by

Miliki Peran Strategis, Media Keagamaan-Lintasagama Perlu Diperkuat

Kabar Damai | Jumat, 16 Juli 2021

Jakarta | kabardamai.id | Ketua Umum Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Pdt. Henriette T. Hutabarat-Lebang  mengatakan bahwa  realitas keberagaman yang ada  adalah keniscayaan atau anugerah yang perlu disyukuri dengan ditopang sikap gotong royong di masyarakat trasidisional kita.

“Namun belakangan ini sikap itu dianggap selalu ada harganya. Di tengah situasi itu peran media sangat strategis, baik menyampaikan sikap positif dan negatif. Sehingga media harus menumbuhkembangkan agama masing-masing dan termasuk transformasi pandangan dengan membanjiri konten-konten yang positif dan melihat keutuhan dari semua agama. Peran jurnalis lintas iman sangat strategis untuk menopang dengan menyebarkan kabar baik ke masyarakat atau mempublikasikan praktik-praktik baik yang terjadi di desa atau kota serta jejaring lintas iman perlu diperkuat,” ujarnya, dikutip dari pgi.or.id.

Baca Juga: KH Masduki Baidowi: Sistem Hypno Writing Media Keagamaan untuk Perangi Hoaks

Hal itu ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam sarasehan Peran Media Keagamaan dalam Mewujudkan Harmonisasi Keberagaman yang diselenggarakan oleh MUI dan Institut Leimena pada Rabu, 14 Juli 2021.

Senada dengan Henriette, Matius Ho, mewakili Institute Leimena menyampaikan jurnalis lintas agama jarang diperhatikan yang sebenarnya amat penting perannya karena media keagamaan berpengaruh pada pemahaman pada masyarakat.

“Sehingga perlu terus menerus memahami agama, juga memahami titik temu antar agama dan menghormati antar agama. Peran media keagamaan bisa membangun hal ini,” katanya.

Melansir dari laman PGI, dalam sambutannya Wakil Ketum MUI Marsudi Syuhud mengatakan harmonisasi keberagaman termasuk nikmat dari Allah SWT yang tidak boleh berhenti menyebarkannya.

“Nikmat itu dari Tuhan dan harus diceritakan dan jangan menceritakan negatif,” tandasnya.

Sementara, Masduki Baidlowi, Ketua MUI bidang Informasi dan Komunikasi Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan perlu memperbanyak liputan keberagaman di era post truth ini yang dibanjiri informasi lewat media sosial.

“Sangat penting untuk berbicara di mana media sosial sebagai medium atau tool yang sangat strategis. Yang penting yang perlu diwaspadai dalam medsos, kita menghadapi persoalan algoritma kurasi atau bagaimana sebenarnya gaung dalam ruang. Sehingga nantinya bersikap ekslusif guna mengantisipasi mereka yang terkena bias. Maka untuk membangun nilai kritis harus terus menerus disampaikan informasi-informasi nilai-nilai yang baik, yang sesuai fakta lewat media keagamaan,” terangnya.

Narasumber lain, Js. Kristan, pengajar Character Building di Universitas Bina Nusantara dan agama Khonghucu di Universitas Negeri Jakarta menyampaikan publikasi agama yang mengedepankan toleransi perlu dikembangkan dan diperbanyak sehingga mengurangi publikasi yang merusak toleransi.

“Hal ini perlu diketahui oleh pengajar agama. Jika agamawan berhenti untuk melakukan penyebaran kebaikannya maka dia telah meninggalkan visi keagamaanya,” jelasnya.

Menjadi Penentu Harmoni dalam Kehidupan Beragama

Di sesi ke dua, dalam pembahasan Peran Media Keagamaan dan Membangun Relasi Beragama,  Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah mengatakan ada dua hal soal yang perlu diperhatikan. Yaitu harus disadari sepenuhnya bahwa media keagamaan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan bagaimana harmoni dalam kehidupan beragama di era digital.

“Media-media keagamaan itu dikembangkan dan dipublikasi untuk kepentingan internal, bersifat komunikasi dan pembinaan iman dan kaitan lain fungsi-fungsi kelembagaan. Pada perkembangannya yang disampaikan dalam lewat website dan medsos dan tidak domain internal lagi tapi domain siapa saja. Ini memang situasi yang tidak seharusnya terjadi tapi tidak bisa dihindari. Media menjadi salah satu sarana mediator bagaimana hal-hal yang baik berkaitan dengan agama dan kerjasama antar umat beragama perlu mendapat porsi yang proporsional,” ujarnya.

Hal kedua, menurut Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP) ini, media yang berperan sebagai interfaith sangat kurang. Karena masih dalam bentuk komunikasi antar lintas beriman.

“Media yang isinya dari berbagai hal kelembagaan agama masih sangat kurang dan ini perlu menjadi pemikiran bersama,” imbuh Mu’ti.

Terkait konten-konten positif dan isu-isu lintasagama, bagi DAAI TV bukan hal yang baru. Paulus Florianus dari DAAI TV menyampaikan bahwa pihaknya menyiarkan konten-konten perdamaian dan gotong royong bagi penontonnya.

“Konten-konten yang kami produksi adalah mengangkat hal-hal positif, keberagaman dari berbagai agama di seluruh Indonesia. Dan kami berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk memberikan dampak positif pada masyarakat,” ungkap Paulus.

Hal yang serupa juga disampaikan Jesica Tanoesudibyo mewakili TV MNC bahwa agama dan media punya peran yang penting dalam kehidupan manusia. Media keagamaan jadi sumber hikmat dan kekuatan bagi banyak orang di masa ini.

Mengajak Pembaca Berpikir Terbuka

Ketua Dewan Pers periode 2016-2019 Josep Adi Prasetyo menjelaskan kondisi media saat ini yang mengandalkan media sosial sebagai sumber pemberitaannya.

“Media sekarang lebih banyak mengandalkan medsos untuk pemberitaannya. Banyak wartawan yang miskin untuk mengklarifikasi, konfirmasi untuk pemberiataannya. Dan Media keagamaan mempunyai ciri media komunikasi antar umat yang bertujuan menginformasi keagamaan dan keimanan,” katanya.

Josep menambahkan banyak pengelolaan media keagamaan bukan wartawan profesional yang menyulitkan sesuai UU Pers.

“Kami melihat bahwa kluster media keagamaan, pers mahasiswa, termasuk kehumasan dan media NGO itu tidak bisa disebutkan harus memenuhi syarat kompetensi. Apa yang terjadi, media keagamaan bisa menjadi hal yang negatif, yaitu mengajak pembaca untuk berpikir sempit atau sektarian. Dan yang paling bahaya mengunakan ayat-ayat kitab suci untuk membenarkan ucapan tokoh yang menyebarkan. Tapi media keagamaan bisa menjadi hal yang positif, untuk mengajak pembaca berpikir terbuka terhadap hal-hal yang baru dan soal keberagamaan,” terangnya.

Ia menyarankan perlu terus didorong membuat liputan keberagaman, rubrik khusus, dan menyajikan informasi khusus iptek dan sains.

“Saya juga menyambut baik jika MUI dan Institut Leimena membuat sebuah grup dari berbagai media keagamaan dan membuat liputan khusus keberagaman, maka efeknya akan luar biasa,” harapnya.

Keberadaan Kabar Damai

Meski belum genap setahun, keberadaan Kabar Damai tak hanya telah mewarnai blantika media keagamaan yang ada di Indonesia. Dalam usianya yang masih belia media ini telah turut serta dalam menyampaikan informasi-informasi positif yang terkait isu-isu keagamaan, toleransi dan perdamaian.

Tak hanya itu, melalui berbagai deks/rubric yang ada, Kabar Damai juga berperan menjadi media edukatif bagi masyarakat Indonesdia. Informasi-informasi yang disajikan kaya dengan pandangan dan penceragan dari beragam narasumber dari berbagai latar belakang agama.

Di media tersebut masyarakat juga dapat memperkaya wawasan keagamaan dan spirit kemanusiaan dari ajaran berbagai agama yang disajikan secara berkala melalui rubric Religipedia. [pgi/kabardamai]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed