merupakan sarana bagi setiap orang untuk mengartikulasikan atau sekedar memperdalam pemahaman keagamaannya dengan argumentasi berdasar, tanpa perlu sebilah pedang, otoritas, pangkat serta dompet tebal. Pendidikan berbasis damai agama ialah telaah ajaran dengan tidak saling menjatuhkan namun menyatukan, tidak membandingkan tapi menyetarakan, bukan pula dengan beradu otot tetapi pemahaman. Dialog antar agama merupakan bentuk kegiatan yang di dalamnya memuat pendidikan, kajian, dan analisa agama yang diperbincangkan dengan jalan damai. Untuk mengendlikan situasi tetap terkendali maka harus mematuhi ramu-rambu layaknya diskusi ilmu pada umumnya yakni menggunakan rujukan dan argumentasi bersifat ilmiah bukan sekedar spekulasi apalagi pendapat pribadi.

Saat ini, Live dan meet menjadi salah satu fitur pada teknologi yang paling dibutuhkan dalam menjalin komunikasi baik dalam kepentingan bisnis, pembelajaran hingga seminar, meski telah banyak digunakan jauh sebelum corona ada, namun akhir-akhir ini seolah berubah status menjadi wajib digunakan sehingga tidak mungkin terlewatkan. Beberapa aplikasi yang menyediakan fitur tersebut seperti Instagram, Youtube, Facebook, Zoom dan lain sebagainya menjadi pilihan yang paling banyak diminati. Dan semua itu dapat diakses melalui smartphone, laptop, aipad, tablet, computer dan beberapa teknologi canggih lainnya. Virtual

Meski bukan berarti treatment semacam ini terbebas dari kecacatan atau problema, tentu masih ada beberapa alasan yang dapat sedikit memberi guncangan seperti kuota (seret dana), signal (wilayah terpencil) atau listrik (pemadaman). Tidak ada pilihan tanpa risiko dan hambatan, namun kembali lagi pada niat dan tekad kuat, bukan pandemi, situasi, kondisi, waktu ataupun jarak yang mempersulit komunikasi tetapi naluri sendiri.

 Korikatul Afifah, Mahasiswi Prodi Studi Agama-Agama UIN Sunan Ampel Surabaya

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed